Berandasehat.id – Pasien stroke usia tua yang memiliki riwayat COVID-19 lebih mungkin mengembangkan pembekuan darah berbahaya di pembuluh darah daripada mereka yang tidak memiliki penyakit yang disebabkan oleh virus corona, demikian sebuah studi baru yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.
Gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah – suatu kondisi yang disebut tromboemboli vena atau VTE – merupakan jenis komplikasi umum setelah stroke. Gumpalan dapat terbentuk di kaki atau di tempat lain, kemudian dapat terlepas dan menghalangi suplai darah ke paru sehingga kerap memicu emboli paru fatal.
“Beberapa penelitian menunjukkan SARS-CoV-2, yakni virus yang menyebabkan COVID-19, dapat meningkatkan risiko VTE di antara orang-orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19,” kata Xin Tong, peneliti senior studi baru dan ahli statistik senior di Divisi Penyakit Jantung dan Stroke CDC.

Tong mengatakan beberapa riset meneliti hubungan antara COVID-19 dan risiko VTE di antara orang-orang dengan stroke iskemik akut, jenis stroke yang paling umum saat gumpalan di arteri menghalangi aliran darah ke otak. Dan tidak ada yang meneliti hubungan antara VTE dan pasien stroke yang memiliki gejala ringan COVID-19 yang tidak memerlukan rawat inap.
Tong dan rekan penulisnya menggunakan data Medicare untuk memeriksa hubungan antara VTE dan COVID-19 di antara 235.567 penerima manfaat Medicare yang berusia 65 tahun ke atas. Semua telah dirawat di rumah sakit dengan stroke iskemik akut antara April 2020 dan November 2021. Di antara mereka, 7,8 persen memiliki riwayat COVID-19, yang membutuhkan rawat inap lebih dari setengahnya.
VTE merupakan kejadian paling umum di antara mereka yang memiliki riwayat rawat inap COVID-19, sebesar 4,4 persen. Di antara mereka dengan COVID-19 yang tidak memerlukan rawat inap, 3,1 persen memiliki VTE. Mereka yang tidak memiliki riwayat COVID-19 paling kecil kemungkinannya memiliki VTE, yaitu 2,6 persen.
Itu berarti risiko VTE 64 persen lebih tinggi di antara pasien stroke dengan riwayat rawat inap COVID-19, dan risiko 21 persen lebih tinggi di antara mereka yang pernah menderita COVID-19 tetapi tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Studi ini akan dipresentasikan di Konferensi Stroke Internasional Asosiasi Stroke Amerika, pekan depan, menurut laporan MedicalXpress. Temuan dianggap awal sampai makalah lengkap diterbitkan dalam jurnal peer-review (yang ditinjau rekan sejawat).
Peneliti juga menemukan bahwa pasien stroke kulit hitam memiliki tingkat VTE tertinggi dibandingkan dengan kelompok ras dan etnis lainnya. Mereka mencontohkan, sebanyak 6,3 persen pasien stroke kulit hitam yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena COVID-19 mendapat VTE. Angka itu dibandingkan dengan 3,4 persen dan 4,1 persen dari rekan-rekan Hispanik dan kulit putih.
Peneliti mengakui ada keterbatasan dalam studi, yakni mereka tidak dapat mengidentifikasi apakah VTE terjadi sebelum atau selama rawat inap stroke.
“Terlepas dari itu, dan batasan pada apa yang dapat dipahami tentang beberapa kelompok ras dan etnis karena jumlah pasien yang sedikit, penelitian ini memberikan gambaran besar yang baik tentang apa yang kita lihat di seluruh negeri,” terang ahli epidemiologi Amelia K. Boehme Universitas Columbia di Kota New York.
“Kita tahu bahwa COVID meningkatkan risiko VTE,” kata Boehme, yang tidak terlibat dalam penelitian. “Kita tahu bahwa stroke iskemik meningkatkan risiko VTE. Jadi gagasan bahwa gabungan COVID dan stroke iskemik akan semakin meningkatkan risiko VTE masuk akal dari perspektif klinis.”
“Studi ini menunjukkan bahwa pasien stroke yang memiliki COVID-19 harus dipantau secara hati-hati untuk potensi VTE,” imbuhnya.
Tong mengakui, kemungkinan alasan di balik hubungan antara COVID-19 dan peningkatan risiko VTE adalah kompleks dan tidak dipahami dengan baik. “Beberapa kondisi yang mendasari pasien stroke dapat tumpang tindih dengan faktor risiko VTE, yang meliputi usia yang lebih tua, imobilitas berkepanjangan, obesitas, dan VTE atau stroke sebelumnya,” bebernya.
Beberapa dari faktor yang sama tumpang tindih dengan risiko COVID-19 yang parah. “Studi lebih lanjut diperlukan untuk kemungkinan mekanisme antara COVID-19 dan peningkatan risiko VTE,” tandas Tong. (BS)