Berandasehat.id – Sebelum munculnya varian Omicron, orang-orang di Inggris dengan gejala COVID atau tes positif harus mengisolasi diri selama sepuluh hari. Tetapi ketika varian baru yang masuk kategori variant of concern (yang mengkhawatirkan) tiba, pemerintah mengubah periode isolasi diri menjadi tujuh hari. 

Di sisi lain Atlantik, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan bahwa mengingat apa yang diketahui tentang varian omicron, mereka mengubah periode isolasi diri menjadi lima hari.

Kini, Menteri Kesehatan Britania Sajid Javid telah mengumumkan bahwa periode isolasi mandiri untuk orang yang dites positif COVID dipotong menjadi lima hari penuh di Inggris. Mulai Senin, 17 Januari, orang-orang di Inggris akan dapat meninggalkan isolasi setelah dua tes ‘aliran lateral’ negatif (diambil terpisah 24 jam) dari hari kelima. Aturannya sama terlepas dari status vaksin. 

Ahli mikrobiologi medis prihatin dengan pengaturan ini – karena hanya ada sedikit bukti ilmiah untuk membenarkan keamanan tindakan masa isolasi yang dikurangi.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Beberapa ahli berpendapat bahwa Omicron hanya menyebabkan penyakit ringan dan tidak memicu lonjakan rawat inap, tetapi harus diingat bahwa gelombang ini menyapu populasi dengan tingkat perlindungan yang cukup besar yang berasal dari kombinasi infeksi alami dan kekebalan yang diinduksi vaksinasi. 

Jadi, pernahkah kita melihat pendorong ekonomi mengambil alih alasan ilmiah untuk rencana manajemen COVID? Sally Cutler, Professor, Medical Microbiology, University of East London dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Tee Conversation, mengajak pembaca mempertimbangkan pembenaran ilmiah untuk periode isolasi yang direkomendasikan.

Dia menyoroti sebuah tinjauan sistematis komprehensif berbasis di Inggris terhadap 79 makalah dari seluruh dunia (tidak termasuk yang memiliki jumlah kasus sangat rendah) yang meninjau pelepasan virus dari 5.340 orang yang terinfeksi, mengevaluasi tidak hanya viral load yang ditentukan oleh pengujian PCR (yang dapat tetap positif untuk beberapa waktu di luar pemulihan klinis), tetapi juga melihat kemampuan untuk menumbuhkan virus dari orang-orang ini, dan dengan jelas menunjukkan daya penularan.

Tinjauan tersebut menunjukkan viral load yang rendah dalam beberapa hari pertama, tetapi kemudian mencapai puncaknya sekitar hari ketiga hingga enam, menurun pada hari ketujuh hingga sembilan sampai tidak ada cukup virus yang dapat dipulihkan pada hari kesepuluh. Dengan kata lain, data mendukung periode isolasi sepuluh hari.

Beberapa penelitian telah menyarankan periode pelepasan virus yang sedikit lebih pendek pada orang tanpa gejala, tetapi keputusan tentang kebijakan nasional harus didasarkan pada semua infeksi, bukan hanya sebagian, kata ahli mikrobiologi.

Pracetak yang lebih baru dari Jepang (sebuah penelitian yang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah) melihat pelepasan virus yang dikaitkan dengan Omicron. Studi tersebut mencerminkan temuan tinjauan sistematis, menunjukkan bahwa pelepasan virus paling tinggi pada tiga hingga enam hari setelah dimulainya gejala.

Dan sebuah studi kecil dari University of Exeter, yang diterbitkan pada hari yang sama dengan pengumuman Menkes Javid, menemukan bahwa satu dari tiga orang masih berpotensi menularkan virus setelah lima hari.

Bukti menunjukkan bahwa pada hari kelima banyak orang masih akan mengeluarkan virus dalam jumlah cukup – yang berpotensi mengakibatkan penyebaran COVID cukup besar. Jadi, ahli mempertanyakan bukti apa yang digunakan pemerintah Inggris yang menjadi dasar pengurangan masa isolasi baru-baru ini.

Disampaikan pakar, tes aliran lateral adalah cara yang cepat dan praktis untuk mengukur infeksi, tetapi tes ini dilakukan di rumah dan mungkin tidak selalu dilakukan dengan kriteria yang ketat. Dengan kata lain, tes dapat menghasilkan hasil yang salah. 

Pengambilan sampel usap/swab dengan benar sangat penting untuk kinerja tes, dan ini mengharuskan penguji untuk melaporkan hasil tes dengan tepat. Banyak tekanan sosial atau ekonomi dapat menggoda penguji untuk ‘mengompromikan’ protokol pengujian dan pelaporan, demikian disampaikan Sally Cutler.

Pengurangan masa isolasi menjadi lima hari berisiko melepaskan orang yang terinfeksi kembali ke masyarakat pada waktu puncak penyebaran virus menular. “Ini sangat bodoh dan berbahaya bagi orang-orang di sekitar mereka. Orang ingin merasa aman ketika mereka pergi keluar, mengetahui orang lain sedang menguji dengan benar dan mengisolasi sampai mereka tidak lagi menjadi risiko bagi orang lain,” ujar Sally Cutler.

Dia sangat mendesak pembuat kebijakan Inggris untuk melihat data ilmiah dan menarik kesimpulan yang masuk akal, terinformasi, dan benar. (BS)