Berandasehat.id – Mata minus bukan hanya dialami orang dewasa, anak-anak jugabisa terkena gangguan refraksi ini. Mata minus (miopia) merupakan gangguan penglihatan jarak jauh yang membuat benda jauh terlihat kabur karena cahaya jatuh di depan retina.
Kondisi ini dipicu oleh faktor keturunan atau kebiasaan melihat layar terlalu dekat. Gejala yang lazim dialami penyandang mata minus antara lain pandangan buram saat melihat objek jauh, sering menyipitkan mata, hingga keluhan mata cepat lelah.
“Anak-anak bisa mengalami mata minus. Kerap kita temui anak pakai kacamata tebal karena minus tinggi,” ujar Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), dokter spesialis mata yang berpraktik di JEC Eye Hospitals and Clinics dalam temu media di Jakarta, Rabu (29/7).
Mata minus bisa terjadi karena faktor keturunan, terutama jika orang tua juga memiliki kondisi serupa, serta perilaku atau gaya hidup. Dia menekankan, kalau ada keturunan mata minus (faktor genetik), hal itu bisa diperparah dengan kebiasaan yang kurang baik.
“Sejak era Covid banyak anak yang menghabiskan waktu di depan layar terus menerus. Pelajaran semua diakses dari gawai. Kebiasaan ini bisa memicu mata minus,” terang Sharita.

Selain banyak menghabiskan waktu di depan layar gawai, kebiasaan yang tidak baik di masa pertumbuhan juga berpotensi menyebabkan gangguan refraksi. “Misalnya anak terbiasa baca sambil tiduran, itu bisa membuat gangguan mata silinder. Sedangkan jarak baca terlalu dekat membuat autofokus ke arah minus,” imbuh Sharita seraya menyampaikan jarak baca ideal kurang lebih 30 cm.
Bagi anak yang memiliki genetik mata minus warisan dari orang tua disarankan untuk melakukan kegiatan yang menyebabkan mata minus kian bertambah. “Biasakan jangan membaca sambil tiduran atau posisi miring, pastikan cahaya juga cukup,” saran Sharita.
Soal vitamin atau makanan yang diklaim mencegah mata minus, menurutnya hal itu belum teruji secara klinis. “Vitamin yang baik untuk mata, misalnya vitamin A manfaatnya untuk mencegah mata kering. Biasakan anak untuk tidak terus menerus berada di depan gawai. Batasi setap 2 hingga 3 jam istirahat,” sarannya.
Lebih lajut Sharita menjelaskan, perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh (mata minus), hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder.
Mata minus dan atau silinder dapat dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak. Kacamata bekerja dengan membelokkan cahaya dari luar mata agar penglihatan menjadi lebih jelas, tetapi tidak mengubah maupun memperkuat struktur kornea.
Pada gangguan refraksi yang stabil, kacamata tetap menjadi pilihan koreksi yang aman dan efektif. “Namun, jika terdapat penyakit kornea progresif, mengganti kacamata berulang kali tidak akan menghentikan perubahan struktur yang sedang berlangsung,” terang Sharita.
Seiring kemajuan teknologi, kini tersedia beragam pilihan koreksi dan penanganan. “Tetapi tidak ada satu prosedur yang sesuai untuk semua mata. Pemilihan tindakan perlu didasarkan pada jenis gangguan refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, stabilitas ukuran kacamata, kesehatan permukaan mata, serta anatomi mata secara keseluruhan,” urai dokter spesialis mata yang juga menjabat Kepala Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ).
Tindakan koreksi gangguan refraksi mata
Koreksi refraksi mata bisa dilakukan dengan LASIK (operasi laser kornea), yang bekerja dengan membentuk lapisan tipis atau flap pada kornea menggunakan laser femtosecond. Mekanismenya: Flap dibuka untuk memberikan akses ke lapisan stroma. Selanjutnya, laser excimer membentuk ulang kornea berdasarkan ukuran minus, plus, atau silinder pasien. Setelah koreksi selesai, flap dikembalikan ke posisi semula dan dapat menempel tanpa jahitan.
LASER dapat dilakukan minimal di usia 18 tahun, ketebalan kornea cukup, misalnya minimal 500 mikron. “Target minus nol bisa dicapai tergantung tebal kornea apakah cukup memadai,” ujarnya seraya menambahkan tebal kornea tak bisa dimodifikasi karena merupakan bawaan lahir.
Bagi yang tidak memenuhi syarat LASIK karena minus terlalu tinggi (misalnya di atas 20), dapat dilakukan tindakan Implantable Collamer Lens (ICL). “Tindakan ICL dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kornea tidak ideal untuk dibentuk ulang dengan laser,” tuturnya.

ICL merupakan lensa tambahan yang ditanam di belakang iris dan di depan lensa alami sehingga dapat memberikan koreksi tanpa mengikis atau membentuk ulang kornea.
Baik LASIK atau ICL dapat mengoreksi mata minus dan silinder dan hanya dilakukan satu jali saja. “Tindakan LASIK atau implan sebisa mungkin sekali saja,” ujar Sharita.
Adapun pasien diabetes melitus dapat menjalani tindakan LASIK sepanjang kadar gula darah terkontrol dengan baik, tidak ada komplikasi pada mata, dan lulus pemeriksaan skrining ketat dari dokter spesialis mata. Syarat lain adalah tidak ada komplikasi, retina harus sehat dan bebas dari retinopati diabetik.
“Untuk pasien diabetes yang hendak menjalani LASIK akan diperiksa secara menyeluruh oleh dokter spesialis mata sebelum tindakan dilakukan,” tandas Sharita. (BS)