Berandasehat.id – Efek jangka panjang COVID-19 masih terus dipelajari dan informasinya dinamis, bisa berubah sangat cepat. Analisis mendalam dari data kesehatan federal menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi COVID-19 berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah) dalam bulan pertama hingga satu tahun setelah infeksi. 

Komplikasi tersebut termasuk gangguan irama jantung, radang jantung, pembekuan darah, stroke, penyakit arteri koroner, serangan jantung, gagal jantung atau bahkan kematian.

Masalah seperti itu terjadi bahkan di antara individu yang sebelumnya sehat dan kemudian terinfeksi COVID-19 ringan, menurut temuan studi para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis dan Sistem Perawatan Kesehatan St. Louis Urusan Veteran yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, 7 Februari 2022.

Ilustrasi infeksi virus corona (dok. istimewa)

“Kami bermaksud mengembangkan penelitian sebelumnya tentang efek jangka panjang COVID dengan melihat lebih dekat apa yang terjadi di jantung pasien,” ulas penulis senior Ziyad Al-Aly, MD, asisten profesor kedokteran di Universitas Washington. 

“Apa yang kami lihat bukan kabar baik. COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular yang serius dan kematian. Jantung tidak beregenerasi atau dengan mudah pulih setelah rusak. Ini adalah penyakit yang akan mempengaruhi orang seumur hidup,” terang Ziyad Al-Aly dikutip dari laman MedicalXpress.

Lebih dari 380 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus corona baru sejak pandemi dimulai. “Akibatnya, infeksi COVID-19, sejauh ini, berkontribusi pada 15 juta kasus baru penyakit jantung di seluruh dunia,” kata Al-Aly, yang merawat pasien dalam Sistem Perawatan Kesehatan VA St. Louis. “Ini cukup signifikan. Bagi siapa saja yang pernah terinfeksi, kesehatan jantung menjadi bagian integral dari perawatan pasca-akut COVID.”

Ongkos Kerusakan Jantung Mahal

Penyakit kardiovaskular – istilah umum yang mengacu pada berbagai kondisi jantung, trombosis, dan stroke – adalah penyebab utama kematian di Amerika Serikat dan dunia. Pusat 

Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa satu dari setiap empat orang Amerika meninggal karena penyakit jantung setiap tahun.

Selain itu, penyakit jantung datang membutuhkan ongkos mahal, menurut CDC, merugikan AS sekitar US$363 miliar setiap tahun dalam layanan perawatan kesehatan, obat-obatan dan produktivitas yang hilang karena kematian.

“Untuk orang-orang yang jelas-jelas berisiko terkena penyakit jantung sebelum terinfeksi SARS-CoV-2, temuan ini menunjukkan bahwa COVID-19 dapat memperbesar risiko tersebut,” kata Al-Aly, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Epidemiologi Klinis dan kepala Layanan Penelitian dan Pendidikan di Sistem Perawatan Kesehatan St. Louis Urusan Veteran.

“Namun yang paling luar biasa, orang yang tidak pernah memiliki masalah jantung dan dianggap berisiko rendah juga mengalami masalah jantung setelah COVID-19,” tambahnya. 

“Data kami menunjukkan adanya peningkatan risiko kerusakan jantung pada orang muda dan orang tua; pria dan wanita; kulit hitam, kulit putih dan semua ras. Termasuk dalam hal ini orang obesitas dan tidak gemuk, penderita diabetes dan mereka yang tidak. Juga orang dengan penyakit jantung sebelumnya dan tidak ada riwayat penyakit jantung, juga orang dengan infeksi COVID ringan dan mereka dengan COVID yang lebih parah yang perlu dirawat di rumah sakit untuk itu,” terang Al-Aly.

Para peneliti menganalisis catatan medis yang tidak teridentifikasi dalam database yang dikelola oleh Departemen Urusan Veteran AS, sistem perawatan kesehatan terintegrasi terbesar di negara itu. Para peneliti membuat kumpulan data terkontrol yang mencakup informasi kesehatan dari 153.760 orang yang dites positif COVID-19 sekitar 1 Maret 2020, hingga 15 Januari 2021, dan yang selamat dari 30 hari pertama penyakit tersebut. 

Sangat sedikit orang dalam penelitian ini yang divaksinasi sebelum mengembangkan COVID-19, karena vaksin belum tersedia secara luas pada saat pendaftaran.

Pemodelan statistik digunakan untuk membandingkan hasil kardiovaskular dalam kumpulan data COVID-19 dengan dua kelompok orang lain yang tidak terinfeksi virus: Kelompok kontrol dengan lebih dari 5,6 juta pasien yang tidak memiliki COVID-19 selama jangka waktu yang sama; dan kelompok kontrol lebih dari 5,8 juta orang yang menjadi pasien dari Maret 2018 hingga Januari 2019, jauh sebelum virus menyebar dan pandemi mereda.

Studi ini tidak termasuk data yang melibatkan varian Delta dan Omicron virus, yang mulai menyebar dengan cepat pada paruh kedua tahun 2021.

Pasien COVID-19 dalam penelitian ini sebagian besar adalah pria kulit putih yang lebih tua; namun, para peneliti juga menganalisis data yang mencakup wanita dan orang dewasa dari segala usia dan ras.

Para peneliti menganalisis kesehatan jantung selama periode satu tahun. Studi menemukan penyakit jantung, termasuk gagal jantung dan kematian, terjadi pada 4% lebih banyak orang dibandingkan mereka yang tidak terinfeksi COVID-19.

“Beberapa orang mungkin berpikir 4% adalah angka yang kecil, tetapi ternyata tidak, mengingat besarnya pandemi,” kata Al-Aly. “Itu berarti sekitar 3 juta orang di AS yang menderita komplikasi kardiovaskular akibat COVID-19.”

Dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kelompok kontrol tanpa infeksi, orang yang tertular COVID-19 sebanyak 72% lebih mungkin menderita penyakit arteri koroner, 63% lebih berisiko mengalami serangan jantung, dan 52% lebih mungkin mengalami stroke.

Secara keseluruhan, mereka yang terinfeksi virus memiliki kemungkinan 55% lebih besar daripada mereka yang tidak menderita COVID-19 untuk menderita peristiwa kardiovaskular utama yang merugikan, mencakup serangan jantung, stroke, dan kematian.

“Temuan kami menyoroti konsekuensi kardiovaskular jangka panjang yang serius dari infeksi COVID-19 dan menekankan pentingnya mendapatkan vaksinasi terhadap COVID-19 sebagai cara untuk mencegah kerusakan jantung. Studi juga menggarisbawahi pentingnya meningkatkan aksesibilitas terhadap vaksin di negara-negara dengan sumber daya yang terbatas,” kata Al-Aly.

“Pemerintah dan sistem kesehatan di seluruh dunia harus siap menghadapi kemungkinan kontribusi signifikan dari pandemi COVID-19 terhadap peningkatan beban penyakit kardiovaskular,” imbuhnya.

“Karena sifat kronis dari kondisi ini, mereka kemungkinan akan memiliki konsekuensi jangka panjang bagi pasien dan sistem kesehatan, dan juga memiliki implikasi luas pada produktivitas ekonomi dan harapan hidup. Mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh COVID yang berkepanjangan akan membutuhkan upaya yang sangat dibutuhkan, sayangnya sejauh ini kurang, yakni strategi respons global jangka panjang yang mendesak dan terkoordinasi,” pungkas Al-Aly. (BS)