Berandasehat.id – Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah kerusakan ginjal yang berlangsung lama dan memburuk secara berkelanjutan. Ini berbeda dengan gagal ginjal, kondisi serius di mana fungsi ginjal hampir atau sepenuhnya berhenti, sehingga memerlukan dialisis atau transplantasi untuk menggantikan fungsi ginjal.

Menurut Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.P.D, Subsp. G.H.(K), Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi, penyakit ginjal kronis bukan kondisi yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang perlahan akibat berbagai faktor, termasuk kurangnya kesadaran akan gejala awal yang sering kali tidak disadari.

“Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah gangguan pada ginjal yang berlangsung dalam jangka panjang dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal,” ujar Prof Aida yang berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Prof Aida mengungkap, PGK terjadi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap selama lebih dari 3 bulan sampai bertahun-tahun, sehingga ginjal tidak mampu menyaring limbah dan mengatur volume cairan tubuh dan fungsi lainnya dengan baik. “Kondisi ini sering ditandai dengan kelelahan, pembengkakan, atau perubahan frekuensi buang air kecil,” cetusnya.

Berdasarkan tingkat keparahannya, PGK dibagi menjadi lima stadium. Stadium lima merupakan tahap akhir yang dikenal sebagai End-Stage Renal Disease (ESRD) atau gagal ginjal. Pada tahap ini, ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal, seperti menyaring darah, membuang limbah metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan keasaman darah.

Kondisi gagal ginjal menyebabkan terganggunya peran ginjal untuk memproduksi hormon penting yang mengatur tekanan darah, pembentukan sel darah merah, dan kesehatan tulang.

Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.P.D, Subsp. G.H.(K), Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi

Ketika memasuki stadium lanjut, penumpukan limbah metabolisme (toksin) dan kelebihan cairan dalam tubuh tidak dapat dihindari. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius. Oleh karena itu, pasien memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti hemodialisis, dialisis peritoneal atau cangkok ginjal.

Meluruskan salah persepsi ‘cuci darah’

Prof Aida menekankan bahwa istilah ‘cuci darah’ yang umum digunakan di masyarakat sebenarnya kurang tepat dan kerap menimbulkan persepsi yang keliru. Pemahaman yang kurang tepat sering kali menimbulkan rasa takut berlebihan, sehingga sebagian pasien menunda pengobatan yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

“Istilah medis yang benar adalah hemodialisis, yaitu prosedur untuk membantu menyaring limbah dan cairan berlebih dari dalam tubuh,” ujarnya.

Penyebab PGK

Berbagai kondisi dapat menyebabkan PGK, dengan dua penyebab utama yang paling sering dijumpai adalah diabetes dan hipertensi.

Pada diabetes, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah halus di ginjal (nefron) yang berfungsi sebagai penyaring. Kerusakan ini menyebabkan fungsi penyaringan ginjal terganggu. Salah satu tanda awalnya adalah proteinuria, yaitu kebocoran protein ke dalam urine yang sering ditandai dengan urine berbusa.

Sementara itu, hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang juga dapat merusak pembuluh darah ginjal dan organ vital lainnya, seperti jantung dan otak. Hubungan antara jantung dan ginjal sangat erat di mana gangguan pada salah satu organ dapat memengaruhi fungsi organ lainnya.

Selain diabetes dan hipertensi, PGK juga dapat disebabkan oleh radang ginjal (glomerulonefritis), infeksi ginjal, sumbatan saluran kemih, misalnya akibat batu ginjal atau pembesaran prostat, penyakit autoimun seperti lupus, hingga efek samping obat-obatan atau zat tertentu yang bersifat toksik bagi ginjal.

Adapun faktor lain seperti kelainan bawaan (misalnya ginjal polikistik), komplikasi infeksi berat, obesitas, kolesterol tinggi, usia lanjut, serta riwayat keluarga juga meningkatkan risiko terjadinya PGK.

Tantangan deteksi dini PGK

Menurut Prof Aida, salah satu tantangan dalam mendeteksi PGK adalah gejalanya yang sering kali tidak muncul pada tahap awal. “Keluhan biasanya baru dirasakan saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut,” ujarnya.

Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain pembengkakan pada tangan, kaki, atau penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas.

Gejala lain adalah kadar kalium tinggi yang berisiko menyebabkan gangguan irama jantung hingga kematian mendadak, tulang menjadi rapuh dan mudah patah, anemia (penurunan kadar hemoglobin), penurunan daya tahan tubuh atau malnutrisi (kurang gizi).

Perlu diketahui, penderita PGK juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, hingga stroke.

Prof Aida menambahkan, PGK tidak bisa sembuh total karena kerusakan ginjal yang sudah lama bersifat permanen. Namun, dengan perawatan yang tepat, seperti pola makan yang sesuai serta terapi pengobatan yang komprehensif dan teratur, pasien dapat memperlambat penurunan fungsi ginjal ke tahap lanjut sehingga dapat menjaga kualitas hidup tetap baik.

Tips mencegah PGK

Prof Aida berbagi tips untuk mencegah dan meminimalkan peluang PGK dengan melakukan langkah berikut:

1. Jaga tekanan darah terkontrol

Penderita hipertensi wajib menjaga tekanan darah tetap pada target pengobatan sekitar 130/80 mmHg. Target ini dapat berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi kesehatan dan komorbid yang dialami.

2. Minum obat teratur

Pasien hipertensi perlu minum obat yang diberikan dokter secara teratur. Diskusikan dengan dokter jika punya kendala dengan obat-obatan yang diberikan.

3. Batasi konsumsi makanan asin, perbanyak asupan sayur dan buah, serta cukup minum air putih minimal delapan gelas sehari.

4. Penyandang diabetes melitus harus memastikan gula darah terkontrol dengan baik, patuhi diet, kontrol rutin, dan minum obat secara teratur.

5. Hindari konsumsi obat yang dapat mengganggu fungsi ginjal seperti obat penghilang rasa nyeri golongan tertentu. “Saat ini banyak sekali beredar jamu-jamu atau obat herbal di pasaran yang tidak semua aman. Pastikan apa yang kita konsumsi bermanfaat dan aman untuk kesehatan,” saran Prof Aida.

6. Lakukan olahraga teratur dengan durasi minimal 30 menit sehari, tiga sampai lima kali seminggu. Jika ada gangguan jantung, konsultasikan dengan dokter mengenai aktivitas fisik yang sesuai.

7. Jaga berat badan ideal karena obesitas dapat mengganggu ginjal

8. Hentikan konsumsi alkohol dan rokok.

9. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Dengan demikian gangguan kesehatan akan terdeteksi lebih dini.

Prof Aida menandaskan, pasien PGK dapat bertahan hidup lama dengan pengobatan yang komprehensif di samping menjalani dialisis atau transplantasi. Namun, harapan hidup bersifat individual dan sangat tergantung pada usia, komorbid, serta kepatuhan menjalani pengobatan. “Secara umum, dengan perawatan yang tepat, gaya hidup sehat, dan dukungan keluarga dapat memperpanjang harapan hidup,” pungkasnya. (BS)