Berandasehat.id – Indonesia masih dihadapkan pada persoalan gizi serius, yang bisa berujung pada masalah stunting. Bicara tentang stunting, hal ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan terutama jika ingin mencapai generasi yang berkualitas. 

Seperti kita ketahui, pada 2045, Indonesia akan genap berusia satu abad atau 100 tahun. Saat itu, Indonesia diharapkan mampu mencetak Generasi Emas dengan memanfaatkan bonus demografi. Bonus demografi dapat tercapai jika kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia terbukti mumpuni sehingga berkontribusi bagi perekonomian negara. Hal sebaliknya bisa terjadi bila pada SDM di usia produktif tidak memiliki kualitas yang baik sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

Dengan bonus demografi, Indonesia diharapkan mampu menjadi lima negara di dunia dengan ekonomi terbesar. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kualitas SDM. Perlu diketahui, pemimpin bangsa tahun 2045 adalah mereka yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar dan pendidikan menengah (usia tidak produktif) dan generasi yang masuk ke dalam penduduk usia produktif.

Ilustrasi pengukuran untuk mengetahui status gizi anak (dok. istimewa)

Dengan kata lain, kualitas generasi mendatang ditentukan oleh saat ini. Hal yang menjadi batu sandungan dalam pencapaian Generasi Emas 2045 adalah isu stunting. Angka anak yang kerdil (stunted) di Indonesia meski menurut data terbaru telah menurun, namun masih di ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sayangnya, studi terbaru South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mendapati prevalensi anak stunted dan anemia, khususnya di antara anak-anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia, masih tinggi. 

Disampaikan Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), selaku Peneliti Utama SEANUTS II di Indonesia dan Guru Besar di Fakultas Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, studi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunted atau perawakan pendek, anemia, asupan makanan, aktivitas fisik anak dan kebugaran jasmani terkait kesehatan, perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak. 

“Kami berharap data temuan yang dihasilkan dari SEANUTS II dapat menjadi acuan tenaga medis, pemerintah, bahkan orang tua, untuk menanggulangi masalah malnutrisi di Indonesia,” ujar Prof Rini dalam temu media yang dihelat Frisian Flag Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Prof Rini juga mendorong perlunya upaya meningkatkan ketahanan pangan dan ketersediaan makanan yang bisa memberikan asupan gizi yang seimbang. “Tujuannya agar anak meningkatkan akses kepada sumber gizi yang sehat dan tumbuh kembangnya berlangsung dengan optimal,” tuturnya.

Temuan Penting Studi SEANUTS II

SEANUTS II merupakan lanjutan dari South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS I), yang dipublikasikan pada 2013. Studi skala besar ini dilakukan oleh FrieslandCampina, dalam rentang waktu antara 2019 dan 2021, bekerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. 

SEANUTS II melibatkan hampir 14.000 anak, antara usia enam bulan hingga 12 tahun, khusus menyoroti ‘triple burden of malnutrition’ yang terdiri dari kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan berat badan/obesitas. Ketiga masalah itu kerap terjadi berdampingan di suatu negara dan bahkan bisa terjadi dalam satu rumah tangga. Dalam hal ini stunting, adalah salah satu bentuk dari kekurangan gizi di Indonesia masih menjadi isu yang perlu diperhatikan.  Mengingat, angka stunting di Indonesia masih di atas ambang batas yang ditetapkan WHO.

Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan angka stunting di Indonesia turun dari posisi 27,7 persen pada 2019 menjadi 24,4 persen. Angka ini mengalami penurunan 3,3 persen dalam kurun dua tahun (1,6 persen per tahun). Namun demikian 24,4% itu masih belum memenuhi standar WHO yang mensyaratkan angka stunting di bawah 20%. Perlu diketahui, Pemerintah memiliki target menurunkan angka stunting ke level 14 persen pada 2024, yang tertuang dalam Perpres RI No 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Stunting merupakan kondisi ketika balita memiliki tinggi badan di bawah rata-rata, yang diakibatkan asupan gizi yang diberikan, dalam waktu yang panjang tidak sesuai dengan kebutuhan. Mengapa stunting perlu menjadi perhatian bersama? Tak lain karena stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti obesitas, hipertensi hingga diabetes.

