Berandasehat.id – Sebuah studi baru akhirnya menjelaskan mengapa varian Omicron SARS-CoV-2 hanya mampu menyebabkan bentuk COVID-19 yang lebih ringan dibandingkan dengan jenis sebelumnya, khususnya varian Delta.

Studi ini tampaknya menguatkan temuan sebelumnya tentang bagaimana varian Omicron menyebabkan lebih sedikit rawat inap dan kematian daripada varian Delta.

Sebuah konsorsium peneliti dari Amerika dan Jepang baru-baru ini merilis sebuah riset yang menunjukkan bahwa varian Omicron dari virus corona baru menyebabkan gejala yang lebih ringan daripada Delta dan galur lainnya karena mempengaruhi paru-paru secara berbeda. 

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Studi ini telah menarik perhatian komunitas medis karena mencoba menjelaskan bentuk ringan penyakit yang disebabkan oleh varian Omicron. Menurut para ilmuwan yang melakukan studi – melibatkan percobaan pada tikus dan hamster – diperoleh hasil bahwa Omicron menyebabkan dampak yang tidak terlalu parah pada saluran pernapasan bagian atas dan bawah. 

Peneliti menemukan bahwa varian ini menghasilkan ‘viral load’ yang lebih rendah di hidung, tenggorokan, dan paru, yang mengarah ke viral load dan replikasi yang lebih ringan dan – pada akhirnya – lebih sedikit kerusakan pada area tersebut.

Para peneliti menunjukkan bahwa mereka melihat infeksi yang dilemahkan atau melemah di paru hewan pengerat. Tikus yang dipaparkan Omicron SARS-CoV-2 hanya mengalami penurunan berat badan yang terbatas dan viral load yang lebih rendah di saluran pernapasannya. Hewan uji  menunjukkan penyakit paru ‘yang dilemahkan’ pada hewan pengerat, yang sejajar dengan data klinis manusia awal.

Kepala penasihat medis Gedung Putih Dr. Anthony Fauci mengakui penelitian tersebut dan penelitian lain dalam pengarahan tim tanggapan COVID-19 baru-baru ini. Dokter ilmuwan dan ahli imunologi itu mengatakan bahwa meskipun Omicron bereplikasi lebih cepat di bronkus, ada bukti bahwa strain bereplikasi lebih lambat di paru.

“Model hamster dari Universitas Tokyo menunjukkan bahwa Omicron menginfeksi dan menyebar kurang baik di paru, dan kurang patogen dibandingkan dengan varian Delta pada model hamster. “Peneliti Belgia pada hamster Suriah melihat hal yang sama,” kata Fauci.

Dia melanjutkan, studi yang didanai NIH yang sedang berlangsung saat ini pada tikus dan hamster mengonfirmasi virulensi yang lebih rendah pada model hewan. Dan, penelitian di Pusat Penelitian Vaksin di NIH – dalam model primata bukan manusia – tengah berlangsung dan akan menunggu hasilnya.”

Pada pertengahan Desember, sebuah studi dari University of Hong Kong menyampaikan temuan yang hampir serupa. Tim di balik penelitian ini mengatakan bahwa omicron berkembang biak sepuluh kali lebih lambat di jaringan paru dan 70 kali lebih cepat di saluran udara daripada versi asli SARS-CoV-2. 

Karena Omicron bereplikasi pada tingkat yang lebih lambat di paru, ini dapat menjelaskan tingkat keparahan penyakit yang lebih rendah.

Implikasi Temuan

Selain mungkin menunjukkan apa yang membuat varian Omicron lebih mungkin ditangkal daripada varian Delta, temuan ini juga memvalidasi pengamatan para ahli medis sebelumnya di Afrika Selatan, tempat varian pertama kali muncul. 

Para ahli mengatakan bahwa meskipun ada lonjakan kasus yang dikonfirmasi, mereka mencatat lebih sedikit rawat inap dan lebih sedikit kematian karena sifat ringan dari Omicron.

Di seluruh dunia, Omicron telah menyebabkan lonjakan di banyak tempat, termasuk New York dan Washington. Para ilmuwan telah mengantisipasi hal ini karena mutasi pada varian Omicron memungkinkannya lebih menular daripada Delta. 

Bagi Fauci, gejala yang lebih ringan tidak mengurangi krisis. Dia mendorong semua orang untuk tidak berpuas diri di tengah pandemi karena memiliki lebih banyak kasus dapat menambah beban bagi rumah sakit, demikian dalam wawancara dengan The Hill. (BS)