Berandasehat.id – Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti halnya makan dan tidur. Apa yang awalnya merupakan cara bagi orang untuk terhubung dan berbagi gambar telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar yang membentuk narasi medis, politik, dan budaya.

Algoritma media sosial dirancang untuk membuat orang terus kembali, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana keterlibatan yang terus-menerus ini dapat memengaruhi perkembangan otak.

Sebuah studi baru-baru ini meneliti bagaimana penggunaan media sosial yang bermasalah berhubungan dengan gejala ADHD pada remaja, dengan melacaknya selama lima tahun.

Orang dengan ADHD sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif berkelanjutan yang dapat mengganggu kehidupan dan perkembangan mereka.

Setelah mensurvei lebih dari 11.000 remaja, para peneliti menemukan pola yang jelas: pada tahun-tahun ketika remaja menunjukkan lebih banyak tanda penggunaan media sosial yang bermasalah, seperti terus-menerus memikirkan medsos atau merasa ingin menggunakannya lebih banyak, mereka cenderung menunjukkan lebih banyak gejala ADHD pada tahun berikutnya.

Pola sebaliknya, gejala ADHD yang menyebabkan masalah media sosial di kemudian hari, jauh lebih lemah dan kurang konsisten.

Pola penggunaan media sosial yang menyebabkan gejala ADHD di kemudian hari lebih kuat pada remaja laki-laki daripada perempuan. Namun, anak perempuan dengan gejala ADHD cenderung lebih kesulitan dengan media sosial, menurut studi yang dipublikasikan di JAMA Network Open.

Jebakan sistem penghargaan

ADHD adalah salah satu gangguan paling umum di kalangan anak muda, yang memengaruhi sekitar 7 juta anak di AS, atau 11,4%. Kasusnya meningkat sebanyak 1 juta antara tahun 2016 hingga 2022.

Studi besar yang melacak kelompok besar orang telah menemukan bahwa penggunaan berbagai jenis media digital dikaitkan dengan masalah perhatian dan masalah kesehatan mental yang lebih luas.

Pola-pola ini dipicu oleh bagaimana platform media sosial dirancang untuk menjebak sistem penghargaan otak. Fitur-fitur seperti “like” dan pengguliran terus menerus menawarkan peluang tak terbatas untuk terlibat dan menciptakan rasa penghargaan sosial yang sulit ditolak.

Hasil ini selaras dengan kecenderungan ADHD tertentu, seperti bereaksi lebih kuat terhadap penghargaan instan atau kesulitan menunggu imbalan yang lebih besar nanti ketika imbalan yang lebih kecil tersedia saat ini.

Seiring meningkatnya penggunaan media sosial secara pesat, para peneliti ingin mengetahui apakah kebiasaan media sosial seorang remaja dapat memprediksi perubahan gejala ADHD di kemudian hari.

Untuk itu, para peneliti menjalankan studi kohort prospektif, di mana mereka mengikuti sekelompok besar orang dari waktu ke waktu untuk melihat bagaimana perilaku tertentu berubah dan saling memengaruhi.

Peserta berusia sekitar 12 tahun pada awalnya dan dilacak hingga pertengahan masa remaja. Para remaja melaporkan sendiri melalui kuesioner kecanduan media sosial, menjawab pertanyaan tentang kehilangan kendali, kesulitan untuk mengurangi penggunaan, dan merasa tertekan ketika mereka tidak dapat menggunakan media sosial.

Pada bagian utama penelitian, orang tua atau pengasuh menilai perilaku remaja menggunakan daftar periksa standar yang mengukur hal-hal seperti impulsivitas dan kesulitan berkonsentrasi.

Hubungan antara media sosial dan ADHD paling kuat antara usia 14 hingga 16 tahun. Pada usia ini, remaja sering memiliki lebih banyak kebebasan daring, meskipun sistem pengendalian impuls otak masih mengejar sistem penghargaan.

Para peneliti juga memperhatikan perbedaan dalam cara gejala ADHD dilaporkan. Setelah satu tahun penggunaan media sosial yang lebih berat, orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka memiliki lebih banyak masalah dengan perhatian dan impulsivitas. Namun, para remaja itu sendiri tidak melaporkan perubahan yang sama.

Temuan ini menunjukkan bahwa dokter dan klinisi perlu mempertimbangkan untuk memperhatikan penggunaan media sosial yang bermasalah ketika menilai kaum muda, terutama mereka yang memiliki ADHD dan masalah defisit perhatian lainnya.

Namun, para peneliti mencatat bahwa efeknya kecil dan hanya muncul dalam jangka waktu terbatas, sehingga kesimpulan klinis atau kebijakan yang lebih luas harus diambil dengan hati-hati, demikian laporan Science x Network. (BS)