Berandasehat.id – Kisah Bunga (10) dari Tegal, Jawa Tengah, membuka mata kita terhadap tantangan kesehatan ganda yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Di balik kesehariannya yang tampak normal, Bunga berjuang melawan dua masalah kesehatan yang sering terlewat dari perhatian, yaitu risiko diabetes yang tidak terdeteksi dan diare berulang akibat sanitasi yang buruk.
Bunga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain dengan ponsel ibunya, serta lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula dibandingkan dengan buah dan sayuran.
Pada usia sembilan tahun, ia pernah terdeteksi memiliki kadar gula darah tinggi, namun tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak ada diagnosis resmi maupun tindakan medis.
Selain itu, ia kerap mengalami diare berat hingga menyebabkan dehidrasi akibat air sumur di rumahnya yang tercemar, serta belum terbiasa menerapkan perilaku cuci tangan yang baik dan benar.
Kondisi ini mencerminkan persoalan kesehatan ganda yang lebih luas yang dialami oleh jutaan masyarakat Indonesia.

“Bunga tidak hanya seorang pasien, tetapi juga mencerminkan sistem di mana risiko terus terakumulasi tanpa disadari, dan pencegahan baru dilakukan ketika sudah terlambat,” ujar Dr. Widyaretna Buenastuti, pendiri NADI (Network for Advancing Development and Innovation in Health).
Menurutnya, kondisi ini merupakan peringatan bagi sistem kesehatan. Kisah Bunga merupakan refleksi realitas jutaan masyarakat Indonesia yang menghadapi beban ganda dari penyakit menular dan tidak menular secara bersamaan.
“Kisah Bunga tidak berbeda; ini adalah peringatan. Ia hidup dengan beban ganda penyakit, menghadapi penyakit menular dan kondisi kronis yang dialami jutaan orang di seluruh Indonesia,” tutur Widyaretna.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 11,7% orang dewasa menderita diabetes (berdasarkan kadar gula darah) tanpa banyak yang menyadarinya.
Adapun 5,2% anak usia 1–4 tahun mengalami diare, 66,4% dewasa tidak pernah memeriksa gula darah, sedangkan 51,1% dewasa menerapkan cuci tangan yang benar.
Menurut Widyaretna, data itu menunjukkan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama, di antaranya rendahnya deteksi dini dan pemeriksaan rutin di kalangan masyarakat, perlunya edukasi dan akses pemeriksaan kesehatan yang lebih merata, serta pemeriksaan sederhana yang dapat mendeteksi penyakit lebih awal belum menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Indonesia.
Dia menyoroti laporan resmi Kemenkes tentang evaluasi capaian program GERMAS, sebanyak 73,93% kabupaten/kota telah menerapkan kebijakan GERMAS pada tahun 2023. Namun, masih terdapat kesenjangan antarwilayah akibat perbedaan kapasitas fiskal dan kapasitas kelembagaan.
Paradoksnya, daerah dengan beban penyakit tertinggi justru sering kali memiliki kesiapan sistem kesehatan yang paling rendah.
“Jadi peningkatan kesadaran saja tidak cukup untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas, perubahan perilaku yang konsistenlah yang diharapkan akan memberikan dampak nyata,” cetusnya.
Analisis menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya melalui kampanye informasi, tetapi juga membutuhkan pendekatan struktural yang mencakup lingkungan, insentif, norma sosial-budaya, serta kemudahan akses. “Program seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) merupakan langkah positif dalam memperkuat deteksi dini dan pencegahan,” sebut Widyaretna.
Untuk mengoptimalkan potensinya, program ini perlu didukung dengan arahan tindak lanjut dan jejaring pemangku kepentingan guna mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Rekomendasi pendekatan ABC
Menurut Widyaretna, diperlukan solusi yang lebih sistematis untuk ke depan, mencakup:
● A – Apply Segmentation & Targeting
Intervensi perlu disesuaikan dengan segmen populasi agar lebih relevan dan efektif. Dukungan pemerintah pusat juga perlu difokuskan pada wilayah dengan tingkat beban penyakit yang tinggi dan sumber daya yang terbatas.
● B – Bridge Awareness to Action
Pentingnya kerangka dan peta jalan lintas sektor yang berlandaskan teori perubahan yang didefinisikan dengan jelas. Permasalahan kesehatan masyarakat bukan hanya ranah Kementerian Kesehatan. Evaluasi juga perlu menekankan hasil jangka panjang (outcome), seperti literasi kesehatan, produktivitas, dan pengembangan sumber daya manusia, bukan hanya aktivitas.
● C – Control on Conflicting Messages
Konsistensi pesan promosi kesehatan perlu diperkuat melalui penyelarasan lintas kebijakan dan lintas platform untuk menghindari kontradiksi. Kontradiksi dan inkonsistensi dalam pesan dapat menimbulkan disorientasi informasi di masyarakat.
Widyaretna menekankan, hal ini bukan perubahan arah promosi kesehatan, melainkan pendalaman dampak agar kesadaran menjadi tindakan, dan tindakan menjadi perubahan yang berkelanjutan.
Gagasan ini berlaku untuk seluruh inisiatif promosi kesehatan, mulai dari perilaku hidup sehat, imunisasi, hingga kesehatan mental. (BS)