Bikin Pandemi Parah Saat Ini, COVID-19 Diprediksi Nantinya Hanya Sebabkan Pilek

Berandasehat.id – Virus yang memicu pandemi COVID-19 dan membuat jutaan korban meninggal dalam kurun setahun ini diprediksi kuat hanya akan menjadi gangguan penyebab pilek biasa dalam 10 tahun ke depan, demikian menurut sebuah studi baru.

Peneliti menekankan bahwa proyeksi tersebut didasarkan pada model matematika, dan bukan prediksi bola kristal. Tetapi, mengingat apa yang diketahui tentang tanggapan kekebalan manusia terhadap SARS-CoV-2 — virus yang menyebabkan COVID-19 — ada kemungkinan patogen itu akan menjadi sekadar virus corona musiman.

“Gelombang pertama mengerikan karena orang-orang memiliki virus yang belum pernah ada orang yang sebelumnya terpapar,” kata Fred Adler, peneliti senior dalam studi tersebut.

Tetapi karena semakin banyak orang yang terpapar oleh virus itu sendiri atau melalui vaksin, sistem kekebalan manusia akan beradaptasi, dan tingkat keparahan COVID-19 bisa menurun, kata Adler. Ketika orang memiliki kasus ringan, jelasnya, mereka cenderung “melepaskan” lebih sedikit virus, yang berarti lebih sedikit partikel infeksius yang dapat ditularkan ke orang lain.

“Dengan kata lain, kasus ringan dapat menyebabkan kasus ringan lainnya,” kata Adler, profesor matematika dan ilmu biologi di Universitas Utah di Salt Lake City.

Gagasan bahwa SARS-CoV-2 dapat bergabung dengan jajaran virus flu biasa bukanlah hal baru. Studi pemodelan lain telah menunjukkan kemungkinan itu. “Dan faktanya, ada kemungkinan preseden historis untuk skenario itu,” imbuh Adler.

Beberapa virus corona telah lama beredar di antara manusia, biasanya menyebabkan hal yang tidak lebih buruk dari flu, bahkan bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali. Melalui analisis genetik, para peneliti telah menemukan bahwa salah satu dari virus corona itu — disebut OC43 — mungkin telah berpindah dari sapi ke manusia pada tahun 1880-an, menurut Adler. “Waktu itu menarik,” ujarnya, “karena pandemi yang dikenal sebagai “flu Rusia” melanda dunia mulai tahun 1889, yang akhirnya menewaskan sekitar 1 juta orang.”

Sesuai namanya, penyakit itu dianggap influenza. Tapi, kata Adler, bukti menunjukkan bahwa itu mungkin sebenarnya disebabkan oleh virus corona pelompat spesies — yang kemudian hanya menjadi gangguan musiman.

Untuk studi teranyar yang diterbitkan di jurnal Viruses, Adler dan rekannya membuat model matematika menggunakan bukti respons kekebalan manusia terhadap SARS-CoV-2. Satu bagian adalah fakta bahwa kemungkinan ada “respons dosis” antara paparan virus dan tingkat keparahan COVID-19: Paparan partikel virus yang lebih sedikit berarti kasus yang lebih ringan. 

Banyak orang, melalui infeksi atau vaksinasi sebelumnya, akan mempertahankan beberapa tingkat kekebalan yang melindungi mereka dari COVID parah sambil membatasi pelepasan partikel virus mereka.

Adler mengatakan “komponen kunci” lain terkait dengan anak-anak: Jelas mereka biasanya hanya sakit ringan karena COVID-19. Jadi, bahkan saat bayi lahir, dan ada populasi yang baru terpapar SARS-CoV-2, mereka mungkin hanya menjadi sumber infeksi ringan, atau infeksi rendah.

Bersama-sama, faktor-faktor tersebut dapat mendorong SARS-CoV-2 menuju “avirulensi” menjadikannya hanya virus corona biasa dalam 10 tahun ke depan. “Harapannya, kita tidak lagi membutuhkan vaksin,” ujar Adler.

Lintasan itu mungkin, tetapi begitu juga yang lain, kata Jeffrey Shaman, seorang profesor ilmu kesehatan lingkungan di Columbia University Mailman School of Public Health di New York City, yang meninjau temuan tersebut.

Alih-alih hanya menjadi virus corona “lemah” Shaman mengatakan, SARS-CoV-2 mungkin berkembang menjadi sesuatu seperti flu musiman: relatif ringan pada kebanyakan orang, tetapi menyebabkan rawat inap dan kematian di antara orang tua dan mereka dengan kondisi medis tertentu.

Shaman memperingatkan bahwa studi saat ini adalah eksplorasi tentang bagaimana hal ini bisa terjadi  dan tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. “Sayangnya,” katanya, “kita harus menjalaninya.”

Satu statistik penting untuk dipantau, menurut Shaman, adalah proporsi orang yang didiagnosis COVID yang meninggal karenanya. Sampai saat ini masih banyak yang belum diketahui, termasuk lamanya perlindungan dari vaksinasi dan infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya. Ada juga varian baru dan lebih menular yang muncul saat pandemi berlarut-larut.

Namun, kata Adler, bukan hanya virus yang berubah: Sistem kekebalan manusia belajar dan beradaptasi — seperti yang digarisbawahi oleh prinsip di balik vaksinasi. Adler mencatat bahwa ada lebih dari 100 rhinovirus yang bermutasi secara konstan namun menyebabkan hidung meler dan batuk. 

Apa yang akan menjadi kunci tentang varian SARS-CoV-2 apapun, adalah apakah mereka cukup berbeda secara signifikan untuk menipu sistem kekebalan kita. “Orang-orang ingin tahu: Kapan kita bisa berhenti mengkhawatirkan hal ini?” kata Adler. “Kami tidak tahu. Saya berharap ini akan menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengganggu kehidupan kita.” (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s