Berandasehat.id – Henti jantung dan serangan jantung menjadi penyebab hampir separuh dari seluruh kematian petugas pemadam kebakaran saat bertugas di Amerika Serikat.
Para peneliti melaporkan dalam jurnal JACC: Advances bahwa angka kematian akibat masalah jantung saat bertugas terus meningkat selama tiga dekade terakhir.
Menurut para peneliti, pemeriksaan kesehatan tahunan bagi petugas pemadam kebakaran mungkin luput mendeteksi kondisi jantung yang dapat meningkatkan risiko kematian saat mereka menghadapi tekanan fisik yang berat, baik saat memadamkan kebakaran maupun menangani kecelakaan.
“Penelitian kami menunjukkan adanya celah dalam pemeriksaan jantung rutin bagi petugas pemadam kebakaran di Amerika Serikat,” ujar peneliti senior Dr. Alan Kwan dalam sebuah siaran pers.
Kwan merupakan asisten profesor kardiologi di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles.
Contoh, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar kematian tersebut bukan disebabkan oleh penyumbatan arteri, melainkan oleh pembesaran massa otot jantung.

“Ada kemungkinan pedoman kesehatan nasional untuk petugas pemadam kebakaran perlu diperbarui dengan menyertakan pemeriksaan untuk mendeteksi kelebihan massa otot jantung,” kata peneliti Dr. Susan Cheng, kepala bidang kardiologi di Cedars-Sinai, dalam siaran pers tersebut.
“Belum diketahui secara pasti mengapa petugas pemadam kebakaran lebih rentan terhadap kondisi ini, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.”
Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data federal yang mencatat lebih dari 3.400 kasus kematian petugas pemadam kebakaran saat bertugas antara tahun 1990 hingga 2025.
Hasil studi menunjukkan bahwa 43% dari kematian tersebut berkaitan dengan henti jantung atau serangan jantung.
Para peneliti menemukan bahwa meskipun penyumbatan arteri ditemukan pada 57% kasus jantung, pembesaran massa otot jantung justru tercatat pada 79% kasus.
Menurut para peneliti, pelatihan intensif yang dijalani petugas pemadam kebakaran dapat memperbesar otot jantung, yang kemudian mengubah struktur jantung dengan cara yang mungkin menyamarkan atau justru memicu kondisi jantung yang berbahaya.
“Mendeteksi kondisi jantung sejak dini, saat masih bisa ditangani, merupakan kunci untuk merespons temuan baru ini,” kata Kwan.
Selama beberapa dekade, kemungkinan kematian akibat masalah jantung di kalangan petugas pemadam kebakaran yang sedang bertugas meningkat lebih dari 2% setiap tahunnya, sementara di saat yang sama, kemungkinan kematian akibat masalah jantung pada masyarakat umum justru menurun lebih dari 1% per tahun.
“Tren ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan kematian akibat masalah jantung saat bertugas belum mengimbangi aspek keselamatan lainnya bagi petugas pemadam kebakaran,” ujar Kwan.
Studi ini melanjutkan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa gangguan jantung merupakan penyebab utama kematian di kalangan petugas pemadam kebakaran.
Tim peneliti berencana untuk terus mendalami risiko kesehatan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran guna mendukung upaya pencegahan, demikian laporan Healthday. (BS)