Berandasehat.id – Sebuah kiasan TV dan film yang sudah tidak asing lagi – sepasang suami istri terlibat dalam hubungan intim yang penuh gairah ketika jantung pria tiba-tiba berhenti bekerja.

“Biasanya pria paruh baya. Lucu, ada mitos di benak kita bahwa ini bisa terjadi,” kata ahli jantung Dr. Martha Gulati, yang menyebut konsep itu sebagai “serangan jantung Hollywood. “

Tapi kisahnya tidak sedramatis itu, kata Gulati, mantan pemimpin redaksi situs website pendidikan pasien American Academy of Cardiology, CardioSmart.org.

Ilustrasi serangan jantung (dok. istimewa)

Banyak bukti medis, termasuk sebuah studi baru dari Inggris, telah menetapkan bahwa meskipun hubungan intim mungkin membuat jantung berhenti bekerja –  namun itu itu hanya gairah—bukan kondisi yang mengancam jiwa.

Hanya 0,2% dari hampir 6.900 kasus kematian jantung mendadak yang diotopsi di sebuah rumah sakit London selama seperempat abad yang terkait dengan hubungan seksual, demikian para peneliti melaporkan di jurnal JAMA Cardiology, 13 Januari 2022.

“Tidak ada hubungan dramatis antara hubungan intim dan kematian jantung mendadak,” komentar Dr. Michael Kurz, profesor kedokteran darurat dan bedah di University of Alabama di Birmingham dikutip laman Healthday. “Ini tidak lebih berisiko daripada aktivitas berat lainnya.”

Studi di Inggris melibatkan semua kasus kematian jantung mendadak yang diautopsi di Rumah Sakit Universitas London St. George antara Januari 1994 dan Agustus 2020. Tercatat total 6.847 kematian.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Mary Sheppard dari rumah sakit itu, kemudian mencari kasus di mana kematian terjadi selama atau dalam satu jam berhubungan intim – dan hanya menemukan 17 kasus.

Para korbannya relatif muda, baru berusia 38 tahun, dan 35% di antaranya adalah perempuan—sebuah temuan yang disebut Gulati “menarik”. “Biasanya selalu dikatakan bahwa kematian jantung mendadak saat berhubungan intim lebih banyak terjadi pada laki-laki,” kata Gulati.

Hampir setengah dari kasus itu melibatkan beberapa masalah jantung yang sudah ada, demikian temuan peneliti London. Setengah lainnya dinyatakan memiliki sindrom kematian aritmia mendadak, ketika seseorang meninggal karena serangan jantung tanpa sebab yang jelas.

Gulati menambahkan, tidak mengherankan bahwa sangat sedikit orang yang meninggal karena gagal jantung saat berhubungan intim. “Banyak hal yang kita lakukan yang lebih menguras tenaga daripada berhubungan badan. Soal rasa khawatir, orang harus khawatir saat menaiki tangga dibandingkan melakukan hubungan intim,” kata Gulati. “Anda harus melakukan hal-hal yang cukup akrobatik untuk mengerahkan lebih banyak energi daripada itu saat berhubungan intim.”

Namun, Gulati dan Kurz mencatat bahwa penelitian ini hanya melihat kematian jantung yang terjadi saat berhubungan intim. Kemungkinan ada beberapa orang yang jantungnya berhenti selama atau setelah berhubungan intim tetapi bertahan hidup untuk menceritakan kisah tersebut.

Itulah sebabnya sebagian besar orang harus mengetahui CPR dan cara menggunakan defibrilator otomatis (AED), apakah saat sedang bersama pasangan jogging, mengendarai sepeda statis atau melakukan hubungan intim, kata  para ahli AS.

“Terlepas dari aktivitas apa yang dilakukan, penting bagi kita semua untuk mengetahui cara melakukan CPR, cara mengenali serangan jantung, dan cara menggunakan AED jika tersedia,” kata Kurz. “Kematian jantung mendadak adalah penyakit yang bergantung pada waktu. Jika dikenali dengan cepat, hal itu dapat menyelamatkan nyawa.”

Jadi, itu adalah bagian lain dari mitos serangan jantung Hollywood—gagasan bahwa orang yang ‘jungkir balik’ saat berhubungan intim akan mati.

“Ketakutan seharusnya tidak menjadi hal meresahkan, CPR harus diketahui,” kata Gulati. “Orang yang bersama mereka (yang mengalami serangan jantung) mudah-mudahan akan memulai CPR, karena itulah cara kita bisa menyelamatkan nyawa.” (BS)