Berandasehat.id – Upaya pencarian terhadap pengobatan COVID-19 terus berlanjut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini mengatakan telah melakukan prakualifikasi pengobatan arthritis tocilizumab untuk digunakan pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 parah, dalam upaya untuk meningkatkan akses terhadap pengobatan.

Antibodi monoklonal, yang digunakan dalam obat anti-peradangan yang dibuat oleh raksasa farmasi Swiss Roche, telah terbukti mengurangi risiko kematian dan juga waktu rawat inap pada pasien tertentu yang menderita COVID parah.

WHO, seperti halnya Amerika Serikat dan Uni Eropa, telah merekomendasikan penggunaannya untuk mengobati COVID yang parah di rumah sakit. Tetapi pasokan obat ini terbatas dan sangat mahal — dosis tunggal dilaporkan mencapai hingga US$600 di negara-negara berpenghasilan rendah, sebut WHO, seraya menambahkan bahwa prakualifikasinya akan membantu membuatnya lebih mudah diakses.

Ilustrasi obat Tocilizumab (dok. istimewa)

Badan kesehatan PBB mengatakan telah menambahkan tiga komposisi berbeda dari antibodi monoklonal ke daftar perawatan prakualifikasi untuk penyakit pandemi, dalam sebuah langkah yang bertujuan untuk memacu lebih banyak produksi versi generik yang lebih murah.

“Pendaftaran tersebut harus membuka jalan bagi lebih banyak perusahaan yang maju untuk mencari prakualifikasi WHO, sehingga meningkatkan jumlah produk yang terjamin kualitasnya dan menciptakan persaingan yang mengarah ke harga yang berpotensi lebih rendah,” sebut pernyataan WHO.

“Prakualifikasi produk-produk ini juga akan memfasilitasi otorisasi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah atas perawatan COVID,” imbuh WHO.

WHO mengatakan proses prakualifikasinya terutama ditujukan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan efikasi/kemanjuran produk medis yang dibeli di negara-negara berkembang.

Prakualifikasi memberikan jaminan kepada negara-negara bahwa mereka membeli produk kesehatan yang berkualitas.

Sebelum tocilizumab, WHO telah melakukan prakualifikasi tiga komposisi berbeda terhadap steroid deksametason untuk mengobati COVID, serta remdesivir antivirus Gilead, meskipun prakualifikasi tersebut telah ditangguhkan.

Tocilizumab sebelumnya telah diotorisasi sebagian besar untuk pengobatan radang sendi di sekitar 120 negara. Tetapi selama pandemi, obat itu juga telah terbukti menekan ‘badai sitokin’ yang berbahaya, sebuah istilah yang merujuk pada reaksi berlebihan dari sistem kekebalan terhadap virus corona.

WHO menunjukkan bahwa paten untuk tocilizumab telah kedaluwarsa untuk sebagian besar penggunaan. “Ini berarti tidak boleh ada hambatan kekayaan intelektual,” sebut WHO meskipun badan PBB itu memperingatkan ada ketersediaan global yang rendah untuk produk biosimilar yang terjamin kualitasnya.

WHO mengatakan saat ini sedang berdiskusi dengan Roche bagaimana menurunkan harga dan meningkatkan akses di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kepada AFP, badan dunia PBB itu bahwa sementara prakualifikasi yang ditetapkan pekan ini khusus untuk produk Roche, namun banyak perusahaan generik sudah memproduksi tocilizumab, beberapa di antaranya juga telah mengajukan prakualifikasi. Jika terbukti memenuhi standar WHO, mereka dapat memasuki pasar internasional.

“Dalam arti, prakualifikasi juga secara tidak langsung mempromosikan produksi lokal yang berkualitas, dan pada akhirnya pasokan yang lebih besar dan harga yang lebih kompetitif,” pungkas WHO. (BS)