Berandasehat.id – Postur pendek ternyata kerap dituding sebagai stunting. Padahal faktanya tidaklah demikian.
“Tidak semua anak pendek adalah stunting
Semua anak stunting memang pendek, tetapi tidak semua anak pendek mengalami stunting,” ujar Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo (K), dokter spesialis anak subspesialis endokrinolog RS Pondok Indah dalam temu media daring, baru-baru ini.
Prof. Aman menambahkan, tinggi badan di bawah rata-rata atau tidak sesuai usia yang tercantum dalam kurva pertumbuhan, terbuka kemungkinan ada berbagai penyebab yang tak selalu terkait gizi.
Untuk diketahui, perawakan pendek adalah kondisi ketika tinggi badan anak di bawah variasi normal (Z score TB/U <-2 SD).
“Kita lihat kurva pertumbuhan. Kalau berat badan mulai turun, dicek dulu apakah anak sakit, bisa diare berulang atau penyakit infeksi. Jadi ketika anak pendek apalagi berat badan mulai turun, harus dicek dulu kurva pertumbuhannya. Yang paling penting orang tua bisa menginterpretasikan kurva,” imbuh Prof. Aman.

Kurva pertumbuhan adalah alat deteksi utama dalam memantau pertjmbuhan anak. Penggunaan kurva pertumbuhan yang tepat membantu tenaga kesehatan membedakan perawakan pendek biasa dari kondisi yang butuh penanganan khusus.
Menurut Prof. Aman, kurva pertumbuhan tetap menjadi instrumen paling terjangkau untuk deteksi dini.
“Biasakan budaya mencatat dan memantau kurva menjadi kebiasaan rutin keluarga Indonesia, bukan sekadar formalitas di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak),” ulasnya.
Dia mengingatkan agar orang tua menyoroti tak sekadar angka tinggi badan, melainkan kecepatan pertambahannya. “Anak bisa saja terlihat pendek tapi tumbuh sesuai jalurnya sendiri,” terang Prof. Aman.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika laju pertumbuhan melambat atau ketika garis kurva menurun, meski anak belum terlihat ‘sangat pendek’ dibandingkan dengan teman-temannya.
Jika tanda-tanda itu mulai terlihat, orang tua jangan tunggu sampai anak terlihat jauh lebih pendek dari anak lain. Segera konsultasi ke dokter untuk dilakukan intervensi yang tepat.
Postur pendek bukan semata faktor nutrisi
Postur badan pendek juga bukan semata karena masalah nutrisi, tapi bisa karena faktor lain misalnya ketidakseimbangan hormon dan faktor genetik. Karenanya, perlu evaluasi mencakup riwayat keluarga, hormon, hingga kromosom, bukan hanya soal nutrisi.
Isu stunting menjadi topik menarik. Selama praktik sebagai dokter anak dalam rentang tiga dekade, Prof. Aman sering menjumpai pasien anak yang dirujuk dengan label stunting. Setelah diperiksa, ternyata penyebabnya lain.
Ada beragam penyebab perawakan pendek pada anak, misalnya karena garis keturunan (familial), gangguan tiroid, gangguan hormon pertumbuhan, penyakit kronis, kelainan tulang, hingga kelainan genetik.
Karenanya, orang tua yang merasa cemas dengan tinggi badan anak jangan serta merta menudingnya stunting. “Konsultasi ke dokter untuk evaluasi tepat. Jangan berasumsi apalagi mencari solusi sendiri. Misalnya menambah nutrisi yang tidak pas yang dampaknya tidak baik dalam jangka panjang berujung kegemukan,” beber Prof. Aman.
Anak yang mengalami gangguan hormon sehingga menyebabkan tinggi badan kurang, misalnya, tidak bisa hanya diberikan tambahan nutrisi dengan harapan agar tumbuh tinggi.
Ada poin menarik yang disampaikan Prof. Aman terkait faktor yang mempengaruhi tinggi badan, yakni faktor ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, bahkan kondisi psikososial – bukan sekadar faktor gizi dan genetik.
Dia mencontohkan penduduk Korea Utara dan Korea Selatan yang genetiknya serupa, tetapi rata-rata tinggi penduduknya jauh berbeda. Warga Korea Selatan dinilai lebih makmur dibandingkan negara tetangga.

Ditilik dari faktor psikologis, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan dapat mengalami gangguan pertumbuhan akibat pengaruh faktor psikososial.
Bahkan, Prof. Aman menyebut, faktor kebahagiaan, hubungan emosional, dan lingkungan keluarga juga berperan dalam pertumbuhan anak.
Pemantauan rutin adalah kunci pencegahan. Pemantauan berkala memungkinkan deteksi dini gangguan sebelum berdampak jangka panjang.
Menangani gangguan pertumbuhan butuh kolaborasi lintas sektor, mencakup sektor kesehatan, pendidikan, dan sosial perlu bergerak bersama agar anak tumbuh optimal.
Last but not least, membedakan anak yang memang lambat tumbuh dengan yang benar-benar mengalami gangguan perlu menjadi perhatian utama.
“Tidak semua anak pendek mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan. Dokter membedakannya lewat kurva pertumbuhan yang sesuai, kecepatan tumbuh dari waktu ke waktu, dan riwayat tinggi badan keluarga, bukan sekadar melihat tinggi badan sesaat,” pungkasnya. (BS)