Berandasehat.id – Menurut sebuah studi baru dari National Institutes of Health (NIH) AS, perempuan yang memiliki kadar dua jenis zat PFAS (bahan kimia abadi) tinggi dalam darah lebih rentan terkena kanker payudara estrogen receptor-negative (ER- negatif).
PFAS merupakan kelompok besar bahan kimia yang digunakan dalam berbagai produk konsumen sehari-hari. Sering disebut sebagai ‘bahan kimia abadi’ PFAS tidak mudah terurai di lingkungan dan dapat bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun.
Studi yang telah dipublikasikan di Journal of Clinical Oncology menemukan bahwa kadar dua zat ini, asam perfluorooktanoat (PFOA) dan asam perfluorooktanasulfonat (PFOS), yang lebih tinggi dalam plasma darah, berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker payudara ER-negative.
Namun, tidak ditemukan hubungan yang jelas antara kedua bahan kimia tersebut dengan risiko kanker payudara secara keseluruhan.
“Perempuan berhak mendapatkan jawaban yang jelas mengenai bagaimana bahan kimia di lingkungan mereka dapat memengaruhi kesehatan mereka,” ujar Menteri HHS, Robert F. Kennedy Jr dikutip MedicalXpress.
Studi NIH ini mengaitkan dua ‘bahan kimia abadi’ dengan risiko kanker payudara ER-negative yang lebih tinggi, sehingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Tumor ER-negatif tidak memiliki reseptor yang memungkinkan hormon estrogen membantu pertumbuhan sel kanker. Dibandingkan dengan jenis kanker payudara yang merespons hormon estrogen, kanker payudara ER-negatif cenderung lebih agresif dan memiliki prognosis yang lebih buruk.

Saat ini, belum banyak yang diketahui mengenai faktor-faktor yang meningkatkan risiko jenis kanker payudara ini.
Temuan studi terkini, yang juga dikonfirmasi melalui meta-analisis terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa jenis PFAS tertentu, termasuk PFOA dan PFOS, berkaitan dengan risiko lebih tinggi terkena kanker payudara ER-negatif. Ini adalah jenis tumor yang lebih agresif dengan faktor risiko yang masih sangat terbatas, menurut Alexandra White, Ph.D., peneliti Stadtman di NIH yang memimpin studi tersebut.
Para peneliti NIH beserta kolaboratornya mengukur kadar 17 jenis PFAS dalam sampel darah yang diambil bertahun-tahun sebelum para perempuan tersebut didiagnosis menderita kanker.
Kelompok perempuan dengan kadar PFOA tertinggi memiliki tingkat kanker payudara ER-negatif 67% lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan kadar terendah. Untuk PFOS, tingkatnya 93% lebih tinggi, atau hampir dua kali lipat.
Angka-angka ini menggambarkan perbedaan relatif antar kelompok, bukan peluang seorang perempuan secara individu untuk terkena kanker payudara.
Penelitian ini menggunakan data dari Sister Study yang dipimpin oleh National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS) di bawah NIH. Studi berskala lebih besar ini melibatkan 50.884 perempuan berusia 35–74 tahun di Amerika Serikat dan Puerto Riko antara tahun 2003 hingga 2009.
Tidak satu pun dari mereka mengidap kanker payudara saat bergabung dengan Sister Study
, namun masing-masing memiliki saudara perempuan (kandung atau tiri) yang sebelumnya telah didiagnosis menderita kanker payudara. Untuk studi mengenai PFAS ini, para peneliti menyertakan 1.609 perempuan yang kemudian terkena kanker payudara serta kelompok pembanding yang terdiri dari 2.269 perempuan.
“Temuan ini penting bagi kesehatan perempuan secara luas,” ujar penulis utama Che-Jung Chang, Ph.D., mantan peneliti di NIH yang kini bekerja di DLH, sebuah organisasi penelitian ilmiah.
“Meskipun PFAS bersifat persisten (bertahan lama) di lingkungan maupun di dalam tubuh kita, paparan terhadap zat ini masih mungkin untuk diubah; artinya, seseorang dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi paparannya. Temuan ini pun dapat membuka peluang baru untuk upaya pencegahan.”
Karena kaitan terkuat ditemukan pada jenis tumor yang tidak memiliki reseptor hormon, para penulis menduga bahwa PFAS mungkin memengaruhi risiko kanker melalui jalur biologis lain yang bersifat bukan hormonal. Jalur yang mungkin terlibat mencakup perubahan dalam aktivitas gen atau sistem kekebalan tubuh.
Namun, studi ini tidak menguji penjelasan tersebut. Para penulis menyarankan agar penelitian di masa depan mengevaluasi individu dengan tingkat paparan PFAS yang lebih tinggi, serta kelompok yang lebih rentan terhadap kanker payudara ER-negatif.
Meskipun sebagian besar orang memiliki kadar PFOA dan PFOS yang dapat terukur di dalam tubuh mereka, penggunaan senyawa-senyawa ini sebagian besar telah dihentikan secara bertahap dan digantikan oleh senyawa PFAS jenis baru.
Diperlukan lebih banyak penelitian, khususnya untuk mengevaluasi risiko kanker payudara yang dikaitkan dengan bahan kimia PFAS pengganti yang lebih baru, tandas White. (BS)