Berandasehat.id – Kebiasaan sehari-hari tanpa disadari menjadi biang penyebab penurunan kualitas sperma, seperti merokok, memangku laptop saat bekerja hingga mengantongi ponsel di celana.

Menurut Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), merokok sangat mempengaruhi kualitas sperma. Selain itu, suhu panas juga berdampak tidak baik bagi sperma.

“Sperma juga sangat tidak tahan terhadap panas. Pakaian dalam terlalu ketat, berendam air panas, mandi sauna, itu merusak sperma,” ujar Prof. Iko dalam temu media yang dihelat RS Pondok Indah di Jakarta, baru-baru ini.

Hal yang cukup mengagetkan adalah kebiasaan menonton televisi 40 jam berturut-turut selama satu minggu juga merusak DNA sperma.

Hal lain yang kerap tak disadari merusak sperma adalah mengantongi ponsel di celana, hingga bekerja sambil memangku laptop.

“Menggunakan Wi-Fi sambil dipangku di paha, itu bahaya, dapat merusak sperma. Jadi sebaiknya saat bekerja, laptop ditaruh di meja,” saran dia.

Ilustrasi pria bekerja memangku laptop

Berbagai studi menunjukkan bahwa meletakkan laptop langsung di pangkuan dapat berdampak negatif terhadap kesuburan pria dengan meningkatkan suhu skrotum dan memaparkan organ reproduksi pada stres panas lokal.

Untuk memproduksi sperma yang sehat, suhu testis harus tetap sekitar 2–3°C lebih rendah dibandingkan suhu bagian tubuh lainnya. Laptop menghasilkan panas dari komponen internal dan baterainya, sehingga meningkatkan suhu skrotum saat diletakkan tepat di atasnya.

Paparan panas yang berkepanjangan atau berulang dapat mengurangi jumlah sperma, menurunkan motilitas (pergerakan) sperma, serta berpotensi menyebabkan kerusakan DNA.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Wi-Fi dan medan elektromagnetik berfrekuensi rendah yang dipancarkan oleh laptop juga dapat memberikan sedikit tekanan pada kualitas sperma, meskipun panas tetap menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai.

Keberhasilan bayi tabung (IVF)

Kualitas sperma yang tidak baik menyulitkan pembuahan sehingga kehamilan sulit tercapai dengan cara alami.

Banyak pasangan yang sulit mendapatkan anak setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya memutuskan mencoba metode IVF (fertilisasi terbantu) alias bayi tabung.

Namun demikian, tak semua pasutri langsung berhasil mendapatkan kehamilan di percobaan pertama IVF.

“Keberhasilan bayi tabung itu rata-rata kalau di bawah usia 35 tahun bisa 50–60 persen. Di atas 35 tahun akan turun menjadi 30–40 persen. Di atas 40 tahun akan turun lagi menjadi di bawah 20 persen atau bahkan bisa 10 persen,” urai Prof. Iko. 

Dia menekankan, rata-rata penyebab pasutri sulit mendapatkan anak dengan cara alami  di Indonesia 30 persen karena faktor laki-laki.

“Jadi laki-laki justru harus diperiksa pertama kali. Kalau ada gangguan kesuburan, yang harus diperiksa adalah laki-laki. Jangan menyentuh perempuan sebelum ada hasil sperma. Bapaknya dulu cek, baru ibunya. Jadi jangan dibalik,” tegasnya.

Menurut Prof. Iko, keberhasilan bayi tabung sangat ditentukan oleh dua hal, yakni kualitas embrio dan dinding rahim.

“Kualitas embrio sangat ditentukan oleh usia ibu dan kualitas sperma,” ujarnya.

Terkait cadangan sel telur, perempuan ketika lahir membawa kurang lebih 700.000 sel telur. Ketika menstruasi atau menarche, telurnya tinggal 300.000 sampai 400.000.

Setiap bulan sejak masa pubertas, tubuh perempuan secara alami kehilangan sekitar 1.000 sel telur melalui proses kematian sel alami (atresia), dan biasanya hanya satu sel telur yang matang lalu dilepaskan saat ovulasi.

“Perempuan setiap bulan melepas 1.000 sel telur, tetapi yang matang hanya satu. Yang 999 dia rusak, atresia. Ada yang jadi pendarahan, ada yang jadi penyakit, dan sebagainya,” terang Prof. Iko.

Seumur hidupnya, perempuan kurang lebih mengalami 300 sampai 400 kali ovulasi, mulai dari menstruasi pertama sampai dengan menopause.

“Kalau 300 sampai 400 kali ovulasi, kalau mendapat menstruasi di umur 10 tahun, maka akan terganggu menstruasinya umur 45–47. Itu dipotong lagi pada saat dia hamil. Pada saat hamil memang tidak menstruasi, tidak ovulasi. Tapi telurnya tetap dilepas,” tandasnya.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons) – dok. Berandasehat.id

Prof. Iko lebih lanjut menguraikan, kesehatan dinding rahim (endometrium) menentukan keberhasilan penempelan (implantasi) embrio dalam program bayi tabung.

“Setelah sel telur dan sperma dibuahi di luar tubuh hingga membentuk embrio, selanjutnya embrio tersebut dipindahkan ke dalam rahim agar menempel dan tumbuh,” terangnya.

Dinding rahim harus cukup tebal dan subur (biasanya minimal 7–8 mm) agar embrio bisa menempel dengan kuat.

Dinding rahim yang tipis kerap menghambat penempelan embrio sehingga menurunkan peluang hamil.

Dokter biasanya memberikan terapi hormon penambah estrogen atau prosedur khusus seperti PRP Endometrium (Platelet-Rich Plasma) untuk membantu menebalkannya.

Adapun miom atau polip, benjolan jinak di dalam rongga rahim juga bisa mengganggu atau menutup jalur penempelan embrio.

Selain itu, peradangan pada lapisan rahim juga membuat lingkungan rahim kurang ramah bagi embrio.

Untuk mengoptimalkan hasil program bayi tabung, pasangan disarankan melakukan persiapan fisik dan mental beberapa bulan sebelum prosedur dimulai, termasuk mengelola stres dan menjaga gaya hidup sehat. (BS)