Berandasehat.id – Kemitraan antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi merupakan dukungan nyata terhadap transformasi dan penguatan ketahanan kesehatan nasional.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengungkap kolaborasi yang melibatkan perguruan tinggi untuk mencetak tenaga kesehatan yang kompeten melalui pendekatan edukasi, riset, dan pengabdian masyarakat sejalan dengan model Academia-Business-Government (ABG) yang diinisiasi BPOM.

Langkah itu dinilai efektif dalam mendorong hilirisasi riset dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

“Melalui sinergi ABG, BPOM berperan sebagai regulator yang menjembatani kebutuhan industri dan potensi riset perguruan tinggi,” ujarnya di sela acara program P&G Health Indonesia University Partnership di Jakarta, baru-baru ini.

Taruna menambahkan, program ABG yang dikembangkan BPOM menjalin kerja sama dengan 180 perguruan tinggi di Indonesia.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (dok. Berandasehat.id)

Adapun program yang dijalin P&G Health Indonesia melibatkan Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dalam kolaborasi strategis pendidikan kesehatan, melalui Program Studi Profesi Apoteker.

Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk memberdayakan generasi calon apoteker, alumni, dan tenaga kesehatan lainnya melalui pembelajaran yang lebih aplikatif, relevan, dan selaras dengan kebutuhan dunia nyata.

Selain itu, inisiatif ini turut mendorong perubahan perspektif terhadap peran apoteker, tidak hanya sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan yang aktif dalam memberikan edukasi dan membantu pasien mengambil keputusan yang tepat.

Dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar pembelajaran akademik.

Melalui sinergi tersebut, sebut Taruna, BPOM berperan sebagai regulator yang menjembatani kebutuhan industri dengan potensi riset perguruan tinggi.

Adanya kolaborasi semacam ini diharapkan hasil penelitian dapat memenuhi standar regulasi untuk kemudian dihilirisasi, dikomersialisasikan, serta dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. “Hasil penelitian tidak hanya di atas kertas, disimpan di perguruan tinggi, namun diharapkan dapat dikomersialisasi,” tuturnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini mengedepankan tiga pilar utama, yakni edukasi, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pendekatan tersebut dinilai mampu membangun ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mendorong kontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Caroline Herlina, Brand Director Health Care P&G Indonesia menyampaikan, kolaborasi jangka panjang ini dirancang untuk memperkuat peran apoteker sebagai salah satu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, membekali mahasiswa dan alumni muda dengan pemahaman mendalam mengenai penyakit yang umum ditemui di masyarakat, seperti anemia, rhinitis akut, dan neuropati perifer.

“Selain itu, program ini juga menekankan pentingnya penggunaan obat yang tepat dan bertanggung jawab guna meningkatkan kualitas hidup pasien,” sebut Caroline.

Dia menekankan, apoteker punya peran penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata dan membagikan berbagai inovasi solusi kesehatan yang dimiliki oleh P&G Health Indonesia sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan pasien sehari-hari,” tandasnya. (BS)