Waspadai Kadar Gula Darah Tinggi di Masa Kehamilan Bisa Bahayakan Janin, Kenali Cara Pencegahannya

Berandasehat.id – Hormon insulin tak hanya bertugas untuk memetabolisme gula. Tapi juga berpengaruh terhadap sistem hormon tubuh yang dibutuhkan oleh sistem reproduksi wanita. Akibat insulin yang tidak melakukan fungsinya dengan baik, keadaan hormon di dalam tubuh menjadi tidak seimbang sehingga proses pematangan sel telur juga akan mengalami gangguan.

“Kadar insulin tinggi juga akan ganggu pematangan telur sehingga sulitkan pembuahan kehamilan”

Salaj satu kondisi terganggunya hormon pada wanita, misalnya sindrom ovarium polikistik (PCOS) bukan hanya menyulitkan kehamilan, namun juga memicu masalah diabetes. Dikutip dari laman WebMD, wanita yang didiagnosis PCOS memiliki sel telur berukuran kecil, sehingga mengalami gangguan ovulasi atau pematangan sel telur. Akibatnya, mayoritas wanita akan sulit hamil.

Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp.OG(K), M.Sc, dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan endokrin dan fertilitas mengatakan kadar hormon insulin tinggi akan mempengaruhi proses pematangan sel telur di indung telur.  “Kadar insulin tinggi juga memicu gangguan haid, siklusnya berubah. Salah satu fungsi menstruasi adalah untuk persiapan telur matang dan siap dibuahi. Kadar insulin tinggi juga akan ganggu pematangan telur sehingga sulitkan pembuahan kehamilan,” ujar Kanadi di sela-sela temu media menandai peluncuran Endocrine Center RSU Bunda Jakarta, Rabu (26/5).

Kanadi mengingatkan, di masa pandemi perempuan rentan mengalami penambahan berat badan yang mengarah ke obesitas akibat pola makan kalori tinggi dan kurang aktivitas. Hal ini perlu diwaspadai karena sejumlah alasan. “Kenaikan berat badan akan membuat massa jaringan lemak akan bertambah. Hal ini dapat mempengaruhi kerja hormon insulin. Akibatnya, orang bisa masuk ke kondisi pradiabetes yang ditandai dengan kadar insulin tinggi meski gula darah masih terhitung normal,” beber Ketua Tim Endokrin Bunda Medik Healthcare System ( BMHS).

Berat badan berlebih berpeluang menggagalkan sel telur melepaskan telur matang agar bisa dibuahi sperma. “Kondisi ini bisa diterapi, namun jika hanya merawat soal pematangan sel telur dan mengabaikan faktor lain, maka bila terjadi kehamilan bisa saja bermasalah,” imbuh Kanadi. 

Hormon Insulin dan Diabetes Kehamilan

Kanadi menambahkan, kasus gangguan pra-konsepsi (pra-pembuahan) dengan kelainan metabolik yang tidak tertangani bisa pengaruhi ibu dan janin saat hamil. Di masa kehamilan, tubuh ibu akan menyesuaikan, misalnya makanan yang diasup ibu akan dibagi dengan janin yang dikandungnya. Selain itu, proses fisiologi yang terjadi di masa kehamilan akan memicu ibu hamil mengalami diabetes kehamilan (diabetes gestasional). “Jika kondisi ini tak diatasi dengan baik maka kadar gula akan naik signifikan, yang berdampak negatif pada ibu dan janin. Diabetes kehamilan yang tidak terkendali akan picu hipertensi kehamilan yang berpotensi memicu preeklampsia,” jelas Kanadi.

Preeklampsia merupakan kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urin. Kondisi ini harus lekas ditangani untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklampsia  yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin.

Di kesempatan yang sama dokter spesialis anak Dr. dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A(K) , menjelaskan diabetes kehamilan yang dialami ibu dapat membahayakan janin hingga ia dilahirkan. “Pada ibu haml yang mengidap diabetes, janin akan menerima kadar gula darah tinggi sehingga janin dipaksa memproduksi insulin yang tinggi. Saat dilahirkan, pasokan glukosa darah dari ibu melalui plasenta diputus, sehingga terjadi hipoglikemia pada bayi. Akibatnya, bayi bisa kejang saat lahir,” ujar Nanis.

Bayi dianggap mengalami hipoglikemia bila kadar gula darah pada 24 jam pertama kehidupan newborn (bayi baru lahir) hanya 30 mg/dL dan kurang dari 45 mg/dL.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam  konsultan endokrin metabolik dan diabetes, dr. Sebastian Jobul, Sp.PD, KEMD, menambahkan penyebab diabetes gestasional belum sepenuhnya diketahui. “Namun ada sejumlah faktor yang dicurigai berkontribusi memicu kondisi ini, misalnya kegemukan dan kurang aktivitas, ada juga dugaan hal ini merupakan faktor keturunan,” ujarnya.

Seorang ibu yang melahirkan bayi dengan berat di atas 4 kg, besar kemungkinan di kehamilan selanjutnya dia akan mengalami diabetes kehamilan. Diabetes gestasional ini bisa hilang setelah kehamilan, atau sebaliknya menetap menjadi diabetes melitus tipe 2. “Lakukan pengecekan setelah persalinan untuk monitor gula darah. Jadi kalau kadar gula darah tinggi bisa dilakukan terapi agar tak berlanjut menjadi diabetes yang menetap,” pungkas Sebastian. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s