Berandasehat.id – Belum lama ini penyakit misterius yang melanda Republik Demokratik Kongo telah menginfeksi sedikitnya 419 orang dan merenggut 50 nyawa sejak awal tahun.
Penyakit yang diyakini telah memasuki wabah kedua pada bulan Februari, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat kesehatan karena sebagian besar korban telah meninggal dalam waktu 48 jam setelah mengalami gejala.
Wabah pertama penyakit yang tidak diketahui tersebut dilaporkan pada bulan Januari silam setelah tiga anak meninggal dalam waktu dua hari setelah mengalami gejala demam berdarah yang terkait dengan konsumsi kelelawar.
Tingkat kematian yang tinggi dari penyakit tersebut, serta korban yang meninggal hanya dalam beberapa jam atau hari setelah mengalami gejala, semakin meningkatkan kekhawatiran di kalangan pejabat kesehatan. “Itulah yang benar-benar mengkhawatirkan,” kata Serge Ngalebato, direktur medis Rumah Sakit Bikoro, sebuah pusat pemantauan regional, kepada The Associated Press.
Setelah wabah kedua muncul di Bomate pada 29 Februari, pejabat kesehatan segera menyelidiki apakah penyakit tersebut mungkin telah berpindah dari hewan ke manusia.

Kasus penularan zoonosis menjadi perhatian yang terus berkembang di Afrika, dengan kasus yang dilaporkan meningkat lebih dari 60% dalam dekade terakhir. Jika tidak diatasi, penyakit penularan zoonosis meningkatkan kemungkinan pandemi global, terutama dengan penyebaran yang dipercepat karena perjalanan yang lebih cepat, perubahan lingkungan, dan meningkatnya kontak manusia-satwa liar.
Menurut perkiraan WHO sekitar satu miliar kasus penyakit dan jutaan kematian terjadi secara global setiap tahun karena zoonosis. Selama tiga dekade terakhir, lebih dari 30 patogen manusia baru telah terdeteksi, dengan 75% berasal dari hewan.
Untuk mengidentifikasi sumber infeksi misterius saat ini, pejabat kesehatan telah mengirimkan lebih dari 13 sampel ke Institut Nasional untuk Penelitian Biomedis di Kinshasa, ibu kota Kongo, untuk pengujian ekstensif.
Sejauh ini, semua sampel telah diuji negatif untuk Ebola dan demam berdarah mematikan lainnya seperti Marburg. Namun, beberapa sampel telah kembali positif untuk malaria.
Menurut laporan WHO sebelumnya, penyakit lain yang tidak terdiagnosis menyerang 406 orang di Kongo, termasuk 31 kematian antara Oktober dan Desember 2024.
Para pejabat kemudian menetapkan bahwa infeksi tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh malaria. Pasien menunjukkan gejala seperti demam, sakit kepala, batuk, pilek, kelelahan, dan nyeri tubuh. Sebagian besar kasus yang dilaporkan terjadi pada anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah lima tahun. (BS)