Berandasehat.id – Varian Omicron yang muncul baru-baru ini mendominasi siklus berita dan perhatian publik, tetapi 95% infeksi COVID-19 di Amerika masih disebabkan oleh varian Delta.

Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan Israel yang diterbitkan baru-baru ini menemukan bahwa 3 dosis vaksin Pfizer-BioNTech (2 dosis awal dan 1 dosis booster – setidaknya  5 bulan kemudian) mengurangi risiko kematian akibat varian Delta sebesar 90%.

Penelitian ini terdiri dari 843.000 orang Israel yang menerima seri 2 dosis awal Pfizer-BioNTech dan memenuhi syarat untuk vaksinasi booster. Dari kelompok ini, sekitar 758000 memilih untuk menerima booster Pfizer-BioNTech.

Ilustrasi vaksinasi (dok.istimewa)

Studi berlangsung dari Agustus-September 2021, di mana Delta adalah galur COVID-19 yang dominan di Israel. Selama masa studi ini, 65 peserta yang menerima dosis booster ketiga meninggal, dibandingkan dengan 137 kematian pada kelompok non-booster.

Studi kedua di Israel terhadap 4,7 juta peserta yang divaksinasi penuh dengan Pfizer-BioNTech menemukan bahwa mereka yang menerima booster memiliki pengurangan infeksi COVID-19 sepuluh kali lipat. Selain itu, resistensi terhadap Delta meningkat semakin lama vaksin penguat berada di sistem tubuh.

Booster Pfizer-BioNTech baru-baru ini disahkan untuk semua orang dewasa dan remaja AS berusia 16-17 tahun.

Baru-baru ini, Pfizer-BioNTech merilis data yang menunjukkan 3 dosis vaksin COVID-19 berhasil menetralkan varian Omicron. Mutasi Omicron masih 80% rentan terhadap vaksin Pfizer-BioNTech, dan sementara 2 dosis kemungkinan masih melindungi terhadap penyakit parah, dosis booster secara signifikan meningkatkan resistensi.

Dosis ketiga meningkatkan level antibodi kembali ke tempat semula sebelum munculnya Omicron. Pfizer-BioNTech terus menguji khasiat 2 dan 3 dosis vaksinnya terhadap varian saat ini dan varian berikutnya. (BS)