Berandasehat.id – Kereta api, pesawat terbang, dan kendaraan bermotor semuanya menimbulkan risiko jangka panjang bagi kesehatan jantung.

Para peneliti melaporkan dalam pertemuan American Heart Association (AHA) di Chicago bahwa tingkat kebisingan transportasi yang tinggi hingga masuk ke dalam rumah dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung.

Studi terbaru menemukan bahwa kebisingan tetap menjadi ancaman bagi kesehatan jantung, bahkan pada orang yang tidurnya tampak tidak terganggu oleh kebisingan tersebut.

“Kami menduga bahwa gangguan tidur akan memengaruhi hubungan antara paparan kebisingan dan penyakit jantung,” ujar peneliti utama Dr. Joseph Nguyen, dokter residen penyakit dalam di Massachusetts General Hospital, Boston, dalam siaran pers.

“Namun, cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa kualitas tidur ternyata tidak berperan sama sekali.”

Menurut catatan latar belakang penelitian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap kebisingan sebagai risiko kesehatan masyarakat dan telah menetapkan batas paparan kebisingan.

Dalam studi baru ini, para peneliti menganalisis rekam medis dan data gaya hidup dari lebih dari 100.000 orang dewasa.

Sebuah perangkat dari Departemen Transportasi AS digunakan untuk menentukan tingkat kebisingan harian rata-rata yang dialami setiap orang akibat mobil, truk, bus, pesawat terbang, dan kereta api.

Tim peneliti secara khusus mengamati tingkat kebisingan rata-rata di atas 45 hingga 50 desibel, setara dengan suara hujan atau aktivitas mengetik di papan ketik.

Mereka mencatat bahwa tingkat kebisingan rata-rata tidak sepenuhnya mencerminkan seberapa tinggi polusi suara yang sebenarnya bisa terjadi.

“Penting untuk dicatat bahwa tingkat kebisingan dalam kumpulan data kami merupakan rata-rata selama 24 jam, bukan tingkat kebisingan puncak yang bisa jauh lebih tinggi,” kata Nguyen dikutip Healthday.

Contoh, stasiun kereta bawah tanah memiliki tingkat kebisingan rata-rata sekitar 75 desibel saat kondisi sepi, namun bisa melonjak hingga lebih dari 100 desibel saat kereta tiba atau berangkat.

Para peneliti menemukan bahwa sekitar sepertiga dari peserta terpapar kebisingan transportasi dengan tingkat di atas 50 desibel, sementara 55% terpapar kebisingan di atas 45 desibel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan kebisingan dari transportasi di atas 50 desibel dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 8% hingga 10% terhadap faktor-faktor risiko penyakit jantung, seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

“Meskipun analisis utama kami fokus pada jumlah faktor risiko yang muncul, bukan pada faktor risiko spesifik mana yang paling terdampak, saat menganalisis faktor-faktor risiko tersebut secara individual, hubungan terkuat terlihat pada kolesterol tinggi, diikuti oleh tekanan darah tinggi, dan kemudian diabetes,” ujar Nguyen.

Paparan kebisingan yang melebihi 50 desibel juga dikaitkan dengan peluang lebih besar terjadinya serangan jantung, stroke, atau kondisi darurat kesehatan jantung lainnya.

Para peneliti menyatakan bahwa hubungan antara kebisingan dan kesehatan jantung ditemukan serupa, baik pada orang yang mendapatkan waktu tidur ideal selama 7 hingga 9 jam per malam maupun pada mereka yang didiagnosis menderita gangguan tidur.

Nguyen mengatakan bahwa hasil ini menegaskan pentingnya membatasi paparan kebisingan.

Mereka yang terpapar kebisingan sebaiknya mempertimbangkan strategi untuk mengurangi tingkat kebisingan, seperti memasang dinding, jendela, dan pintu yang lebih kedap suara di rumah.

Upaya lain adalah menempatkan kamar tidur di area yang paling tenang, menanam pepohonan atau vegetasi yang rimbun di halaman untuk meredam suara, serta menggunakan penyumbat telinga saat tidur.

Juru bicara AHA, Dr. Keith Churchwell, profesor madya di bidang kedokteran dari Vanderbilt University di Nashville, mengatakan bahwa studi ini menambah bukti yang terus berkembang bahwa faktor lingkungan, seperti polusi udara, kebisingan, cahaya buatan, polutan kimia, dan peristiwa terkait iklim, dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung serta kematian di seluruh dunia.

“Menciptakan kebijakan yang lebih kuat untuk mengurangi paparan lingkungan yang merugikan, serta membangun infrastruktur berkelanjutan yang mengutamakan kesejahteraan, akan membantu kita mengatasi masalah lingkungan ini, meningkatkan kesehatan jantung, dan menciptakan komunitas yang lebih sehat serta berkelanjutan bagi anak-anak kita dan generasi mendatang,” kata Churchwell, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Temuan yang dipresentasikan dalam pertemuan medis harus dianggap sebagai hasil awal sampai diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang melalui proses penelaahan sejawat. (BS)