Ilmuwan Ungkap Hubungan Respons Gatal dan Autisme

Berandasehat.id – Sebuah studi percontohan dari North Carolina State University telah menemukan bahwa gen yang terkait dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan hipersensitivitas nyeri ternyata dapat menurunkan respons gatal. Dermatitis atopik dan hipersensitivitas nyeri keduanya merupakan kondisi yang terkait dengan beberapa jenis ASD.

Gen tersebut, protein terkait contactin 2 (CNTNAP2), diduga terhubung dengan mutasi yang terkait dengan beberapa bentuk autisme. Gen ini ditemukan di seluruh ganglia akar dorsal (DRG), yang merupakan kelompok sel sensorik yang terletak di akar saraf tulang belakang. DRG adalah ‘jalan raya super’ yang mengirimkan sensasi rasa sakit dan gatal dari kulit melalui sumsum tulang belakang ke otak.

“Karena dermatitis atopik sering dikaitkan dengan ASD dan CNTNAP2 keduanya terkait dengan hipersensitivitas nyeri pada ASD dan diekspresikan di hampir semua neuron sensorik DRG, kami bertanya-tanya apakah CNTNAP2 mungkin juga berkontribusi pada perilaku gatal,” kata Santosh Mishra, asisten profesor ilmu saraf di NC State University dan penulis studi.

Mishra membandingkan respons gatal pada tikus dengan gen CNTNAP2 dengan mereka yang tidak memilikinya. Di hadapan rangsangan berbasis histamin dan non-histamin, tikus tanpa CNTNAP2 memiliki penurunan respons gatal dibandingkan tikus dengan gen.

“Jika ada hubungan antara ASD dan dermatitis atopik, maka tikus tanpa gen CNTNAP2 normal diprediksi memiliki kenaikan respons gatal seperti halnya mereka meningkatkan kepekaan terhadap rasa sakit,” kata Mishra. “Ada beberapa kemungkinan penjelasan untuk temuan ini, mulai dari perbedaan fisiologis standar antara manusia dan hewan hingga peran potensial CNTNAP2 dalam melepaskan neuropeptida yang dapat mempengaruhi respons ini.

“Tapi kita juga tahu bahwa rasa sakit dapat menekan sensasi gatal dan sebaliknya. Sama seperti beberapa manusia dengan ASD memiliki sensitivitas rasa sakit yang lebih tinggi, begitu juga tikus tanpa CNTNAP2. Sensitivitas rasa sakit itu mungkin menghambat sensasi gatal,” jelas Mishra.

Mishra berharap studi percontohan ini dapat membuka jalan untuk eksplorasi lebih lanjut tentang peran CNTNAP2 dalam gatal. “Peran fungsional CNTNAP2 dalam transmisi saraf gatal tidak diketahui,” kata Mishra. 

“Sementara penelitian ini menyoroti kemungkinan hubungan antara ASD dan gatal, namun sifatnya terbatas karena terutama didasarkan pada hasil perilaku, bukan seluler atau molekuler. Penelitian di masa depan mungkin diperlukan untuk membedah dasar-dasar molekuler CNTNAP2 dan sensasi gatal,” pungkasnya. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s