Berandasehat.id – Penyebaran kanker dari tumor primer ke bagian tubuh lain, disebut metastasis, tetap menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan kanker dan merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit tersebut.
“Sel kanker yang telah berpindah ke bagian tubuh lain dapat tetap dorman (tidak aktif) selama bertahun-tahun setelah tumor aslinya diobati,” jelas Ilaria Malanchi, pemimpin kelompok peneliti di Crick yang mengepalai laboratorium untuk mempelajari interaksi sel kanker dengan bagian tubuh lainnya.
“Ini adalah masa yang mencemaskan bagi pasien, karena mereka tidak tahu apakah sel-sel metastasis ini akan aktif kembali dan menyebabkan kekambuhan.”
Sel kanker payudara sering kali menyebar ke sumsum tulang; di sana, sel-sel tersebut dapat tetap dorman selama bertahun-tahun di dalam jaringan yang biasanya mendukung produksi sel darah baru.
Sel-sel kanker yang menyebar ini memasuki kondisi ‘tidur”, yang membantu mereka menghindari sistem kekebalan tubuh dan bertahan terhadap kemoterapi.
Faktor yang memicu sel-sel tersebut untuk ‘bangun kembali’ bukan hanya menjadi isu kunci dalam biologi kanker, tetapi juga tantangan besar untuk diteliti.
“Kami tidak bisa menunggu selama lima tahun untuk melihat apakah sel kanker yang dorman aktif kembali pada tikus, karena waktu tersebut melampaui masa hidup mereka,” jelas Malanchi. “Kami sudah lama menyadari perlunya memikirkan model baru secara kreatif.”
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell Reports, Stefania di Blasio dan Tatiana Rizou dari tim Malanchi, dengan mengembangkan penelitian sebelumnya dari Laurie Gay, berhasil menciptakan metode untuk memodelkan sel kanker payudara metastasis yang dorman pada tikus.
Mereka merekayasa model tulang ekstramedular, yaitu bagian jaringan tulang yang ditumbuhkan dari sel punca rangka dan ditempatkan di bawah kulit.
Seperti tulang alami, tulang tiruan ini mengandung semua sel sumsum tulang yang diperlukan untuk memproduksi sel darah baru serta mampu merespons sinyal peradangan tubuh untuk meningkatkan produksinya.
Tim kemudian menempatkan sel dari tumor kelenjar susu tikus ke tulang tiruan tersebut. Sebagian besar sel memasuki kondisi dorman, dengan aktivitas replikasi yang hanya terjadi sesekali.
Setelah memiliki model yang mampu mereplikasi kondisi sel metastasis yang ‘tidur’ di dalam tulang, tim peneliti dapat menguji faktor apa saja yang mungkin memicu sel-sel tersebut keluar dari masa dormansinya.
Cedera tulang picu metastasis
Cedera tulang seperti patah tulang dapat memicu pertumbuhan sel kanker metastasis yang berada di sumsum tulang, namun tim peneliti ingin mengetahui apakah gangguan yang lebih tidak langsung di seluruh tubuh, seperti akibat cedera atau infeksi, juga dapat memicu perkembangan tumor.

Tim peneliti memicu kolitis usus, peradangan pada usus pada tikus yang memiliki tulang buatan (ekstramedular) yang menampung sel-sel metastasis dorman.
“Karena tulang buatan tersebut merespons sistem kekebalan tubuh, peradangan usus memicu produksi sel kekebalan yang cepat dari tulang itu,” jelas Malanchi.
Lingkungan sumsum tulang perlu melakukan perombakan untuk meningkatkan produksi sel kekebalan baru, dan ternyata perubahan ini berdampak besar pada sel-sel kanker yang dorman.
Semakin banyak sel kanker mulai bereplikasi, sehingga meningkatkan risiko terbentuknya tumor.
Melalui analisis gen yang aktif dalam sel tulang dan sel kanker, tim menunjukkan bahwa molekul perangsang pertumbuhan sel bernama HMGB2 meningkat seiring lonjakan produksi sel kekebalan; molekul ini juga mendorong aktifnya kembali sel-sel kanker yang dorman.
Bahkan tanpa adanya peradangan di bagian tubuh lain, peningkatan kadar HMGB2 di dalam tulang buatan saja sudah cukup untuk memicu lebih banyak sel kanker menjadi aktif, kata Malanchi.
Peneliti juga menganalisis sampel tulang dari pasien kanker payudara atau prostat, HMGB2 ditemukan di area tempat sel kanker sedang aktif membelah diri.
“Semua temuan ini mengisyaratkan bahwa peningkatan produksi sel kekebalan di tulang—sebagai bagian dari respons normal terhadap peradangan—berisiko mengganggu kondisi dormansi tumor, sehingga memicu reaktivasi dan pertumbuhan metastasis,” tandasnya.
Pemantauan infeksi
Malanchi menekankan bahwa situasi ini tidak bersifat mutlak (semua atau tidak sama sekali), di mana peradangan akan selalu memicu kekambuhan.
Menurutnya situasinya bertahap; setiap perubahan sistemik meningkatkan kemungkinan lebih banyak sel metastasis yang aktif kembali.
Studi menunjukkan bahwa pemantauan terhadap infeksi, peradangan, atau cedera di bagian tubuh mana pun pada pasien yang berada dalam masa kritis pasca-remisi dapat menjadi indikator apakah sel-sel dorman tersebut berpotensi aktif kembali.
“Begitu sel kanker aktif bereplikasi, sel-sel tersebut dapat merespons kemoterapi; oleh karena itu, memahami perkembangan yang memengaruhi sumsum tulang dapat membuka jalan bagi intervensi dini,” pungkas Malanchi. (BS)