Berandasehat.id – Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang dapat dilakukan karena berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular.

Namun upaya ini memiliki tantangan, salah satunya adanya penolakan atau keraguan terhadap imunisasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari aspek sosial, budaya, keyakinan keagamaan, hingga meningkatnya arus informasi yang tidak valid di media sosial.

Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A (K), membagikan perspektif mengenai pentingnya narasi yang jujur saat berhadapan dengan orang tua di ruang praktik. “Banyak cerita di lapangan yang menunjukkan bahwa keraguan orang tua sering kali bersumber dari kurangnya pemahaman tentang risiko penyakit yang sebenarnya,” ujarnya dalam sesi diskusi panel Simposium Ilmiah di ajang IVAXCON 2026 yang dihelat di Jakarta, baru-baru ini.

Prof Hartono menambahkan, Indonesia tengah menghadapi realita beban penyakit pneumonia dan infeksi pneumokokus yang masih sangat tinggi.

Berbagai penyakit menular seperti infeksi bakteri pneumokokus penyebab pneumonia dan meningitis, human papillomavirus (HPV) yang berkontribusi pada hampir 99% kasus kanker serviks secara global. Adapun campak, gondongan, rubella, dan varicella (MMRV), merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi. 

Sayangnya, rendahnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan masih menjadi tantangan, yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka kesakitan di Indonesia.

“Membangun kepercayaan dimulai dari kemampuan kita sebagai tenaga kesehatan untuk menceritakan manfaat imunisasi secara personal dan berbasis bukti dalam mencegah penyakit infeksi yang berbahaya, sehingga orang tua merasa tenang dan yakin akan perlindungan masa depan anak mereka,” tutur Prof Hartono.

Perlu diketahui, campak dapat menyerang semua usia, termasuk orang dewasa. Risiko komplikasi meningkat pada anak di bawah lima tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun. 

Terkait hal itu, Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam memandang imunisasi sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan sepanjang hayat.

“Imunisasi bukan hanya urusan anak-anak. Orang dewasa, kelompok berisiko tinggi atau yang belum memiliki bukti kekebalan, sangat disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk melengkapi vaksinasinya,” ujarnya.

Tantangan utama di lapangan adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai isu kesehatan yang berkaitan dengan penyakit tertentu, serta upaya pencegahan yang bisa dilakukan. “Persepsi bahwa imunisasi hanya relevan pada masa kanak‐kanak perlu dilihat kembali, mengingat upaya perlindungan kesehatan dapat berbeda sesuai tahapan usia,” tandasnya.

Dalam Immunization Agenda 2030, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan pendekatan life-course immunization, sebuah strategi global untuk memastikan setiap individu memperoleh perlindungan vaksin di seluruh tahapan kehidupan.

Melalui perluasan cakupan imunisasi lintas usia yang menjangkau masa remaja, dewasa, hingga lansia, vaksin berperan penting dalam melindungi masyarakat, memperkuat sistem kesehatan, serta mendukung ketahanan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan IVAXCON 2026 yang dihelat MSD Indonesia mempertemukan ratusan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan anak, penyakit dalam, obstetri ginekologi, hingga dermatovenerologi dan kedokteran umum.

Forum ini tidak hanya menyoroti perkembangan data klinis terbaru, tetapi juga menghadirkan cerita dan realitas tantangan imunisasi di lapangan sebagai dasar penguatan solusi kolektif bagi ketahanan kesehatan nasional.

“Melalui IVAXCON 2026, MSD menghadirkan ruang kolaborasi lintas disiplin bagi para tenaga kesehatan untuk saling berbagi bukti ilmiah dan pengalaman nyata dari lapangan. Kami percaya bahwa setiap data dan cerita yang dibagikan dapat memperkuat kita dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat sehingga tercapai perlindungan kesehatan bagi setiap generasi di Indonesia,” ujar Direktur Pelaksana MSD Indonesia, George Stylianou. (BS)