Berandasehat.id – Cina menyaksikan lonjakan baru dalam kasus COVID-19 meskipun menganut kebijakan pendekatan ‘tanpa toleransi’ yang dianggap ‘keras’ untuk menangani wabah.

Wilayah daratan pada Senin (7/3/2022) melaporkan 214 kasus infeksi baru selama 24 jam sebelumnya, provinsi selatan Guangdong yang berbatasan dengan Hong Kong, telah mencatat puluhan ribu kasus per hari. Kasus lain dilaporkan di provinsi Jilin, lebih dari 2.000 kilometer (1.200 mil) ke utara, dan di provinsi timur Shandong.

Dalam laporan tahunannya kepada badan legislatif nasional, Sabtu pekan lalu, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan Cina perlu ‘terus-menerus memperbaiki penahanan epidemi’ tetapi tidak memberikan indikasi bahwa Beijing mungkin melonggarkan strategi ‘tanpa toleransi’ yang keras namun dipuji dapat membatasi penyebaran virus corona.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Li menyerukan percepatan pengembangan vaksin dan ‘memperkuat pengendalian epidemi’ di kota-kota tempat pelancong dan kedatangan barang dari luar negeri.

Kebijakan ‘tanpa toleransi’ membutuhkan karantina dan penguncian di seluruh komunitas dan tak jarang bahkan kota-kota ketika hanya segelintir kasus yang terdeteksi. Pejabat Cina memuji pendekatan itu, diimbangi dengan tingkat vaksinasi lebih dari 80%, dengan membantu mencegah wabah besar meluas secara nasional. Tetapi para kritikus mengatakan kebijakan itu mengambil korban besar pada ekonomi dan mencegah populasi membangun kekebalan alami.

Sejauh ini tidak ada kasus baru yang dilaporkan di Beijing dan kota itu sebagian besar kembali normal, meskipun masker terus dipakai di tempat-tempat umum di dalam ruangan.

Salah satu bidang yang masih merasakan dampak ketatnya pengendalian COVID-19 adalah bidang keagamaan. Tiga gereja Katolik paling terkenal di Beijing, kuil Buddha, dan masjid telah diperintahkan ditutup pada Januari 2022 tanpa tanggal definitif kapan akan dibuka kembali.

Bahkan sebelum pandemi, lembaga-lembaga semacam itu berada di bawah tekanan berat dari otoritas Komunis untuk menindaklanjuti tuntutan dari pemimpin Xi Jinping agar semua pusat keagamaan dibersihkan dari pengaruh luar, termasuk penampilan fisik tempat-tempat ibadah, demikian dilaporkan The Associated Press. (BS)