Berandasehat.id – Tak dapat dimungkiri, telah terjadi peningkatan yang luar biasa dalam asupan gula sederhana  – sukrosa, gula isomerisasi (sirup jagung) – dari minuman dan makanan di masyarakat modern. 

Asupan gula sederhana pada remaja, di mana gangguan mental sering terjadi, lebih tinggi daripada generasi lainnya. Selain itu, pasien dengan gangguan mental mengkonsumsi gula kira-kira 2 kali lipat lebih banyak daripada orang sehat dengan usia yang sama, dan pasien dengan skizofrenia yang mengonsumsi lebih banyak sukrosa menunjukkan gejala yang lebih parah.

Meskipun sejauh ini para ilmuwan berupaya mengumpulkan bukti, masih belum terbukti bahwa asupan gula yang berlebihan berkontribusi pada patogenesis gangguan kejiwaan di antara individu yang rentan.

Ilustrasi renaja stres (dok. istimewa)

Bukankah asupan gula sederhana yang berlebihan mempengaruhi fungsi otak lebih banyak? Para peneliti telah berusaha untuk menjelaskan hubungan sebab akibat ini.

Sebagai gen kerentanan untuk gangguan kejiwaan, para peneliti memilih Glyoxylase-1 dan Disrupted-in-schizophrenia-1. Dengan menggabungkan tikus heterozigot dengan faktor lingkungan asupan gula yang berlebihan pada usia pubertas, tim peneliti berhasil menciptakan model tikus baru yang menunjukkan berbagai gejala seperti gangguan mental, termasuk penurunan fungsi sensorimotor gating, penurunan memori kerja, hiperaktif, komponen pita gamma yang abnormal di EEG. 

Dengan kata lain, ini menunjukkan kemungkinan bahwa asupan gula sederhana yang berlebihan pada usia pubertas dapat menjadi faktor risiko lingkungan dari gangguan kejiwaan.

Selanjutnya, dengan menganalisis tikus model ini, tim bermaksud untuk mengidentifikasi fenotipe baru dan mekanisme perkembangan gangguan mental. Mereka menemukan “angiopati mikrovaskular serebral.” 

Untuk memverifikasi generalisasi temuan ini, mereka menggunakan otak post-mortem (setelah kematian) dari pasien dengan skizofrenia dan gangguan bipolar, dan mengidentifikasi angiopati mirip dengan yang terlihat pada tikus model. 

Peneliti juga menemukan bahwa angiopati disertai dengan penggabungan glukosa yang terganggu ke parenkim otak pada model tikus. Fenotipe ini dicegah dengan pemberian obat antiinflamasi (anti-peradangan) nonsteroid (NSAID) secara terus menerus sebelum timbulnya penyakit, dan beberapa gejala seperti psikiatri juga ditekan. 

Pasien yang digunakan dalam penelitian ini tidak selalu memiliki catatan asupan sukrosa yang berlebihan. Mereka mengembangkan gangguan kejiwaan di bawah berbagai keadaan stres, menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan berhubungan dengan angiopati di otak yang disebabkan oleh berbagai tekanan lingkungan, termasuk stres metabolik, demikian simpul peneliti dikutip dari laman MedicalXpress. (BS)