Berandasehat.id – Masih banyak salah persepsi terkait human papillomavirus (HPV) di kalangan masyarakat. Salah satu yang paling populer adalah adanya anggapan bahwa memiliki satu pasangan akan membuat perempuan dan laki-laki ‘aman’ serta terhindar dari infeksi HPV yang bisa memicu kanker serviks pada wanita serta kanker penis dan orofaring pada pria.
Menurut dr. Darrell Fernando, Sp.OG, SubspFER, spesialis kebidanan dan kandungan subspesialis fertilitas endokrinologi, wanita yang hanya memiliki satu pasangan tidak sepenuhnya aman dari infeksi HPV. “Persepsi ‘saya aman’ adalah pola pikir yang berbahaya karena bisa memicu kelalaian melakukan tindakan pencegahan,” ujarnya di sela acara seminar IVAXCON 2026 di Jakarta, baru-baru ini.
Dia mengungkap, virus HPV dapat menular melalui kontak kulit. Menurutnya, bila virus HPV yang menempel pada kulit tersebut berhasil menembus lapisan saat hubungan seksual, maka ini dapat menjadi sangat berbahaya. “Setiap individu yang aktif secara seksual berisiko terpapar virus ini,” cetusnya.
Vaksinasi menjadi langkah perlindungan yang esensial dan tidak boleh diabaikan. “Imunisasi HPV adalah salah satu bentuk perlindungan kesehatan, terutama pencegahan kanker serviks pada perempuan,” tandas dr. Darrell.
Bukan hanya berlaku untuk anak usia 9-14 tahun (sebanyak 2 dosis) untuk perlindungan terbaik sebelum aktif secara seksual, vaksin HPV juga perlu dilakukan orang dewasa yang sudah menikah, bahkan memiliki anak.

Studi menyebut, vaksin HPV tetap efektif dan dianjurkan untuk remaja hingga dewasa usia 15–45 tahun. “Sebelum melakukan vaksinasi HPV, dianjurkan skrining dulu dengan pap smear pada wanita yang sudah aktif secara seksual,” ujar dr. Darrell.
Manfaat pap smear dalam hal ini berfungsi sebagai deteksi dini, yakni mengidentifikasi perubahan sel serviks (prakanker) yang mungkin terjadi sebelum vaksinasi. “Bila ditemukan kelainan, dapat ditangani lebih awal sebelum berkembang menjadi kanker,” ujarnya.
Poinnya, vaksin HPV berfungsi sebagai pencegahan terhadap infeksi baru, sedangkan pap smear adalah skrining untuk mendeteksi kondisi saat ini.
Literatur menyebut, vaksin HPV tetap dapat diberikan meskipun hasil pap smear menunjukkan hasil abnormal (atau jika sudah pernah terinfeksi HPV sebelumnya), untuk melindungi dari tipe HPV lainnya.
Lebih lanjut dr. Darrell menjelaskan, vaksin HPV untuk dewasa (usia 15–45 tahun) umumnya diberikan dalam 3 dosis, dengan jadwal 0, 1–2, dan 6 bulan. Jadwal ini bertujuan memberikan perlindungan optimal terhadap kanker serviks dan kutil kelamin.
Kanker serviks merupakan ancaman kesehatan yang serius di Indonesia, menempati posisi ketiga kasus kanker terbanyak. “Tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan vaksin HPV,” sebut dr. Darrell.
Data Globocan tahun 2022 menunjukkan bahwa kanker serviks tercatat sebagai masalah kesehatan serius di Indonesia. Dengan 36.964 kasus, penyakit ini menempati urutan ketiga sebagai penderita kanker terbanyak di negara ini.
Mengingat tingginya angka tersebut, upaya pencegahan melalui vaksin HPV menjadi sangat krusial dan tidak bisa ditunda. Vaksinasi pada kelompok wanita usia produktif diharapkan dapat secara signifikan menekan penambahan kasus baru di masa mendatang. (BS)