Berandasehat.id – Penelitian baru dari Prancis menambah bukti bahwa vaksin COVID-19 yang digunakan secara luas masih menawarkan perlindungan yang kuat terhadap mutan virus corona yang menyebar dengan cepat di seluruh dunia dan sekarang merupakan varian paling umum di Amerika Serikat, juga negara-negata lain.

Varian Delta yang awalnya terdeteksi di India, melonjak di dalam populasi dengan tingkat vaksinasi yang rendah. Pada Kamis silam (8/7), Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), mengatakan bahwa itu mengarah pada “dua kebenaran” dimana populasi yang telah diimunisasi di Amerika kembali normal sementara rawat inap meningkat di tempat lain. “Peningkatan cepat ini meresahkan,” ujarnya.

Beberapa minggu yang lalu varian Delta menyumbang lebih dari seperempat kasus baru AS, tetapi sekarang menyumbang lebih dari 50% — dan di beberapa tempat, seperti bagian dari Midwest, bahkan mencapai 80%.

Para peneliti dari Institut Pasteur Prancis melaporkan bukti baru pada Kamis lalu bahwa vaksinasi penuh sangat penting. Dalam tes laboratorium, darah dari beberapa lusin orang yang diberi dosis pertama vaksin Pfizer atau AstraZeneca “hampir tidak menghambat” varian Delta, tim tersebut melaporkan dalam jurnal Nature. Tetapi berminggu-minggu setelah mendapatkan dosis keduanya, hampir semua peserta memiliki apa yang oleh para peneliti dianggap sebagai dorongan kekebalan yang cukup kuat untuk menetralkan varian Delta — bahkan jika itu sedikit kurang kuat daripada melawan versi virus sebelumnya.

Para peneliti Prancis juga menguji orang-orang yang tidak divaksinasi yang selamat dari serangan virus corona, dan menemukan antibodi mereka empat kali lipat lebih kuat melawan mutan baru. Tetapi dosis vaksin tunggal secara dramatis meningkatkan tingkat antibodi mereka — memicu perlindungan silang terhadap varian Delta dan dua mutan lainnya. Hal ini mendukung rekomendasi kesehatan masyarakat agar para penyintas COVID-19 divaksinasi daripada mengandalkan kekebalan alami.

Eksperimen laboratorium menambah data dunia nyata bahwa mutasi varian Delta ternyata tidak menghindari vaksin yang paling banyak digunakan di negara-negara Barat, tetapi menggarisbawahi bahwa sangat penting untuk mendapatkan lebih banyak imunisasi di dunia sebelum virus berkembang lebih jauh.

Para peneliti di Inggris menemukan dua dosis vaksin Pfizer, misalnya, 96% protektif terhadap rawat inap dengan varian Delta dan 88% efektif melawan infeksi simtomatik (dengan gejala). Temuan itu digaungkan akhir pekan lalu oleh para peneliti Kanada, sementara sebuah laporan dari Israel menyarankan perlindungan terhadap infeksi Delta ringan mungkin telah turun lebih rendah, menjadi 64%.

Apakah yang divaksinasi lengkap masih perlu memakai masker di tempat-tempat di mana varian Delta melonjak? Di Amerika, CDC menyatakan bahwa orang yang divaksinasi lengkap tidak perlu melakukannya. Bahkan sebelum varian Delta muncul, dan orang belum mendapatkan vaksin lengkap – namun bukti terbaik menunjukkan bahwa jika orang yang divaksinasi tetap terkena virus corona, mereka akan memiliki kasus yang jauh lebih ringan.

“Izinkan saya menekankan, jika telah divaksinasi, Anda memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi,” kata Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka AS.

Di AS, laju kasus telah meningkat selama berminggu-minggu dan tingkat rawat inap mulai naik sekira 7% dari rata-rata tujuh hari sebelumnya.

Namun, kematian rata-rata tetap turun, yang diyakini beberapa ahli setidaknya sebagian karena tingkat vaksinasi yang tinggi pada orang berusia 65 tahun ke atas—yang termasuk di antara yang paling rentan terhadap penyakit parah, demikian WebMD. (BS)