Berandasehat.id – Stroke dan serangan jantung menjadi beban kesehatan tinggi, berpotensi memicu kecacatan hingga kematian jika terlambat ditangani. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap kematian akibat stroke di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 140,8 per 100.000 orang. Adapun penyakit jantung iskemik memiliki prevalensi tak kalah menggentarkan, yakni 90,4 per 100.000 orang.
Stroke terjadi ketika pembuluh darah ke otak menyempit atau tersumbat oleh gumpalan darah atau pecah, penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang. Menurut Asosiasi Jantung Amerika (AHA), sebagian besar orang yang pernah mengalami stroke pertama kali juga memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi).
Stroke mengancam kemampuan untuk berpikir, bergerak, dan berfungsi. Kondisi ini juga dapat memengaruhi bahasa, ingatan, dan penglihatan. Untuk kasus stroke parah bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan atau kematian.
Berbagai literatur menyebut hipertensi menjadi faktor risiko utama stroke dan sakit jantung. Ironisnya, hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala, sehingga dikenal sebagai pembunuh senyap.
“Hipertensi sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa sangat serius, termasuk komplikasi stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan dan kepikunan,” ujar Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S di acara diskusi hipertensi sekaligus peluncuran tensimeter Seri EZ dan IQ dari Omron Healthcare di Jakarta, Rabu (20/5).

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol merusak arteri di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan kondisi yang dapat membuat arteri pecah atau tersumbat dengan mudah. Arteri yang melemah atau tersumbat di otak menciptakan risiko stroke yang jauh lebih tinggi.
Di Indonesia, sekitar 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan hipertensi, namun banyak yang tidak menyadarinya sampai komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal terjadi. Kondisi ini menjadikan hipertensi bukan sekadar masalah kesehatan individu, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat.
Lebih lanjut Eka menyampaikan, salah satu komplikasi yang sering ditemukan dengan hipertensi adalah gangguan irama jantung (atrial fibrilasi/afib).
Eka menuturkan, penyandang hipertensi dengan gangguan irama jantung berisiko tinggi untuk terkena stroke dan gagal jantung. Dengan demikian deteksi AF pada pasien hipertensi penting untuk dilakukan.
Studi menemukan, afib dapat meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali lipat. Mengingat karakter atrial fibrilasi yang hilang timbul, pemantauan rutin diperlukan untuk mendeteksinya sedini mungkin.
Deteksi dini afib disertai dengan gaya hidup sehat diketahui dapat menurunkan risiko stroke sebesar 68%.
Dia menekankan, pengukuran tekanan darah yang benar dan akurat sangat penting dalam mendiagnosis hipertensi.

“Pengukuran secara mandiri di rumah sangat dianjurkan untuk memonitor hasil pengobatan,” ujar Eka seraya menambahkan pentingnya penggunaan alat pengukur tekanan darah yang sudah tervalidasi klinis dan dapat dikalibrasi ulang sehingga hasil pengukuran presisi.
Pengukuran tekanan darah dalam satu sentuhan
Menjawab kebutuhan kalangan muda dan lansia dalam menjaga gaya hidup sehat, khususnya terkait kontrol tekanan darah, Omron Healthcare merilis perangkat pengukur tekanan darah Seri EZ dan IQ di Indonesia yang praktis dan akurat hanya dalam satu sentuhan.
Direktur Omron Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe menyampaikan perusahaan asal Jepang itu memiliki visi Going For Zero, salah satunya adalah meminimalkan penyakit kardiovaskular di Indonesia. “Melalui Tensimeter Seri EZ dan IQ, kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia untuk memantau tekanan darah secara akurat, cepat, dan nyaman dari rumah,” ujarnya.
Selain itu, seri alat ukur tekanan darah teranyar itu diklaim eco-saving, 1,5 kali lebih efisien dibanding seri sebelumnya, sehingga ramah lingkungan dan energi.

Seri EZ dirancang bagi pengguna yang mengutamakan fungsi dasar tensimeter dengan kualitas tinggi harga terjangkau, cocok bagi generasi muda dan profesional muda yang mulai membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Cukup dengan satu sentuhan, pengguna dapat mengukur tekanan darah dengan cepat dan akurat, berkat teknologi IntelliSense.
Adapun Seri IQ dirancang untuk pengguna yang membutuhkan fitur lebih canggih, khususnya kelompok lansia maupun individu yang lebih sadar risiko kesehatan. Seri ini dilengkapi layar lebih besar sehingga hasil pengukuran lebih mudah dibaca.
Manset berukuran 22–42 cm juga memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna dengan lengan lebih besar, termasuk pengguna obesitas. Seri ini juga menggunakan kecanggihan kecerdasan buatan, IntelliSense AFib, yang membantu mendeteksi indikasi atrial fibrilasi dalam setiap kali pengukuran tekanan darah. (BS)