Berandasehat.id – Peradangan dan cedera paru dapat dengan cepat berkembang menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau sindrom gangguan pernapasan akut pada pasien pneumonia, COVID-19, dan kondisi lainnya.
ARDS menyerang lebih dari 200.000 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat. Menurut Zhenjia Wang, Ph.D., Profesor SUNY Empire Innovation di Fakultas Farmasi dan Ilmu Farmasi Universitas Buffalo (UB) sedang meneliti bidang nanomedis—tingkat kematian akibat kondisi ini berkisar antara 30% hingga 50%.
“Selain penggunaan ventilator dan pengeluaran cairan dari paru, satu-satunya terapi yang saat ini digunakan untuk kondisi tersebut adalah obat antiradang seperti steroid untuk meredam peradangan,” ujar Wang. “Cara ini tidak selalu berhasil dan justru membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi sekunder.”
Wang baru saja menerima dana hibah sebesar US$2 juta untuk jangka waktu empat tahun dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI)—bagian dari National Institutes of Health (NIH)—guna mencari pengobatan yang lebih aman dan efektif menggunakan asam lemak omega-3.
Ia bekerja sama dengan Elsa Bou Ghanem, Ph.D., seorang profesor madya di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi, Jacobs School of Medicine and Biomedical Sciences di UB.

“Peradangan atau cedera paru akut merupakan penyakit peradangan yang tidak terkendali dan dapat dengan cepat berkembang menjadi ARDS yang lebih parah,” kata Wang.
“Di Amerika Serikat saja, tingkat kematiannya sangat tinggi dan mengkhawatirkan. ARDS juga menjadi beban ekonomi yang besar bagi sistem layanan kesehatan.”
Bou Ghanem, yang memiliki keahlian di bidang imunologi dan neutrofil (sejenis sel darah putih), mengatakan neutrofil memainkan peran sentral dalam ARDS, dan menargetkan neutrofil menggunakan nanoteknologi dapat memengaruhi pengembangan terapi baru.
Tahap awal penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tubuh mampu menghentikan proses peradangan secara mandiri—dengan memanfaatkan molekul yang diproduksi tubuh dari asam lemak omega-3, yang umumnya kita ketahui terkandung dalam ikan salmon dan jenis ikan berlemak lainnya.
“Banyak orang mengonsumsi suplemen omega-3 untuk membantu mencegah penyakit pembuluh darah karena asam lemak omega-3 terbukti efektif dalam melawan peradangan,” ujar Wang.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tubuh mengubah salah satu jenis asam lemak omega-3, yaitu DHA (asam dokosaheksaenoat), menjadi molekul penyembuh yang disebut resolvin. Molekul ini dinamakan resolvin karena kemampuannya dalam meredakan peradangan, mendorong proses penyembuhan, dan memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk terus melawan infeksi.
Meskipun resolvin RvD1 dan RvD2 menunjukkan potensi untuk meredakan peradangan dalam studi laboratorium, pembuatan obat menggunakan senyawa-senyawa ini terbukti sulit karena masalah stabilitas, catat Bou Ghanem.
Hipotesis Wang adalah bahwa DHA dapat diantarkan ke dalam neutrofil yang menempel pada pembuluh darah di paru dengan menggunakan partikel berbasis lemak yang disebut liposom.
Enzim spesifik LOX5/15 kemudian mengubah DHA tersebut menjadi resolvin. Pada dasarnya, proses ini menghasilkan resolvin di dalam paru-paru yang mengalami peradangan.
Untuk mengujinya, para peneliti akan menggunakan model tikus dengan kondisi cedera paru akut dan memberikan nanopartikel dengan harapan dapat menyembuhkan cedera tersebut.
Mereka memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mengembangkan liposom terbaik untuk menghantarkan DHA secara langsung ke neutrofil.
Kedua, menentukan apakah neutrofil tersebut benar-benar memproduksi lebih banyak resolvin setelah menerima DHA. Ketiga, melihat apakah pengobatan ini memperbaiki kondisi ARDS dalam studi pada hewan tersebut.
Jika strategi ini berhasil, hal tersebut dapat menjadi cara yang benar-benar baru dalam menangani penyakit dan kondisi peradangan di luar ARDS, termasuk beberapa penyakit autoimun, artritis, dan penyakit Crohn, ujar Wang, seraya menambahkan bahwa neutrofil memainkan peran sentral dalam semua penyakit dan kondisi yang berkaitan dengan peradangan.
“Jika dapat menargetkan neutrofil menggunakan nanopartikel, kita dapat mengobati sebagian besar penyakit peradangan,” ujarnya. “Keberhasilan penerapan metode ini akan menjadi sebuah perubahan paradigma.” (BS)