Berandasehat.id – Sebagian besar negara di Asia dipandang berhasil dalam mengendalikan penyebaran Omicron saat varian virus corona ini  mengamuk di bagian lain dunia. Meski demikian, lonjakan kasus COVID di Asia diprediksi menjadi hal yang tidak terelakkan.

Aturan karantina yang ketat untuk kedatangan dan pemakaian masker telah membantu memperlambat penyebaran varian yang sangat menular di Asia. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand dengan cepat memberlakukan kembali pembatasan keluar masuk dan karantina dalam beberapa pekan terakhir setelah sempat melonggarkannya di musim gugur.

Tetapi kasus-kasus meningkat, dan para ahli mengatakan beberapa bulan ke depan akan menjadi titik kritis. Ketakutan itu telah diperkuat oleh keraguan tentang efektivitas vaksin buatan Cina yang digunakan di Negeri Tirai Bambu dan sebagian besar negara berkembang.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

“Begitu kecepatannya meningkat, peningkatannya akan sangat cepat,” kata Dr. Shigeru Omi, penasihat medis utama pemerintah Jepang.

Di India – yang telah kembali normal setelah wabah COVID-19 yang menghancurkan awal tahun ini – Omicron sekali lagi menimbulkan ketakutan. Sejauh ini lebih dari 700 kasus dilaporkan di negara berpenduduk hampir 1,4 miliar orang.

Ibu kota India, New Delhi, melarang pertemuan besar untuk Natal dan Tahun Baru, dan banyak negara bagian lain telah mengumumkan pembatasan baru, termasuk jam malam dan persyaratan vaksinasi di toko dan restoran.

Di pasar Chandni Chowk yang ramai di New Delhi, banyak orang berbelanja tanpa masker minggu ini. Sopir becak sepeda Mahesh Kumar mengaku takut dengan penumpang yang tidak memakai masker.

“Banyak orang yang tidak percaya dengan penyakit ini. Mereka pikir itu tidak ada. Tapi saya sangat takut. Saya punya anak dan keluarga,” katanya dikutip MedicalXpress. “Jika sesuatu terjadi padaku, siapa yang akan merawat mereka?

Australia sudah menghadapi beberapa lonjakan COVID-19. Seorang pemimpin negara bagian mengatakan bahwa Omicron bergerak terlalu cepat. 

Di tempat lain, Thailand telah mencapai 700 kasus, Korea Selatan memiliki lebih dari 500 dan Jepang lebih dari 300. Cina, yang memiliki beberapa kontrol virus paling ketat di dunia, telah melaporkan setidaknya delapan.

Hanya empat kasus yang dilaporkan di Filipina, di mana orang berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan menjelang Natal dan ke Misa di negara Katolik Roma terbesar di Asia. Beberapa rumah sakit bahkan telah mulai membongkar bangsal COVID-19 – suatu langkah yang menurut para ahli terbukti prematur.

Jepang berhasil menunda penyebaran varian baru Omicron selama sekitar satu bulan sebagian besar berkat penerapan kembali pembatasan masuk. Tes COVID-19 wajib untuk semua kedatangan dan isolasi semua penumpang dalam penerbangan –  jika ada yang dites positif Omicron.

Tetapi pembatasan itu ‘rusak’ minggu lalu ketika kasus yang ditularkan secara lokal pertama dikonfirmasi di kota-kota tetangga Osaka dan Kyoto. Para ahli mendesak pemerintah untuk bersiap menghadapi gelombang infeksi yang akan segera terjadi dengan meningkatkan pengujian, mempercepat suntikan booster, dan menyiapkan lebih banyak tempat tidur di rumah sakit.

“Kami ingin percaya bahwa kasus Omicron ringan, tetapi infeksinya yang cepat dapat dengan cepat melipatgandakan jumlah pasien dan masih dapat membanjiri rumah sakit,” kata Omi.

Taiwan, di mana mengenakan masker hampir menjadi hal lumrah di kota-kota besar, telah mulai menawarkan suntikan vaksin Moderna dan mendesak orang-orang untuk mendapatkan suntikan ketiga sebelum gelombang orang yang diharapkan kembali ke rumah untuk Tahun Baru Imlek pada akhir Januari 2022.

Penelitian awal telah menunjukkan bahwa suntikan booster dari vaksin Pfizer, AstraZeneca dan Moderna menawarkan perlindungan terhadap Omicron.

Namun, sebuah studi Universitas Hong Kong yang belum dipublikasikan menemukan bahwa vaksin Sinovac yang digunakan secara luas di Cina tidak menghasilkan cukup antibodi untuk melindungi terhadap Omicron, bahkan dengan suntikan booster, menurut rilis berita universitas. Hong Kong menawarkan vaksin Sinovac dan Pfizer untuk warganya.

Sinovac tidak menanggapi permintaan komentar. Sedangkan pejabat Cina mengatakan vaksin mereka masih efektif. “Vaksin kami yang (mengandung virus) tidak aktif masih cukup andal dan mencakup berbagai antigen. Oleh karena itu, vaksin itu tidak akan sepenuhnya tidak efektif melawan Omicron,” Zhong Nanshan, seorang dokter pemerintah.

Beberapa negara yang mengandalkan vaksin Cina beralih ke vaksin negara lain untuk booster. Thailand, yang sebagian besar menggunakan Sinovac dan Sinopharm (keduanya vaksin buatan Cina), menawarkan suntikan booster AstraZeneca atau Pfizer. 

Indonesia, di mana Sinovac telah menjadi andalan kampanye untuk memvaksinasi 270 juta penduduknya, menawarkan booster Moderna untuk petugas kesehatan. Pemerintah juga merencanakan booster untuk masyarakat umum pada Januari 2022, meskipun belum mengatakan jenis vaksin yang mana.

Bagaimana kebijakan ‘nol-COVID-19’ Cina akan dimainkan di Olimpiade mendatang adalah pertanyaan besar. Atlet dan pengunjung tidak akan diizinkan meninggalkan zona Olimpiade, dan mereka yang hadir seperti ofisial, jurnalis, dan staf venue akan diuji setiap hari.

Untuk menahan gelombang mematikan yang didorong oleh Delta di Korea Selatan, pemerintah bulan ini memulihkan aturan: Maksimal empat orang pada pertemuan pribadi dan jam 9 malam restoran harus tutup.

Pakar kesehatan memprediksi hanya masalah waktu sebelum Omicron datang. “Omicron memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi sehingga jelas bahwa itu akan menjadi varian dominan di Korea Selatan di beberapa titik,” kata Jaehun Jung, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Gachon di Korea Selatan. (BS)