Berandasehat.id – Menurut sebuah uji klinis yang diterbitkan pada 27 Agustus di jurnal Cell Metabolism, diet yang sangat membatasi karbohidrat namun tinggi lemak memberikan manfaat kesehatan terbesar bagi orang obesitas dibandingkan dengan diet Mediterania atau diet rendah lemak.

Setelah menjalani diet ketogenik selama empat hingga lima bulan, sekitar 50% dari kelompok peserta yang mengalami obesitas dan pradiabetes tidak lagi memenuhi kriteria pradiabetes.

“Penurunan berat badan dapat meningkatkan kesehatan metabolik pada orang dengan obesitas,” kata Samuel Klein, penulis korespondensi studi tersebut dari Washington University School of Medicine di St. Louis, Missouri.

Data menunjukkan bahwa orang yang memiliki kadar lemak hati yang tinggi dan pradiabetes, mengurangi asupan karbohidrat dapat memberikan efek terapeutik yang penting bagi metabolisme, di luar sekadar penurunan berat badan itu sendiri.

Diperkirakan sekitar 40% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami obesitas.

Penyedia layanan kesehatan umumnya merekomendasikan diet rendah lemak, rendah karbohidrat, atau diet Mediterania untuk mendorong penurunan berat badan; namun, belum jelas apakah diet-diet tersebut memberikan manfaat metabolik tambahan selain penurunan berat badan itu sendiri, atau apakah salah satunya menawarkan manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan yang lain.

Ketiga diet populer tersebut memiliki perbedaan signifikan dalam komposisi nutrisi utamanya.

Sebagai contoh, diet rendah karbohidrat, yang juga dikenal sebagai diet Atkins atau diet ketogenik, sangat membatasi asupan karbohidrat, sementara diet rendah lemak bisa mendapatkan hingga 70% energinya dari karbohidrat.

Diet Mediterania sebagian besar terdiri dari makanan nabati seperti sayuran, minyak zaitun, dan kacang-kacangan, dengan porsi ikan dan produk susu dalam jumlah sedang; sebaliknya, diet ketogenik dapat mencakup makanan tinggi lemak jenuh, termasuk produk hewani.

Untuk memahami efek metabolik dari diet-diet tersebut pada manusia, Klein dan timnya melakukan uji coba klinis yang melibatkan 42 partisipan dengan kondisi obesitas, pradiabetes, dan penyakit perlemakan hati.

Para peneliti secara acak menempatkan mereka ke dalam salah satu dari tiga kelompok diet: diet ketogenik, diet Mediterania, atau diet rendah lemak yang berbasis nabati.

Seluruh kebutuhan makanan partisipan disediakan oleh tim peneliti, dan mereka bertemu secara rutin setiap minggu dengan ahli gizi untuk membantu peserta mematuhi aturan diet yang telah ditetapkan.

Dalam studi ini, diet ketogenik hanya menyediakan 4% kalori dari karbohidrat dan 73% dari lemak. Diet Mediterania memperoleh 50% kalorinya dari karbohidrat dan 35% dari lemak.

Sementara itu, diet berbasis nabati mendapatkan 70% kalori dari karbohidrat dan 15% dari lemak.

Tim peneliti menyesuaikan asupan kalori setiap partisipan agar mereka semua mengalami penurunan berat badan sekitar 10%, sebuah proses yang memakan waktu sekitar empat hingga lima bulan.

Pada akhir uji coba, ketiga jenis diet tersebut menghasilkan penurunan lemak tubuh yang signifikan pada para partisipan.

Tubuh mereka juga menjadi lebih sensitif terhadap insulin, sehingga meningkatkan kemampuan tubuh dalam mengatur gula darah.

Namun, diet ketogenik menghasilkan perbaikan terbesar pada beberapa indikator kesehatan hati dan metabolisme. Kadar lemak hati peserta dalam kelompok diet ketogenik turun rata-rata sebesar 67%, dibandingkan dengan penurunan 45% pada kelompok diet Mediterania maupun kelompok diet berbasis nabati.

Saat tim memantau aktivitas metabolisme peserta selama 24 jam melalui serangkaian tes darah, mereka menemukan bahwa kelompok diet ketogenik mengalami peningkatan terbesar dalam kadar glukagon, yaitu hormon yang mendorong pengurangan lemak di hati.

Kelompok tersebut juga mengalami penurunan kadar insulin darah yang paling signifikan, yang turut mengurangi kandungan lemak hati, dibandingkan dengan dua kelompok lainnya.

“Temuan yang paling mengejutkan adalah bahwa peserta dalam kelompok diet ketogenik tidak mengalami peningkatan kadar lemak atau kolesterol darah, meskipun mereka mengonsumsi lemak dalam jumlah terbanyak,” ujar Max Petersen, penulis utama studi tersebut dari Washington University School of Medicine.

Setelah intervensi penurunan berat badan, sekitar 50% peserta dalam kelompok diet ketogenik tidak lagi memenuhi kriteria pradiabetes, dibandingkan dengan 29% pada kelompok diet Mediterania dan 7% pada kelompok diet berbasis nabati.

Obat-obatan berbasis GLP-1 telah merevolusi terapi obesitas. “Kini kita memiliki farmakoterapi yang sangat efektif untuk mencapai penurunan berat badan yang signifikan,” kata Petersen.

Dia menekankan, studi terbaru itu menunjukkan bahwa komposisi diet tertentu dapat memberikan manfaat tambahan. (BS)