Hati-hati, Hipertensi Intai Milenial Kerap Muncul Tanpa Gejala

Berandasehat.id – Hipertensi alias tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang tak bisa dianggap remeh. Mendapat julukan silent killer, penyakit ini kerap terjadi tanpa keluhan dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi.  Ironisnya, prevalensi hipertensi selama ini dianggap hanya terjadi di kalangan pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun beberapa tahun terakhir, penyakit yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner itu sering ditemui pada usia yang relatif lebih muda.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34%.

Dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah dr. Badai Bhatara Sp.JP, FIHA, MM, mengatakan hipertensi akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sampai dua kali, risiko gagal jantung satu setengah kali dan stroke dua koma enam kali lipat “Kita harus menumbuhkan kesadaran diri untuk melakukan cek kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin, dan mencegah serta mengendalikan hipertensi dengan memodifikasi gaya hidup seperti rajin berolahraga juga membatasi asupan garam,” ujar Badai, staf di divisi prevensi dan rehabilitasi, departemen kardiologi dan kedokteran vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung di acara webinar “Cegah dan Kendalikan Hipertensi dengan Tepat untuk Hidup Sehat Lebih Lama” yang dihelat PT OMRON Healthcare Indonesia, baru-baru ini.

Patut dicatat, hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner. Menurut Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin,hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang tidak hanya bisa menyerang mereka yang lanjut usia tetapi juga bisa menyerang generasi muda atau milenial.

“Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung ini berhubungan erat dengan pola atau gaya hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, rendahnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula garam dan lemak,” ujarnya.

Untuk diketahui, meningkatnya prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat, stres, dan kemajuan teknologi yang mengurangi aktivitas fisik. Stres dipicu oleh banyak faktor seperti tuntutan pekerjaan, selain juga pandemi COVID-19. Studi Blue Cross Blue Shield Association menemukan bahwa 92 persen milenial menganggap COVID-19 telah berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka.

Hipertensi patut diwaspadai sebagai komorbid atau penyakit penyerta teratas yang mengikuti penderita COVID-19. Menurut data yang dihimpun oleh Satuan Tugas Penanganan COVID- 19 per 1 Juni 2021, tiga besar komorbid tertinggi yang ditemukan pada pasien COVID-19 adalah hipertensi (50%), Diabetes Melitus (36.6%), penyakit jantung (17,4%). 

Selain menghindari pola hidup tidak sehat, masyarakat diimbau melalukan pengukuran tekanan darah secara rutin sehingga bisa mencegah atau setidaknya dan mengendalikan hipertensi. Pemantauan tekanan darah bisa dilakukan secara mandiri di rumah dengan menggunakan alat monitor tekanan darah yang sesuai untuk penggunaan di rumah dengan akurasi tinggi, dan nyaman digunakan. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s