Berandasehat.id – Risiko kerusakan tulang atau osteoporosis lebih tinggi pada perempuan karena faktor menopause yang mempengaruhi pertumbuhan tulang, sering kali menyebabkan tulang rapuh, kopong, dan postur tubuh menjadi bungkuk.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengungkap kerusakan tulang dimulai pada usia 50 tahun ke atas, paling berat itu pada usia 70 tahun, dan ebih banyak pada perempuan. “Perempuan kita tahu mengalami pramenopause sebelum menopause, itu akan mempengaruhi pertumbuhan tulang. Ada kejadian patah tulang, atau bungkuk di usia tua, itu karena tulangnya sudah mulai rapuh, kopong begitu, tidak kuat lagi,” ujarnya di sela acara Anlene OsteoWalk 10.000 Langkah Jakarta 2026 di GBK, Minggu (1/11).
Adapun prevalensi osteoporosis biasanya di atas usia 70 tahun mencapai kisaran 50-an persen. “Jadi artinya pada orang yang usia 70 tahun ke atas, risiko untuk terjadi patah tulang atau kerusakan tulang itu di kisaran 50 persen. Satu dari dua orang pasti akan mengalami osteoporosis. Kalau usia 50 sampai 70 tahun itu sekitar 25 persen yang mengalami osteoporosis,” ujar dr. Nadia.
Masalahnya, kadang-kadang osteoporosis tidak ada gejalanya sama sekali, tiba-tiba tulangnya kopong, rapuh, dan kemudian retak. Untuk mencegah osteoporosis, Kementerian Kesehatan fokus pada penanganan hulu.
“Artinya bagaimana promotif dan preventif itu lebih diutamakan. Kita ingin Indonesia yang banyak sinar matahari, sumber vitamin D-nya banyak dari berbagai makanan dan bisa ditambahkan juga dari minuman seperti susu dan lainnya yang banyak mengandung vitamin D, itu bisa kita optimalkan untuk mencegah dan menjaga kesehatan tulang,” cetusnya.
Untuk itu, Kemenkes berupaya selalu melakukan edukasi, membangun awareness masyarakat, salah satunya dengan lmenggiatkan lari 5K, 3K, ataupun maraton. “Tapi ingat bahwa tulang kita harus dijaga karena lari itu sangat bergantung juga pada kekuatan tulang,” beber dr. Nadia seraya menambahkan untuk mengetahui kekuatan tulang bisa dilakukan dengan peminadaian kepadatan massa tulang.
Kesempatan sama, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PB PEROSI) Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR, M.S(K), patah tulang biasanya terjadi pada usia lanjut. Kalau hal ini dibiarkan patah tulang ini terjadi, berikutnya akan ada patah tulang lagi.
“Kalau sudah terjadi patah tulang, apa yang akan terjadi? Artinya aktivitas sehari-harinya pun akan terganggu, kemudian kualitas hidupnya pun akan menurun. Jadi dengan ini, dengan adanya OsteoWalk, dengan OsteoRun ini menjadi salah satu komitmen agar kita tetap aktif,” ujarnya.

Untuk menjaga tulang tetap kuat sampai usia senja, harus dioptimalkan melalui aktivitas fisik seperti berjalan, latihan keseimbangan, latihan kekuatan otot, serta asupan nutrisi dan gaya hidup yang baik. “Itu yang diharapkan dari tata laksana osteoporosis,” imbuh dr. Tirza.
Olahraga yang disarankan untuk lansia adalah weight bearing, tetapi bukan high impact. “Jadi jangan yang lari, sebaiknya bisa dengan berjalan, moderate intensity. Jalan sesuai kemampuan, yang nyaman buat kita,” terangnya.
Untuk mencegah osteoporosis atau minimalkan kejadian patah tulang dapat dilengkapi dengan minum susu mengandung kalsium, vitamin D, dan protein dalam jumlah cukup.
Apakah setiap individu harus mencapai 10.000 langkah? Menurut dr. Tirza, untuk mencapai tahapan itu harus ada stress test. “Kita harus tahu dulu berapa tingkat kebugarannya, uji keseimbangan, kekuatan, baru diberikan latihan. Jadi 10.000 langkah itu dianggap suatu motivasi, tapi bukan keharusan. Ada orang yang sanggup 7.000 saja, itu ada evidence based sudah meningkatkan masa tulang,” ujarnya.
Jalan kaki sebaiknya rutin dilakukan setiap hari, tapi kalau bukan atlet atau sifatnya rekreasional bisa dilakukan tiga kali seminggu. (BS)