Berandasehat.id – Stres kronis, paparan berkepanjangan terhadap tekanan psikologis dan/atau fisik, diketahui sebagai faktor risiko depresi, kecemasan, dan beberapa gangguan kejiwaan lainnya.
Studi telah menunjukkan bahwa stres kronis mengganggu integritas mielin, lapisan isolasi lemak yang mengelilingi serabut saraf dan membantu sinyal listrik bergerak secara efisien antar sel otak.
Mengidentifikasi perubahan gaya hidup yang dapat membalikkan atau mengurangi efek buruk stres kronis pada otak dapat menguntungkan, karena berpotensi membantu mencegah atau menunda timbulnya berbagai kondisi kejiwaan.
Baru-baru ini, beberapa peneliti telah mengeksplorasi potensi manfaat puasa intermiten (IF) bagi otak, yaitu pola makan yang melibatkan pergantian antara periode makan dan puasa yang telah ditentukan.
Temuan sebelumnya menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat meningkatkan metabolisme dan membantu mengurangi peradangan, yaitu respons alami tubuh terhadap penyakit atau cedera. Namun, efeknya pada kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang belum ditentukan secara jelas.
Para peneliti di Pusat Kesehatan Mental Forensik Universitas Chiba dan Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou baru-baru ini meneliti bagaimana puasa intermiten memengaruhi suasana hati, tingkat energi, perilaku, dan otak tikus yang terpapar stres dalam waktu lama.

Temuan studi yang diterbitkan di Translational Psychiatry, menunjukkan bahwa intervensi diet ini dapat membalikkan kerusakan mielin akibat stres dan mengurangi perilaku mirip depresi dengan meningkatkan keanekaragaman bakteri di usus.
“Meskipun puasa intermiten memperbaiki kondisi metabolisme dan peradangan, efeknya pada depresi dan demielinasi akibat stres masih belum jelas,” tulis Xin Ding, Rumi Murayama, dan rekan dalam makalah penelitian.
Studi terkini itu menyelidiki apakah puasa intermiten mengurangi perilaku mirip depresi dan defisit mielin pada tikus yang terpapar stres pengekangan kronis dan apakah efek ini melibatkan modulasi mikrobiota usus.
Efek puasa intermiten pada tikus dengan stres kronis
Sebagai bagian dari studi, para peneliti memaparkan tikus jantan dewasa pada periode stres psikologis yang berkepanjangan. Kemudian mereka membagi tikus menjadi dua kelompok. Tikus dalam kelompok pertama memiliki akses tak terbatas ke makanan, sedangkan tikus dalam kelompok kedua hanya diberi makan selama jendela waktu tertentu, mengikuti jadwal puasa intermiten.
Tikus jantan dewasa C57BL/6J menjalani 14 hari stres pengekangan kronis sambil diberi makan ad libitum (AL) atau rejimen puasa intermiten.
Stres pengekangan kronis menginduksi fenotipe mirip depresi yang kuat—ditandai dengan peningkatan imobilitas dalam uji renang paksa dan penurunan preferensi sukrosa—tanpa memengaruhi aktivitas lokomotor, sedangkan puasa intermiten secara signifikan mengurangi kelainan perilaku ini.
Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa tikus yang dapat makan sepanjang hari lebih terpengaruh secara negatif oleh stres kronis daripada tikus yang mengikuti pola makan puasa intermiten. Secara khusus, tikus itu tampak lebih menikmati makan, memiliki tingkat energi yang lebih tinggi, dan menunjukkan lebih sedikit perilaku seperti depresi.
Tim tersebut juga menilai keadaan mielin di otak hewan menggunakan dua teknik yang disebut pewarnaan Black-Gold II dan imunofluoresensi protein dasar mielin (MBP). Mereka menemukan bahwa tikus yang menjalani diet stres pengekangan kronis (yaitu, makan bebas) menunjukkan kerusakan mielin di berbagai wilayah otak yang terkait dengan pengaturan emosi, pengambilan keputusan, dan memori, termasuk korpus kalosum, korteks prefrontal medial, dan hipokampus. Pola makan puasa intermiten tampaknya membalikkan efek ini.
Ding, Murayama, dan rekan juga melakukan analisis lebih lanjut yang bertujuan untuk lebih memahami proses di mana puasa intermiten membalikkan efek buruk stres kronis pada mielin.
Temuan mereka menunjukkan bahwa puasa intermiten mengubah mikrobioma usus, meningkatkan bakteri baik di saluran pencernaan yang tampaknya memulihkan atau melindungi mielin di otak, demikian Science x Network. (BS)