Upaya Keras Bernapas pada Pasien Covid-19 Bisa Cederai Paru

Berandasehat.id – Dampak dari upaya untuk mendorong pernapasan pada paru pasien yang menderita gagal pernapasan akut akibat COVID-19 telah diselidiki oleh para peneliti di University of Warwick, yang menilai kemungkinan terjadinya cedera paru.

Meskipun ventilasi mekanis adalah intervensi yang menyelamatkan jiwa, potensi ventilator mekanik untuk lebih merusak paru yang sudah sakit dengan menerapkan tekanan dan kekuatan yang berlebihan sekarang dikenal baik di antara dokter perawatan intensif, yang menerapkan protokol khusus untuk meminimalkan risiko yang disebut cedera paru yang diinduksi ventilator.

Sejak awal pandemi saat ini, beberapa dokter berpendapat bahwa cedera serupa berpotensi dihasilkan oleh upaya pernapasan yang meningkat pada pasien COVID-19 yang bernapas secara spontan.

Istilah cedera paru yang ditimbulkan sendiri oleh pasien adalah konsep kontroversial dalam komunitas perawatan intensif, dimana beberapa dokter bersikeras tidak ada bukti keberadaannya, sementara yang lain berpendapat bahwa pasien harus ditempatkan pada ventilator mekanik untuk menghindarinya.

Ada perdebatan yang sedang berlangsung tentang potensi peningkatan upaya pernapasan untuk menghasilkan cedera paru yang ditimbulkan sendiri oleh pasien yang bernapas secara spontan dengan gagal pernapasan hipoksemia akut COVID-19, namun bukti klinis langsung yang menghubungkan peningkatan upaya inspirasi dengan cedera paru masih langka.

Dalam makalah bertajuk “Risiko tinggi pasien cedera paru-paru yang ditimbulkan sendiri pada COVID-19 dengan pola pernapasan spontan yang sering ditemui: studi pemodelan komputasi,” yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Intensive Care, para peneliti dari University of Warwick telah mengadaptasi metode komputasional. simulator patofisiologi kardiopulmoner untuk mengukur kekuatan mekanik yang dapat menyebabkan cedera paru yang ditimbulkan sendiri oleh pasien, pada berbagai tingkat upaya pernapasan.

Simulator dibuat untuk mewakili populasi 10 pasien COVID-19, yang dirawat dengan oksigen tambahan. Pada masing-masing pasien ini, simulasi di berbagai volume tidal (kedalaman pernapasan) dan laju pernapasan diuji, dari volume tidal 7 ml/kg dan laju pernapasan 14 napas per menit (mewakili pernapasan normal), hingga volume tidal 10 ml/kg dan laju pernapasan 30 napas per menit (mewakili upaya pernapasan yang tinggi).

Hasil simulasi menunjukkan bahwa tekanan dan ketegangan yang berpotensi merugikan dapat dihasilkan pada tingkat upaya pernapasan yang sering dilihat dokter pada pasien COVID-19.

Profesor Declan Bates, dari School of Engineering di University of Warwick mengatakan pemodelan telah menemukan bahwa pasien yang mengalami kegagalan pernapasan hipoksemia akut COVID-19 mungkin berisiko signifikan mengalami cedera paru yang ditimbulkan sendiri oleh pasien karena peningkatan upaya pernapasan. Upaya ini perlu dipantau dan dikendalikan dengan hati-hati selama perawatan mereka. “Pasien harus selalu mengikuti saran dari dokter mereka mengenai waktu inisiasi dukungan oksigen, ventilasi non-invasif, atau ventilasi mekanis,” ujar Prof Bates dikutip MedicalXpress. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s