Berandasehat.id – Tubuh manusia menyukai keadaan homeostasis, di mana semuanya berada dalam keseimbangan sempurna, mulai dari suhu hingga tingkat pH hingga keseimbangan cairan.
Begitu suhu inti tubuh turun di bawah 95°F (35°C) dan tetap di sana untuk waktu yang lama, jantung, sistem saraf, dan organ lainnya mulai berfungsi buruk, alasan mengapa hipotermia sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Ini adalah keadaan darurat medis yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran atau kematian.
Para peneliti kini telah menemukan cara untuk mengubah keadaan darurat ini menjadi alat untuk melindungi tubuh dari efek buruk keadaan darurat kesehatan lainnya, stroke.
Sebuah studi baru-baru ini menyelidiki apakah obat-obatan seperti klorpromazin dan prometazin (C+P) dapat digunakan untuk meniru efek dingin hipotermia untuk melindungi otak dari efek samping stroke.
Pengobatan C+P mengurangi kerusakan otak dan meningkatkan fungsi neurologis pada model stroke tikus. Pada monyet rhesus, obat-obatan tersebut menurunkan suhu tubuh, yang menekan laju metabolisme dan melindungi otak dari cedera terkait stroke.
Para peneliti kemudian beralih ke uji klinis Fase I kecil dengan 32 pasien stroke. Perawatan tersebut aman pada dosis 100 mg dan berhasil menurunkan suhu tubuh sekaligus memperlambat penggunaan energi tubuh, efek yang menurut para peneliti membantu melindungi otak setelah stroke, menurut studi yang dipublikasikan di Science Translational Medicine.
Upaya perlindungan otak
Stroke iskemik akut (AIS) adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang di seluruh dunia. Hal ini dapat memiliki efek jangka panjang pada tubuh dan pikiran.

Penyintas stroke mungkin kesulitan berbicara, bergerak, mengingat sesuatu, atau melakukan tugas sehari-hari, seringkali membutuhkan rehabilitasi selama berbulan-bulan untuk mendapatkan kembali kemampuan yang hilang dan memulihkan kualitas hidup mereka.
Saat ini, dokter mengobati stroke dengan menggunakan obat-obatan atau operasi untuk menghilangkan gumpalan darah dan memulihkan aliran darah. Namun, bahkan ketika aliran darah dipulihkan, otak seringkali terus mengalami kerusakan akibat cedera awal.
Dalam penelitian ini, para peneliti ingin mengeksplorasi cara alternatif dan efektif untuk melindungi otak segera setelah seseorang mengalami stroke.
Para peneliti mengambil pendekatan tiga langkah untuk menyelidiki apakah kombinasi obat yang disebut C+P dapat menempatkan otak ke dalam keadaan perlindungan, seperti hibernasi, setelah stroke.
Mereka pertama kali menguji pengobatan tersebut pada tikus, dengan membuat penyumbatan sementara di arteri otak untuk meniru stroke sebelum memberikan obat.
Untuk memahami bagaimana pengobatan tersebut bekerja dalam kondisi yang berbeda, tikus-tikus tersebut ditempatkan di lingkungan dingin, normal, atau hangat.
Para peneliti kemudian mengukur konsumsi oksigen untuk melihat berapa banyak energi yang digunakan tubuh dan menggunakan pemindaian otak canggih untuk melacak perubahan kimia yang terkait dengan kesehatan otak. Obat-obatan tersebut berhasil menurunkan suhu tubuh tikus dan memperlambat metabolismenya.
Tidak seperti metode pendinginan tradisional seperti es, yang menyebabkan tikus meringkuk dan menggigil, C+P menurunkan suhu tubuh tanpa memicu menggigil. Pada tikus yang mengalami stroke, pengobatan tersebut mengurangi ukuran cedera otak dan meningkatkan pemulihan neurologis.
Hasil uji primata
Selanjutnya, pengobatan tersebut diuji pada monyet rhesus. Setelah menginduksi kondisi seperti stroke, para peneliti memberikan C+P secara intravena.
Perawatan tersebut dengan aman menurunkan suhu inti tubuh monyet hingga sekitar 33–34°C (91,4–93,2°F) dan menggeser metabolisme dari glukosa ke lemak dan keton; perubahan serupa juga diamati pada tikus.
Monyet primata yang diobati dengan C+P setelah stroke mengalami cedera otak yang jauh lebih kecil daripada mereka yang tidak menerima perawatan tersebut.
Tim kemudian menguji apakah perawatan tersebut aman untuk manusia dengan melakukan uji coba kecil dengan 32 pasien stroke yang secara acak diberi obat atau plasebo (sebagai kontrol).
Mereka yang menerima obat tersebut menerima salah satu dari empat dosis—10, 20, 50 atau 100 mg—sementara tekanan darah, detak jantung, dan tanda vital lainnya dipantau dengan cermat. Mereka dipantau selama 90 hari untuk memeriksa komplikasi jangka panjang.
Tim menemukan bahwa perawatan tersebut aman dan dapat ditoleransi dengan baik, tanpa penurunan tekanan darah yang berbahaya atau komplikasi pernapasan.
Meskipun dosis yang lebih rendah tidak memberikan perbedaan yang nyata, dosis 100 mg berhasil memicu penurunan suhu ringan dan memperlambat metabolisme. Semua pasien yang menerima dosis tertinggi menunjukkan pemulihan yang baik setelah 90 hari.
Para peneliti percaya bahwa temuan ini menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk menerjemahkan pengobatan C+P ke dalam praktik klinis dan mengatakan bahwa uji coba yang lebih besar sekarang diperlukan untuk mengevaluasi lebih lanjut keamanan dan efektivitasnya. (BS)