Berandasehat.id – Selama ini, pemahaman publik mengenai risiko human papillomavirus (HPV) masih terbatas pada dampaknya terhadap kesehatan perempuan, dalam hal ini infeksi HPV risiko tinggi terkait pada hampir semua kasus kanker leher rahim (99%). Faktanya, ancaman virus ini juga nyata bagi kesehatan laki-laki.

Data global mencatat bahwa hampir 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis virus HPV. Lebih dari sekadar menjadi pembawa virus, laki-laki juga menanggung beban penyakit yang signifikan dengan berkontribusi pada sekitar 40% seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, FINSDV, FAADV, menekankan infeksi HPV merupakan masalah kesehatan bersama yang tidak mengenal gender, pria dan wanita bisa terkena. “Banyak laki-laki terinfeksi HPV yang tanpa gejala, tidak disadari,” ujarnya dalam diskusi media ‘Memahami HPV pada Anak Laki-laki’ yang dihelat MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, baru-baru ini.

Di luar kanker leher rahim pada perempuan, infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin, prakanker, kanker penis, hingga kanker orofaring pada laki-laki. “Selain itu, fakta medis menunjukkan bahwa laki-laki biasanya tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV, sehingga risiko infeksi persisten menjadi lebih besar,” ujar dr. Hanny.

Untuk diketahui, HPV menyerang kulit dan area genital. Menurut dr. Hanny, dalam banyak kasus, infeksi ini bersifat sementara (transien). “Namun, pada kondisi tertentu, virus dapat menetap (persisten) di dalam tubuh dan berkembang menjadi penyakit serius. Dan kita tidak pernah tahu apakah virus itu akan bertahan di dalam tubuh atau tidak,” ujarnya.

Dia menyampaikan, proses infeksi HPV biasanya dimulai dari infeksi lokal, kemudian memicu perubahan sel menjadi lesi prakanker hingga berkembang menjadi kanker.

Pada laki-laki, HPV dapat menyebabkan kutil kelamin, kanker penis, kanker skrotum, kanker anus, kanker mulut, hingga kanker tenggorokan. Yang perlu diwaspadai, sebut dr. Hanny, laki-laki cenderung tidak membentuk kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV. “Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi menetap yang berpotensi berkembang menjadi kanker,” cetusnya.

Bahkan, risiko kanker tenggorokan pada laki-laki empat kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. “Ini menunjukkan beban penyakit HPV pada laki-laki sangat tinggi dan sering tidak terlihat,” bebernya.

Pada laki-laki, salah satu tanda infeksi HPV adalah munculnya benjolan menyerupai kembang kol (kutil kelamin) di area genital. Gejala ini kerap tidak disadari karena ukurannya kecil, tidak nyeri, dan bisa tersembunyi, terutama pada laki-laki yang belum disunat.

Umumnya laki-laki mengabaikan gejala ini. Padahal lesi bisa berada di area yang tertutup sehingga menjadi tempat virus bertahan.

Menepis mitos infeksi HPV

Hal lain yang tak kalah penting adalah mitos yang berkembang di masyarakat terkait infeksi HPV. Yang paling populer adalah adanya keyakinan bahwa HPV hanya ditularkan melalui hubungan seksual. Faktanya, sebut dr. Hanny, HPV dapat menyebar melalui kontak kulit ke kulit, serta dari ibu ke bayi saat persalinan normal.

Kontak langsung antar kulit atau selaput lendir juga dapat menjadi jalur penularan. Bahkan, riset menunjukkan sekira 10 persen laki-laki memiliki HPV di dalam air liur.

Saat ini tidak ada metode penapisan/skrining untuk deteksi HPV pada laki-laki, berbeda dengan perempuan yang bisa mendeteksi virus itu dengan pap smear. “Berbeda dengan kanker leher rahim yang memiliki program skrining rutin, kanker orofaring belum memiliki mekanisme skrining populasi, sehingga deteksi dini sering terlambat dilakukan,” imbuh dr. Hanny.

Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya pencegahan sejak dini tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi laki‑laki.

Diskusi media tentang risiko HPV pada laki-laki (dok. Berandasehat.id)

Kesempatan sama, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunadi, SpA(K) berbagi wawasan pentingnya vaksinasi HPV sejak usia dini. Bukti ilmiah mengungkap sistem kekebalan tubuh anak merespons paling optimal di usia 9-13 tahun.

Sejatinya, sebut Prof Hartono, mayoritas atau sekira 90 persen populasi akan terinfeksi HPV setidaknya sekali seumur hidup. Meskipun sebagian besar bisa sembuh sendiri, infeksi berulang atau daya tahan tubuh yang menurun dapat membuat virus menetap dan berisiko menjadi kanker. “Virus HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, guna meminimalkan dan mencegah infeksi HPV, imunisasi/pemberian vaksin HPV merupakan cara paling efektif untuk melindungi setiap orang dari kanker.

“Memberikan imunisasi HPV pada anak usia sekolah dasar adalah langkah optimal untuk memperoleh respons imun maksimal,” tandas Prof Hartono.

Dia menekankan, cakupan vaksinasi yang tinggi, baik pada laki-laki maupun perempuan, dapat mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) dan menekan penyebaran virus secara signifikan. (BS)