Berandasehat.id – Jumlah penambahan kasus harian COVID-19 di Indoneisa meroket, demikian juga angka kematian. Jumlah pasien meninggal dunia akibat COVID-19 mencapai 852 orang dalam 24 jam terakhir. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Kamis (8/7), menyebut terdapat 63.760 orang total orang yang meninggal dunia akibat pandemi di seluruh Indonesia. Penambahan sebanyak 852 kasus pasien meninggal tersebut tersebar di 32 provinsi. Jawa Tengah merupakan provinsi yang paling banyak kasus kematiannya dalam 24 jam, yaitu 229 orang. Satgas juga melaporkan dalam 24 jam terakhir terdapat tambahan 38.391 kasus baru, sehingga total hingga kini 2.417.788 kasus COVID-19 di Indonesia sejak Maret 2020.

Dengan meluasnya penularan dan jatuhnya korban COVID-19 di Tanah Air, Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, mengatakan selama masa PPKM Darurat, selain menggalakkan 3T (testing, tracing, treatment) dan vaksinasi, masyarakat juga harus menjaga imunitas tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang agar imunitas tubuh tetap terjaga.

Bicara soal vaksin COVID-19, sejauh ini vaksin yang tersedia di Indonesia telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memiliki efikasi (khasiat/lkemanjuran) yang memadai. “Efikasi  AstraZeneca mencapai 70,4 persen dan Sinovac sebesar 65,3 persen berdasarkan uji klinis. Angka ini sudah memenuhi persyaratan WHO yaitu di atas 50 persen,” ujar Prof Iris dalam Dialog Produktif KPCPEN yang ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (8/7).

Vaksinasi menjadi penting di tengah melonjaknya kasus COVID-19 di Tanah Air. Hingga kini, tenaga kesehatan masih berjuang berada di garda depan merawat pasien yang jumlahnya terus bertambah. Menyoal sejumlah naskes yang masih terpapar COVID-19 meskipun sudah melakukan vaksinasi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi FKUI mengatakan vaksinasi tidak bisa memberikan perlindungan 100%. “Banyak faktor yang berperan, misalnya gizi, istirahat cukup juga stres. Nakes mengalami stres yang tinggi di masa pandemi, dan hal ini bisa menurunkan imunitas tubuh sehingga mudah terserang penyakit,” ujarnya.

Guna meminimalkan terpapar COVID-19, selain melakukan vaksinasi, penting untuk menjalankan protokol kesehatan ketat. “Tidak hanya 5M, namun 6M yaitu ditambahkan dengan tidak makan bersama. Karena saat makan bersama pasti buka masker dan ini menjadi celah penularan,” ujar Prof Iris.

Pemakaian masker juga harus benar dan sebaiknya memakai masker ganda. ‘Pakailah masker bedah dan kemudian masker kain untuk memberikan perlindungan optimal. Pastikan semua area tertutup dengan baik. Usahakan di rumah juga mengenakan masker sebagai upaya pencegahan. Kalau selama ini rutin makan bersama sebaiknya selama pandemi makan bergantian dulu mengingat klaster di rumah bisa terjadi,” ujar Prof Iris.

Menyoal tentang wacana vaksin tahap ketiga untuk nakes, Prof Iris mengatakan, untuk situasi Indonesia saat ini, lebih baik mengejar selesaikan vaksinasi 2 dosis guna mencapai herd immunity, yaitu 70% dari populasi atau setara 181,5 juta warga mendapatkan vaksin COVID-19. “Ini dulu yang dikejar, jika itu sudah tercapai, kemungkinan bisa diberikan vaksin ketiga untuk nakes dan frontliner dengan menggunakan platform vaksin yang berbeda/sama dengan vaksin sebelumnya,” tandasnya. (BS)