Berandasehat.id – Hepatitis merupakan kondisi peradangan pada organ hati. Sebelumnya, hepatitis diketahui hanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis (A, B, C, D, dan E).
Namun, ternyata peradangan hati ini juga dapat disebabkan oleh faktor bukan infeksi, seperti penumpukan lemak berlebih di organ hati dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Asosiasi Hati Dunia memperbarui istilah perlemakan hati menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD) atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Istilah ini merujuk pada kondisi penumpukan lemak di organ hati yang berkaitan dengan gangguan disfungsi metabolik tubuh, seperti obesitas, diabetes melitus, kadar kolesterol tinggi, dan hipertensi.
Penyakit pada organ hati kerap disebut sebagai pembunuh senyap karena umumnya tidak menimbulkan tanda atau gejala yang khas pada tahap awal, hingga baru disadari ketika kondisinya cukup parah.

Padahal semakin cepat dideteksi, penanganan tepat yang diberikan dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah dan terhindar dari komplikasi.
Menurut Dr. dr. Lianda Siregar, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), FACG, FINASIM, hepatitis perlu dideteksi dini agar dapat ditangani dengan tepat. “FibroScan menjadi salah satu metode deteksi kondisi organ hati secara aman dan nyaman, dengan hasil yang akurat, hanya dalam hitungan menit,” terang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah – Puri Indah.
Penumpukan lemak yang dibiarkan tanpa penanganan memicu timbulnya peradangan pada organ hati (steatohepatitis).
Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan kerusakan jangka panjang yang sama bahayanya dengan virus hepatitis B dan C, seperti jaringan parut pada organ hati (fibrosis), sirosis, hingga kanker hati.
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, hepatitis dapat dibedakan menjadi dua kondisi, antara lain:
Hepatitis akut (A, B, C, D, dan E)
Pada fase akut, peradangan hati terjadi secara mendadak. Penanganannya fokus pada meredakan gejala, menjaga keseimbangan cairan tubuh, hingga memantau fungsi hati.
Sistem kekebalan tubuh umumnya akan bekerja untuk memulihkan diri dari infeksi virus.
Hepatitis kronis (B dan C)
Hepatitis kronis merupakan peradangan organ hati yang berlangsung lebih dari 6 bulan dan berisiko merusak jaringan hati secara bertahap menjadi sirosis, gagal hati, hingga kanker hati jika tidak ditangani dengan baik.
Penyebab utama hepatitis
Adapun beberapa penyebab utama hepatitis kronis antara lain:
1. Virus hepatitis B dan C (HBV & HCV)
Virus hepatitis B dan C adalah jenis infeksi virus yang paling sering berkembang menjadi kronis. Virus ini tidak dapat sepenuhnya hilang dari tubuh, tetapi dapat dikelola secara efektif dengan penanganan yang tepat.
Terapi pengobatan bertujuan menekan perkembangbiakan virus, mempertahankan fungsi hati, serta menghambat perkembangan penyakit.
2. Perlemakan hati metabolik (MAFLD)
Penumpukan lemak berlebih akibat faktor metabolik seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi yang memicu peradangan kronis pada sel hati.
3. Alkohol
Kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang membuat organ hati bekerja keras memproses racun.
Hal ini menyebabkan penumpukan lemak, peradangan, hingga kerusakan sel hati yang berujung pada peradangan kronis.G
Gejala hepatitis
Meskipun sebagian penderita tidak mengalami keluhan, beberapa gejala umum yang dapat muncul pada penderita hepatitis antara lain demam, mual, muntah, tidak nafsu makan, sakit perut, khususnya bagian kanan atas.
Gejalq lain nyeri sendi, juga sakit kuning (jaundice), yang tampak pada kulit maupun bagian putih mata yang menjadi kekuningan.
Urine menjadi lebih pekat, atau berwarna seperti teh. Kotoran menjadi lebih pucat atau seperti lempung, serta pembengkakan pada area kaki, tangan, maupun perut.
