Berandasehat.id – Risiko kematian enam kali lebih tinggi di antara pasien yang mengalami sesak napas setelah dirawat di rumah sakit, menurut penelitian yang diterbitkan dalam ERJ Open Research.

Studi yang melibatkan hampir 10.000 orang menunjukkan bahwa menanyakan pasien apakah mereka merasa sesak napas dapat membantu dokter dan perawat untuk memfokuskan perawatan pada mereka yang paling membutuhkannya.

Studi ini adalah yang pertama dari jenisnya dan dipimpin oleh Associate Professor Robert Banzett dari Harvard Medical School, Boston, AS.

“Sensasi dispnea, atau ketidaknyamanan bernapas, adalah gejala yang sangat tidak menyenangkan. Beberapa orang mengalaminya seperti merasa kekurangan udara atau tercekik,” tutur Banzett.

Di rumah sakit, perawat secara rutin meminta pasien untuk menilai rasa sakit yang mereka alami, tetapi ini tidak berlaku untuk dispnea.

“Sebelumnya, penelitian kami menunjukkan bahwa kebanyakan orang pandai menilai dan melaporkan gejala ini, namun hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan apakah gejala ini terkait dengan tingkat keparahan penyakit pasien rumah sakit,” imbuhnya.

Para peneliti menganalisis sesak napas dan nyeri yang dinilai pasien terhadap 9.785 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit antara Maret 2014 hingga September 2016.

Mereka membandingkannya dengan data luaran, termasuk kematian, dalam dua tahun berikutnya.

Hasil ini menunjukkan bahwa pasien yang mengalami sesak napas di rumah sakit enam kali lebih mungkin meninggal di sana dibandingkan pasien yang tidak merasa sesak napas.

Semakin tinggi pasien menilai sesak napas, semakin tinggi risiko kematian mereka.

Pasien dengan dispnea juga lebih mungkin membutuhkan perawatan dari tim tanggap cepat dan perlu dipindahkan ke perawatan intensif.

Dua puluh lima persen pasien yang merasa sesak napas saat istirahat ketika mereka dipulangkan dari rumah sakit meninggal dalam waktu enam bulan, dibandingkan dengan 7% mortalitas di antara mereka yang tidak merasakan dispnea selama dirawat di rumah sakit.

Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas antara nyeri dan risiko kematian.

“Penting untuk dicatat bahwa dispnea bukanlah hukuman mati, bahkan pada kelompok risiko tertinggi, 94% pasien bertahan hidup setelah dirawat di rumah sakit, dan 70% bertahan hidup setidaknya dua tahun setelah dirawat di rumah sakit,” beber Profesor Banzett.

Namun, mengetahui pasien mana yang berisiko dengan penilaian yang sederhana, cepat, dan murah akan memungkinkan perawatan individual yang lebih baik.

“Kami percaya bahwa secara rutin meminta pasien untuk menilai sesak napas mereka akan menghasilkan manajemen yang lebih baik dari gejala yang sering menakutkan ini,” terangnya.

Sensasi dispnea adalah peringatan bahwa tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen dan karbon dioksida.

Kegagalan sistem ini merupakan ancaman eksistensial. Sensor di seluruh tubuh, di paru-paru, jantung, dan jaringan lainnya, telah berevolusi untuk melaporkan status sistem setiap saat, dan memberikan peringatan dini akan kegagalan yang akan datang disertai respons emosional yang kuat.

Rasa sakit juga merupakan sistem peringatan yang berguna, tetapi biasanya tidak memperingatkan adanya ancaman eksistensial.

Para peneliti mengatakan temuan mereka perlu dikonfirmasi di berbagai jenis rumah sakit di belahan dunia lain, dan penelitian diperlukan untuk menunjukkan apakah meminta pasien untuk menilai sesak napas dapat menghasilkan perawatan dan hasil yang lebih baik. (BS)