Salah satu hasil utama dari SEANUTS II di Indonesia adalah kasus stunted  yang masih banyak ditemukan pada anak-anak di wilayah Jawa-Sumatera, dengan prevalensi sebesar 28,4 persen. Ini artinya, satu di antara 3,5 anak berperawakan pendek. Adapun prevalensi anemia adalah 25,8 persen pada anak di bawah 5 tahun. Sementara itu, hampir 15 persen anak usia 7–12 tahun memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.  

Prof Rini menyampaikan, secara keseluruhan, SEANUTS II menunjukkan bahwa permasalahan anak stunted atau berperawakan pendek dan anemia masih ada, terutama pada anak-anak usia dini. Namun, untuk anak yang berusia lebih tua, tingkat prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih tinggi.  

Studi juga menemukan, sebagian besar anak-anak tidak memenuhi kebutuhan rata-rata asupan kalsium dan vitamin D. Hasil pengecekan biokimia darah juga menunjukkan adanya ketidakcukupan vitamin D pada sebagian besar anak. Masalah gizi ini menjadi hal yang sangat penting. Untuk mengatasi kesenjangan gizi, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui intervensi gizi yang lebih baik dan program edukasi. 

Di Indonesia, FrieslandCampina melalui Frisian Flag Indonesia mulai melakukan studi SEANUTS II, pada 2019. Studi ini dilakukan di 21 kabupaten/kota di 15 provinsi dan melibatkan sekitar 25 tenaga dokter, ahli gizi, ahli kesehatan masyarakat, dan ahli olahraga. Bekerja sama dengan lembaga penelitian dan sejumlah universitas di Indonesia, SEANUTS II melakukan penelitian terhadap sekitar 3.000 anak dengan rentang usia antara 6 bulan sampai 12 tahun. 

Perlunya Mendorong Akses Gizi yang Lebih Baik 

Hasil studi SEANUTS II menunjukkan adanya langkah lebih besar untuk memetakan persoalan nutrisi dengan langkah-langkah kolaboratif dan kebijakan yang strategis. Tujuannya untuk memberikan anak-anak Indonesia akses yang lebih besar terhadap gizi yang lebih baik dan menurunkan angka malnutrisi serta permasalahan gizi anak lainnya.  

Sejumlah riset telah menunjukkan bahwa ada sejumlah cara untuk meminimalkan risiko stunting, misalnya bayi mendapatkan ASI eksklusif saat usia 0-6 tahun dan diteruskan dengan MPASI. Komposisi MPASI harus mengandung karbohidrat, lemak, dan protein – dalam hal ini diutamakan protein hewani. Ada alasan mengapa protein hewani menjadi prioritas, mengingat kandungan asam amino pada protein hewani lengkap, berbeda dengan protein nabati. Contoh sumber protein hewani yang baik adalah susu dan telur, dua jenis pangan yang mudah diakses sebagian besar masyarakat dan harganya relatif terjangkau.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia Andrew F Saputro,  mengatakan, Frisian Flag Indonesia sebagai bagian dari FrieslandCampina, turut berkontribusi menciptakan produk susu yang bisa diakses semua kalangan dengan harga terjangkau.

Minum susu menjadi salah satu cara minimalkan/cegah stunting (dok. istimewa)

Terkait dengan studi SEANUTS II, Andrew  berharap hasilnya bisa menjadi data komplementer bagi data nasional yang ada, dan dapat dijadikan referensi bagi pemerintah, akademisi, pemangku kepentingan dan semua pihak yang terkait sebagai basis data pembuatan program intervensi ataupun perumusan kebijakan terkait peningkatan status gizi anak Indonesia.

“Studi SEANUTS semakin menguatkan tekad Frisian Flag Indonesia untuk terus melakukan berbagai inovasi produk, program intervensi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan akan kesehatan umum dan literasi gizi,” terang Andrew. 

Dia menambahkan, pada 2013, studi SEANUTS I melatarbelakangi lahirnya program Gerakan Nusantara atau program edukasi gizi anak sekolah yang hingga kini telah menjangkau lebih dari 2,5 juta anak sekolah dasar di berbagai pelosok sekolah Indonesia. “Serta untuk  inovasi, kami telah meluncurkan berbagai produk susu keluarga dan pertumbuhan yang tepat gizi dengan harga terjangkau,” pungkas Andrew. (BS)