Berandasehat.id – Orang merasa terjebak pada rutinitas, mengalami kelelahan secara mental dan merasa butuh bantuan, hingga sampai pada titik tidak ingin lagi melakukan pekerjaan tersebut atau hendak melarikan diri dari situasi yang dihadapinya. Itulah yang disebut burnout.

Burnout berbeda dengan stres. Stres yang negatif atau dikenal dengan distress akan membuat produktivitas seseorang menurun. Ketika tidak ada intervensi dan penyelesaiannya, maka distress akan berkembang menjadi burnout. Jadi, bisa disimpulkan burnout merupakan tumpukan stres negatif dan tidak ditangani dengan tepat.

Meski awalnya istilah burnout banyak dipakai di kalangan para pekerja, seiring berjalannya waktu, kosakata ini juga digunakan dalam dunia parenting, yang dikenal dengan istilah parental burnout. Ima, seorang psikolog, dalam Instagram live bersama Teman Parenting baru-baru ini menjelaskan ada beberapa pencetus orang tua bisa mengalami burnout, yaitu orang tua belum siap memiliki anak, tidak ada support system yang baik, dan kurang memiliki pengetahuan tentang dunia parenting.

Ilustrasi parental burnout (dok. istimewa)

Ima mengatakan, ada tiga tanda untuk mendeteksi orang tua mengalami parental burnout. Pertama, orang tua merasa lelah secara emosional. Walau secara fisik terlihat biasa saja, emosi sebenarnya tidak stabil dan tidak terkendali. Beberapa ibu menganggap bahwa ia harus bisa semua karena ia adalah seorang ibu. Padahal, itu termasuk dalam irrational thinking.

Ada masanya ibu merasa lelah namun diabaikan, Jika kelelahan terus menumpuk, akan ada fase alam bawah sadar tidak bisa lagi mengontrol pikiran dan perasaan kita. “Ketika emosi sudah tidak stabil, maka otak depan akan kesulitan untuk memutuskan atau menyelesaikan sesuatu secara bijak,” ujar Ima.

Kedua, orang tua bisa bersikap negatif terhadap orang lain. Misalnya, jadi sinis, mudah marah, dan tersinggung. Ketiga, produktivitas akan menurun atau pencapaian individu berkurang. Salah satu contohnya, orang tua jadi suka overthinking.

Burnout yang dialami orang tua tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi bermacam-macam gangguan, di antaranya psikosomatik, depresi, gangguan kepribadian, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Misalnya, karena ingin menjadi ibu yang baik dan segalanya berjalan sempurna, bisa jadi ia akan menyalahkan diri sendiri. Bentuk yang paling ekstrem dari menyalahkan diri sendiri adalah melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri. Ima menyebut, hal itu bisa berkembang menjadi keinginan untuk menyakiti bayinya sebab merasa itulah yang menjadi sumber kelelahannya – yang dapat berujung pada menghilangkan nyawa sendiri atau nyawa si bayi.

Sebenarnya hal normal apabila sekali waktu ibu merasa lelah, sedih, butuh orang lain, atau ingin memiliki waktu sendiri. “Terbukalah dengan support system ketika membutuhkan bantuan atau atur strategi dengan pasangan, apa yang bisa dilakukan agar tidak sampai burnout,” saran Ima.

Ima menyarankan, saat merasa burnout, yang pertama bisa dilakukan adalah rehat sejenak dari situasi tersebut. “Mintalah orang lain untuk menggantikan peran ibu untuk sementara waktu dalam mengasuh si Kecil,” ujarnya.

Kemudian, lakukan sesuatu yang pasti akan membuat ibu senang dan membuat baterai emosi kembali stabil. Misalnya, ibu merasa lebih baik ketika dipeluk oleh suami, maka jangan ragu untuk minta dipeluk. Terkadang, perlu juga untuk tidak melakukan apa pun alias bermalas-malasan saja. Seberapa lamanya, tergantung kebutuhan sang Ibu.

Burnout Pria dan Wanita Berbeda

Satu hal yang perlu diingat, pria dan wanita berbeda. Jadi, cara penanganan stres dan burnout pun tidak sama. Secara umum, ketika ada masalah, wanita cenderung mengungkapkannya agar tidak stres.

“Karena memang dianugerahi kemampuan berbicara atau berbahasa 16.000-21.000 kata per hari, para ibu silakan ngobrol dengan siapa saja, orang yang dipercaya tentunya, kalau sedang ada masalah,” saran Ima.

Sedangkan bagi pria, secara umum kalau sedang ada masalah justru butuh waktu untuk sendiri. “Jadi, selama suami tidak bercerita, sebaiknya istri tidak perlu menarik-nariknya untuk curhat karena malah akan memunculkan emosi,” terang Ima.

Ima menambahkan, saat sedang merenung, tandanya suami sedang berpikir. “Cukup ambilkan teh hangat atau kopi, lalu temani,” ujarnya.

Bila suami sudah lebih tenang, mintalah izin untuk memberikan pendapat. Bila suami membuka diri dan bertanya, barulah sampaikan pendapat. Semoga berguna ya, Moms! (BS)