Berandasehat.id – Penyakit diabetes melitus disebabkan oleh faktor keturunan dan gaya hidup. Namun, sejumlah masyarakat kerap kali meyakini bahwa penyakit ini disebabkan oleh kebiasaan ngemil. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, karena camilan yang manis mengandung tinggi gula dan kalori.

“Ketika mengonsumsi bahan makanan tinggi kalori, dapat memicu terjadinya obesitas, faktor risiko terjadinya penyakit diabetes. Karenanya ngemil harus diperhatikan dari jumlahnya dan dari jenis camilan yang dikonsumsi. Supaya tidak memicu terjadinya penyakit diabetes,” ujar Healthcare Communicator Kalbe Nutritionals dr. Adeline Devita dalam live Instagram @ptkalbefarmatbk.

Penyakit diabetes dapat terjadi pada anak hingga orang dewasa dan memiliki tanda atau gejala yang sama. Salah satunya, orang tersebut akan mudah lelah, tetapi tidak karena beraktivitas berat. Begitu juga dengan anak-anak yang kalau capai akan banyak tidur, padahal usia anak-anak seharusnya aktif dengan banyak aktivitas.

Gejala berikutnya adalah mudah lapar sehingga sering makan, tetapi tubuhnya tetap kurus. Juga sering haus melebihi normalnya orang kehausan akibat banyak aktivitas, dan hal ini disebut dengan polidipsi. Kemudian, banyak buang air kecil apalagi di malam hari.

Ilustrasi wafer (dok. ist)

Selanjutnya, apabila ada luka akan lama sembuhnya sehingga muncul istilah yang disebut diabetes basah karena luka yang terbuka dan tidak kunjung sembuh. Gejala lain pada orang dewasa, pandangan mata akan lebih mudah buram atau kabur. Apabila gejala itu terjadi, pertanda sudah terjadi komplikasi bahkan ke organ mata diabetesi (pasien penyandang diabetes).

”Sebenarnya kita ngemil itu bukan yang tidak boleh sama sekali, apalagi untuk para diabetesi itu ngemil diwajibkan. Karena, perhitungan kalori untuk diabetesi adalah 5-6 kali makan dalam sehari, yakni 3 kali makan besar dan 2-3 kali cemilan atau selingan. Di selingan itu juga harus disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing orang,” jelas dr. Adel.

Dia menyampaikan, perhitungan camilan sekitar 90 kalori berdasarkan peraturan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). “Jadi pilihlah camilan yang jenisnya termasuk kategori yang baik, misalkan snack sehat, bisa juga buah-buahan, salad sayur, atau kacang-kacangan. Tetapi harus dihitung kalorinya,” imbuh dr. Adel.

Mengonsumsi banyak buah yang diyakini baik untuk kesehatan, tetapi untuk diabetesi tidak boleh langsung dikonsumsi sekali makan. Dalam hal ini, harus diperhitungkan jumlah kalori dari satu porsi buah-buahan tersebut, sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan RI. 

Selain buah, camilan lain yang ramah untuk penyandang diabetes misalnya Diabetasol Wafer. “Diabetasol selama ini dikenal dengan produk susu atau nutrisi pengganti makan, lalu produk pengganti gula atau sweetener. Namun, Diabetasol juga tersedia snack yang aman untuk diabetes yaitu Diabetasol Wafer. Diabetasol Wafer ini mengandung serat yang tinggi sehingga bisa memberi rasa kenyang lebih lama,” ungkap Brand Manager Diabetasol Dewa Baskara.

Ia menyampaikan, apabila diabetesi mengonsumsi makanan yang tinggi serat, otomatis akan menekan rasa lapar sehingga diabetesi tidak mudah ngemil. Meskipun rasa Diabetasol Wafer manis coklat, namun kandungannya sehat untuk pasien diabetes – di antaranya tinggi serat untuk membantu diabetesi mengontrol gula darah lebih stabil, mengandung 0 gram gula, dan krim yang terbuat dari bubuk coklat asli.

Cara konsumsinya, disarankan 3 hingga 4 keping Diabetasol Wafer per sekali waktu ngemil, karena kalorinya di angka 90 kalori. Jam konsumsinya, kalau kita perhatikan pola makan diabetesi 3 kali makan dan 3 kali selingan. Camilan Diabetasol Wafer bisa dikonsumsi pada pukul 10 pagi, 3 sore, dan 7 malam.