Akhirnya Indonesia Miliki Perhimpunan Farmasi Militer, Apa Bedanya dengan Farmasi Biasa?

Berandasehat.id – Setelah sekian lama menanti, akhirnya Ketua Umum Pengurus Pusat Apoteker Indonesia, Nurul Falah Eddy Pariang, melantik Perhimpunan Farmasi Militer dan Perhimpunan Saintis Farmasi Indonesia, Rabu (26/8). Pelantikan sekaligus menandai ditutupnya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Apoteker Indonesia 2021 secara daring, yang berlangsung sejak Senin (23/8).

Terkait Perhimpunan Farmasi Militer, Nurul Falah sempat menyampaikan Indonesia sedikit tertinggal dalam hal pengembangan Perhimpunan Farmasi Militer (PFM) mengingat negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu memilikinya. 

Menurutnya, setiap kali pertemuan The International Pharmaceutical Federation, organisasi farmasi sedunia, selalu ada seksi farmasi militer, dan kedua negara tetangga selalu menghadirkan perwakilannya dengan menggunakan seragam militer lengkap.  “Alhamdulillah, kini Indonesia juga sudah memiliki Perhimpunan Farmasi Militer,’’ ungkap Nurul Falah dalam keterangan tulisnya.

Hal senada disampaikan oleh Prof Yahdiana Harahap, salah satu pelindung PFM. Yahdiana saat ini adalah Guru Besar Fakultas Farmasi UI dan juga Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pertahanan.

Yahdiana mengatakan, pendidikan farmasi militer sangat berbeda dibanding pendidikan farmasi pada umumnya. “Di farmasi militer ada kurikulum pendidikan kemiliteran,’’ terang Yahdiana.

Nurul Falah melantik Ketua Perhimpunan Farmasi Militer Kolonel Kes Dr Apt Drs Yuli Subiakto, MSi, Sekretaris Dr apt Bantari Wisnu KW, M.Biomed, Bendahara apt Editha Romesten, MSc Dewan Penasehat antara lain ReKtor Universitas Pertahanan, Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Kepala Puskes TNI, Kepala Puskes AD dan Dekan Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan.

Di kesempatan yang sama, Yuli Subiakto menyampaikan pentingnya dibentuk Perhimpunan Farmasi Militer, mengingat prajurit TNI bekerja dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding masyarakat pada umumnya. Perubahan lingkungan kerja tersebut berdampak terhadap fisiologis tubuh, nasib obat dalam tubuh, nasib makanan dan minuman, sehingga prajurit TNI perlu dilatih indoktrinasi dan Latihan fisiologi (aerofisiologi, hiperbarik fisiologi).

Menurut Yuli, saat ini kemandirian farmasi nasional masih merupakan cita-cita bangsa dalam wujudkan kedaulatan bidang kesehatan. Upaya mengembangkan formula sediaan farmasi, bahan baku aktif, bahan tambahan, bahan pengemas (antibiotika), non-antibiotika, simtomatik, suplemen, PKRT, Alkes habis pakai dengan memanfaatkan sumberdaya alam (tumbuhan, hewan, mineral).

Pengembangan farmasi militer dilakukan dalam rangka dukungan Kesehatan, kosmetika militer, nutrasetikal militer, toksikologi militer, ransum militer, bahan dekontaminasi CBRNE, pengendali huru hara yang aman (Riot control agent) dan pelayanan Kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Nurul Falah juga melantik pengurus Perhimpunan Saintis Farmasi Indonesia yang diketuai oleh apt Firzan Naimu, M. Biomed.Sc, PhD dengan Sekretaris apt Muh Akbar bahar, M.Pharm, PhD dan Bendahara apt Eka Noviana, MS, PhD Dewan penasehat antara lain Prof Dr apt Yahdiana Harahap, MS, Prof Dr apt Elly Wahyudin, DEA dan Prof Dr apt Edy Meiyanto, MSi. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s