“Infeksi hepatitis B dan C kronis berlangsung lama dan tanpa penanganan biasanya akan muncul keluhan yang menandakan bahwa fungsi jaringan hati sudah mulai terganggu,” beber dr. Lianda.
Deteksi dini penyakit hati
Secara medis, biopsi masih menjadi metode standar emas untuk menilai derajat kerusakan dan jaringan parut pada organ hati secara presisi.
Namun karena biopsi bersifat invasif terkadang pasien enggan untuk melakukan pemeriksaan.
Dengan perkembangan teknologi medis, saat ini telah hadir berbagai metode pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien, seperti pemeriksaan darah dengan Enhanced Liver Fibrosis (ELF) Test, kalkulasi skor risiko dengan Fibrosis-4 (FIB-4) Index, atau yang paling unggul dan praktis adalah pemindaian dengan FibroScan.
FibroScan merupakan metode pemeriksaan non invasif untuk mendeteksi dini penyakit hati, memastikan penyebab, hingga melihat tingkat kerusakan hati secara aman dan nyaman, dengan hasil yang akurat, hanya dalam hitungan menit.
FibroScan memanfaatkan alat ultrasonografi (USG) khusus untuk memindai organ hati.
Alat ini digunakan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi sebagai salah satu metode pemeriksaan penunjang untuk menilai elastisitas organ hati atau mendeteksi kemungkinan adanya jaringan parut (fibrosis hati).
Selain itu, FibroScan juga dapat membantu dokter mengetahui dengan pasti apakah peradangan yang terjadi dipicu oleh faktor perlemakan hati (MAFLD) atau murni karena infeksi virus.
Pasien hanya perlu berbaring telentang, dokter akan menggunakan probe (perangkat pemancar gelombang ultrasound) di area perut untuk memeriksa kondisi organ hati.
Karena tidak melibatkan sayatan, FibroScan tidak akan menyebabkan rasa sakit. Prosesnya pun aman, sehingga pasien dapat langsung pulang setelah pemeriksaan dan segera beraktivitas kembali setelahnya.
Pencegahan dan penanganan hepatitis
Pencegahan terbaik hepatitis adalah melalui pemberian vaksinasi hepatitis B, yang telah menjadi program imunisasi dasar sejak bayi lahir.
Bagi orang dewasa, terutama yang berisiko tinggi atau belum pernah mendapatkan vaksinasi, juga sangat disarankan.
Selain itu, hindari penggunaan barang pribadi bersama dan selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Pencegahan hepatitis juga disarankan melalui penerapan pola gizi seimbang, rutin berolahraga, serta menghindari konsumsi alkohol untuk mencegah MAFLD/MASLD.
Jika sudah terdiagnosis hepatitis B atau C kronis, penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi infeksi.
Dokter akan memberikan terapi pengobatan antivirus maupun golongan penguat sistem imun untuk menekan aktivitas virus dan mencegah komplikasi.

Jika hepatitis disebabkan MAFLD/MASLD, penanganan difokuskan pada perbaikan faktor risiko metabolik dan pola hidup, sehingga dapat menghentikan penumpukan lemak di organ hati.
Apabila kerusakan hati sangat parah, operasi transplantasi hati merupakan pilihan penanganan yang akan disarankan oleh dokter sebagai upaya terakhir.
Dokter Lianda menekankan, penanganan awal secara komprehensif akan membantu memastikan kondisi organ hati tetap terjaga dengan optimal.
Dia nenambahkan penderita hepatitis B dan C dapat hidup normal dengan penanganan yang tepat. “Menjaga pola hidup sehat, menghindari konsumsi alkohol, dan menerapkan gaya hidup sehat memegang peran penting dalam proses penanganan hepatitis B dan C,” bebernya.
Selain itu, penderita hepatitis B dan C juga harus melakukan kontrol ke dokter rutin guna mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi penyakit, sekaligus mencegah terjadinya komplikasi. (BS)