Berandasehat.id – Artis sekaligus influencer Thalita Latief tidak menduga kalau terkena kanker tiroid. Awalnya, presenter ini tidak merasakan sakit atau gejala apapun. Namun dia menemukan adanya yang keanehan dengan leher sebelah kanannya dan rambutnya mulai rontok.

Perempuan keturunan Slovakia, Pakistan, Jerman, dan Minangkabau, Sumatra Barat, mengaku pada awal 2019 merasakan ada benjolan di lehernya. Namun, tidak ada tindakan apapun yang dilakukannya. Benjolan itu dibiarkan sampai setahun karena tidak ada masalah kesehatan apapun yang dirasakan.

Setelah setahun benjolan tidak hilang, Thalita pun mulai mengajak ibunya untuk periksa ke dokter spesialis penyakit dalam. Lantas dokter memintanya memeriksakan diri ke bagian radiologi. Setelah hasil keluar, dia dirujuk ke bagian onkologi.

Aktris Thalita Latief (dok. Instagram)

Saat itu, Thalita mengaku ada perasaan tidak nyaman saat dirujuk ke bagian onkologi. Mengingat, dia cukup familiar dengan istilah onkologi karena punya saudara dengan riwayat kanker. “Dengar istilah onkologi langsung cemas, karena ada saudara dengan riwayat kanker,” ujar Thalita saat berbagi kisah di acara webinar ‘From Heart to Heart: Dukungan untuk Pejuang Kanker Hati dan Kanker Tiroid’ yang dihelat oleh PT Eisai Indonesia dan komunitas terkait, baru-baru ini.

Hasil pemeriksaan di bagian onkologi menyatakan ada sel kanker di kelenjar tiroid. “Kaki rasanya langsung lemas. Tak pernah terbayangkan bahwa sel kanker itu sudah tumbuh 1,2 centimeter. Saya menangis tidak tahu harus bagaimana,” ujar perempuan kelahiran 6 Desember 1988.

Untuk mengatasi hal ini, dokter menyarankan operasi. Saat itu Thalita sangat khawatir dengan istilah operasi karena kelenjar tiroidnya sangat dekat dengan pita suara. “Sebagai aktris dan MC, suara sangat penting bagi saya,” terangnya.

Namun Thalita menguatkan hati demi sang buah hati. ”Anak saya masih kecil, (saat itu) masih enam tahun. Itulah kekuatan saya. Kanker bukanlah akhir,” sebut pemain film Lawang Sewu: Dendam Kuntilanak.

Operasi berhasil dan pita suara Thalita tidak terdampak. Thalita mengaku banyak sekali hikmah di balik kanker tiroid yang dialaminya. Dia merasa kisah hidupnya bisa berguna bagi para penderita kanker. “Yang mulanya penakut, kini jadi pemberani. ”Saya ini bangga. Bukan karena kankernya. Tapi bangga jadi pejuang,” ujarnya.

Deteksi Dini Kanker Tiroid

Kesempatan sama, dr. Alvita Dewi Siswoyo, Sp.KN(K), M.Kes., FANMB mengatakan deteksi kanker tiroid sebenarnya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan deteksi kanker hati. “Cek bagian leher. Kalau ada benjolan, segera periksa ke dokter untuk deteksi dini,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

Alvita menekankan kanker tiroid perlu perhatian penuh dan kolaborasi positif dari banyak pemangku kepentingan terkait, yakni pasien, caregiver/pendamping, tenaga profesional medis, komunitas pasien, dan lembaga. “Tujuannya agar penderita gangguan tiroid, atau disebut pejuang tiroid dapat melakukan langkah-langkah preventif maupun pengobatan yang sesuai dengan gangguan yang dideritanya,” ujarnya.

Melalui deteksi dini #PeriksaLeherAnda, sebut Alvita, diharapkan angka kejadian kanker tiroid dengan kategori risiko tinggi dapat dicegah.

Sejalan dengan hal tersebut, Pita Tosca Indonesia, Komunitas Pejuang Tiroid Indonesia, yang telah dikukuhkan sebagai komunitas pasien yang berdiri sejak 26 Oktober 2014, berusaha berperan aktif untuk memberikan informasi seputar pemahaman gangguan tiroid, khususnya kanker tiroid.

Ketua dan Founder dari Komunitas Pita Tosca Indonesia, Astriani Dwi Aryaningtyas, S.Psi., M.A, menyampaikan Pita Tosca Indonesia sangat mengedepankan program deteksi dini #PeriksaLeherAnda agar semakin banyak skrining gangguan tiroid yang dilakukan sebagai upaya pencegahan kanker tiroid dengan kategori risiko tinggi.

“Perlu sekali adanya kolaborasi antar Lembaga terkait untuk mewujudkan kondisi para pejuang kanker ini agar tetap #TenangJadiPasien dan mendapatkan pendampingan yang baik,” tandas Astriani. (BS)