Berandasehat.id – Memasuki masa menopause, tubuh mengalami penurunan kadar hormon estrogen secara drastis.
Menurut dr. Astrid Yunita, Sp. O.G, Subsp. Urogin Re, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi RS Pondok Indah, estrogen memiliki peran krusial dalam menjaga elastisitas, ketebalan, serta aliran darah di area vagina dan jaringan penyokong dasar panggul.
“Ketika estrogen berkurang, jaringan ikat mengalami penurunan kualitas kolagen, otot melemah, dan terjadi kekeringan jaringan, yang memicu berbagai masalah seperti kelonggaran, prolaps organ panggul, hingga gangguan berkemih,” ujar dr. Astrid dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Area panggul memiliki struktur otot dan jaringan ikat yang berfungsi menyangga organ panggul, mengontrol saluran kemih dan buang air besar, serta mendukung fungsi seksual.
Namun, seiring bertambahnya usia, struktur ini dapat mengalami disfungsi (pelvic floor dysfunction). Kondisi ini terjadi akibat akumulasi tekanan dan berbagai faktor risiko melebihi kapasitas jaringan panggul dan menyebabkan berbagai masalah.
Adapun beberapa faktor risiko utama yang mempercepat kelemahan jaringan dasar panggul antara lain aktor usia dan proses penuaan, riwayat kehamilan dan persalinan, faktor genetik, serta riwayat pembedahan seperti pengangkatan rahim.
Cedera pada dasar panggul, peningkatan tekanan dalam rongga perut dan kebiasaan mengejan akibat konstipasi, aktivitas fisik yang berat, obesitas, hingga riwayat nyeri punggung kronis juga berpotensi mempercepat kelemahan jaringan dasar panggul.

Sejumlah wanita mungkin mengalami prolaps di masa menopause. Ciri-ciri rahim turun (prolaps) termasuk rasa berat atau tekanan di area panggul, benjolan di vagina, nyeri punggung bawah, sering ingin buang air kecil, atau kesulitan buang air besar.
“Gejala lain bisa berupa nyeri saat berhubungan intim dan kelelahan pada area panggul,” imbuhnya.
Jika mengalami gejala prolaps organ panggul, dr. Astrid menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis uroginekologi rekonstruksi.
Tetap sehat di masa menopause
Selain penanganan medis, kesehatan urogenital di masa menopause dapat diantisipasi melalui perubahan gaya hidup, antara lain:
1. Menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi cairan yang cukup (sekitar 1,5–2 liter per hari) untuk mendukung kelembapan mukosa dan kesehatan saluran kemih.
2. Konsumai makanan antiradang seperti asam lemak omega-3, serta makanan tinggi fitoestrogen (seperti produk kedelai dan biji-bijian) untuk membantu menjaga keseimbangan jaringan tubuh.
3. Batasi makanan atau minuman yang bersifat mengiritasi kandung kemih, seperti kafein berlebih, makanan sangat pedas, dan alkohol.
4. Melatih kekuatan otot panggul secara konsisten untuk mencegah risiko turun peranakan dan gangguan berkemih. (HG)