Berandasehat.id – Varian COVID baru, dijuluki Omicron oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan awalnya terdeteksi di Afrika Selatan, diklaim menimbulkan risiko tinggi hingga sangat tinggi ke Eropa, demikian peringatan badan kesehatan Uni Eropa.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mencatat dalam laporan penilaian ancaman bahwa masih ada ketidakpastian yang cukup besar terkait dengan penularan, efektivitas vaksin, risiko infeksi ulang, dan sifat lain dari varian Omicron.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Namun, risiko keseluruhan yang ditimbulkan Omicron terhadap Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia) adalah “tinggi hingga sangat tinggi”.

Mengingat kemungkinan bahwa vaksin saat ini mungkin tidak melindungi terhadap varian tersebut, dan fakta bahwa varian  itu mungkin lebih menular, lembaga yang berbasis di di Stockholm menyebut potensi penularan komunal bakal lebih tinggi.

“Dalam situasi di mana varian Delta muncul kembali di UE/EEA, dampak pengenalan dan kemungkinan penyebaran Omicron lebih lanjut bisa sangat tinggi,” imbuh lembaga itu.

Selain Afrika Selatan, Omicron telah terdeteksi di Israel pada seseorang yang berasal dari Malawi serta di Botswana, Hong Kong dan anggota UE Belgia.

Badan tersebut mendesak negara-negara untuk melakukan pengurutan genom dan pelacakan kontak dari kasus yang dikonfirmasi, dan meminta orang untuk tidak melakukan perjalanan ke daerah yang terkena dampak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat (26/11) menyatakan  jenis virus yang baru-baru ini ditemukan sebagai varian yang mengkhawatirkan. Klasifikasi tersebut menempatkan Omicron ke dalam kategori varian COVID-19 yang paling meresahkan, bersama dengan Delta yang mendominasi secara global, ditambah saingannya yang lebih lemah, Alpha, Beta, dan Gamma.

Negara-negara bergegas melarang penerbangan untuk memperlambat penyebaran Omicron pada hari yang sama sesaat setelah WHO mengumumkan status varian virus. Sementara pasar saham dan harga minyak jatuh di tengah kekhawatiran seputar varian tersebut, yang berpotensi memberikan pukulan berat bagi pemulihan ekonomi global, demikian dilaporkan MedicalXpress. (BS)