Berandasehat.id – Obat disfungsi ereksi yang banyak digunakan pria mungkin berkaitan dengan risiko glaukoma yang lebih tinggi jika dikonsumsi dalam jangka panjang untuk meredakan gejala saluran kemih akibat pembesaran prostat. Temuan menarik ini terungkap dalam sebuah studi perbandingan berskala besar yang diterbitkan secara daring di British Journal of Ophthalmology.

Temuan ini mengisyaratkan bahwa pria yang menggunakan obat disfungsi ereksi tadalafil (Cialis) dalam jangka waktu lama untuk mengatasi gejala tersebut mungkin perlu menjalani pemantauan kesehatan mata yang lebih intensif.

Para peneliti menyatakan bahwa hal ini terutama penting bagi mereka yang telah memiliki faktor risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga dengan penyakit tersebut atau tekanan tinggi di mata (hipertensi okular).

Tadalafil dan kesehatan mata

Tadalafil termasuk dalam kelompok obat yang dikenal sebagai penghambat fosfodiesterase tipe 5 (PDE5i), kelas obat yang sama dengan sildenafil (Viagra).

Obat-obatan ini banyak digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi, sementara tadalafil juga diresepkan untuk masalah saluran kemih yang terkait dengan pembesaran prostat.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan obat-obatan PDE5i dengan beberapa jenis masalah mata, termasuk gangguan pada saraf optik dan makula, area retina yang berperan penting dalam penglihatan sentral yang mendetail.

Namun, para peneliti menyebutkan bahwa bukti mengenai kaitannya dengan glaukoma masih belum konsisten. Secara khusus, informasi mengenai risiko glaukoma saat tadalafil digunakan untuk gejala saluran kemih bagian bawah masih terbatas; padahal, pengobatan ini umumnya melibatkan konsumsi obat setiap hari dalam jangka waktu yang lama.

Untuk mengkaji masalah ini lebih mendalam, para peneliti menganalisis apakah tadalafil, obat PDE5i dengan efek kerja jangka panjang, berkaitan dengan peningkatan risiko glaukoma ketika diresepkan untuk gejala saluran kemih akibat pembesaran prostat.

Tim peneliti menganalisis data kesehatan anonim dari 73.854 pria berusia 40 tahun ke atas yang terdaftar dalam TriNetX Analytics Network (Jaringan Kolaborasi Global).

Separuh dari mereka telah diresepkan tadalafil atau obat PDE5i lainnya selama hingga 5 tahun (antara Januari 2012 hingga Desember 2022) untuk menangani gejala, sementara separuh lainnya tidak menerima obat-obatan tersebut.

Selanjutnya, peneliti membandingkan kedua kelompok tersebut untuk mengetahui seberapa sering partisipan mengalami glaukoma atau hipertensi okular, serta seberapa sering mereka mulai menjalani pengobatan glaukoma setelah periode 5 tahun tersebut.

Agar perbandingan lebih bermakna, responden pria dalam kedua kelompok disesuaikan berdasarkan berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi hasil. Faktor-faktor tersebut meliputi usia, etnis, kebiasaan merokok, gangguan terkait alkohol, penggunaan obat resep, serta kondisi kesehatan penyerta seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, kolesterol tinggi, fungsi ginjal, obesitas, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Risiko glaukoma 22% lebih tinggi

Analisis menemukan bahwa pria yang diresepkan tadalafil memiliki kemungkinan yang secara signifikan lebih tinggi (22%) untuk mengalami glaukoma dibandingkan pria yang tidak menerima obat tersebut.

Mereka juga memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami beberapa kondisi terkait. Hipertensi okular ditemukan 32% lebih sering terjadi, sementara glaukoma sudut terbuka primer, bentuk glaukoma yang paling umum, memiliki risiko 33% lebih tinggi.

Pria yang diresepkan tadalafil juga memiliki kemungkinan 33% lebih tinggi untuk memulai pengobatan glaukoma.

Analisis tambahan menunjukkan bahwa hubungan tersebut tetap ada pada pria yang mengalami glaukoma dalam waktu 1, 3, atau 6 bulan setelah memulai pengobatan tadalafil.

Pola yang sama secara konsisten terlihat pada pasien berusia 50 tahun ke atas, peserta berkulit putih, dan orang-orang dengan beberapa kondisi medis penyerta yang dipertimbangkan dalam analisis.

Para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini tidak membuktikan bahwa tadalafil secara langsung menyebabkan glaukoma. Karena ini merupakan studi observasional, studi ini dapat mengidentifikasi adanya hubungan namun tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat.

Terdapat pula beberapa keterbatasan. Sebagai contoh, peneliti tidak dapat memperhitungkan perubahan resep obat atau penggunaan obat yang sebenarnya seiring berjalannya waktu, dan juga tidak dapat memantau sepenuhnya perkembangan kondisi kesehatan penyerta tambahan selama periode studi.

Sebagian besar peserta berkulit putih, yang berarti temuan ini mungkin tidak serta-merta berlaku bagi pria dari latar belakang etnis lain.

Meskipun demikian, para peneliti menyatakan bahwa hasil ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana penggunaan PDE5i jangka panjang dapat memengaruhi mata.

“Temuan ini mengisyaratkan bahwa penghambatan PDE5 kronis dapat memengaruhi fisiologi mata, sehingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai mekanismenya.”

Harap dicatat, para peneliti tidak menyarankan pasien untuk berhenti menggunakan tadalafil. Sebaliknya, mereka mendorong agar orang yang mengonsumsi obat tersebut dalam jangka waktu lama menjalani pemeriksaan mata dan pemantauan lanjutan yang tepat, terutama jika terdapat faktor risiko glaukoma lainnya. (BS)