RS Kekurangan Oksigen, Ini Langkah untuk Penuhi Pasokan

Berandasehat.id – Vaksin COVID-19 dipandang sebagai harapan utama untuk memutus siklus penguncian ekonomi dalam pandemi yang telah menewaskan hampir empat juta orang, menurut kompilasi data resmi AFP. Tetapi kekhawatiran telah muncul bahwa suntikan yang awalnya dianggap memberikan perlindungan tinggi terhadap virus mungkin tidak begitu efektif melawan varianDelta yang ganas dan jauh lebih menular.

Israel memperingatkan awal pekan ini bahwa kasus yang cenderung melonjak menunjukkan suntikan vaksin Pfizer/BioNTech yang digunakannya mungkin tidak melindungi dengan baik terhadap penyakit ringan, bahkan jika sangat efektif dalam mengurangi penyakit parah dan mencegah rawat inap.

Di Indonesia, gelombang COVID-19 yang mengerikan telah membuat rumah sakit bertekuk lutut, memaksa keluarga yang putus asa untuk mencari tangki oksigen untuk merawat orang sakit dan sekarat di rumah. Hampir 1.000 pekerja medis Indonesia telah meninggal karena COVID-19, termasuk lebih dari selusin yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap (dua dosis).

Pemerintah mengatakan akan mengimpor sekitar 10.000 konsentrator — perangkat yang menghasilkan oksigen — dari Singapura. Beberapa sudah diterbangkan dengan pesawat kargo Hercules. Pemerintah Indonesia mengatakan juga sedang dalam pembicaraan dengan negara lain, termasuk Cina, untuk pengadaan oksigen.

Menteri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia. Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia diprediksi bakal menghadapi 70.000 per hari. “Tapi kami berharap itu tidak akan terjadi,” ujarnya.

Terkait kelangkaan tabung oksigen, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam Dialog Produktif yang digelar Rabu (7/7), mengatakan saat ini Indonesia menghadapi situasi yang tidak biasa. Virus varian Delta yg sangat mendominasi genome sequencing terbukti menimbulkan kecepatan penularan 5-8 kali lebih cepat. “Dengan naiknya kasus positif luar biasa, maka tidak mudah memenuhi sarana dan prasarana yang ada. Jika dalam situasi normal umumnya faskes membutuhkan tabung oksigen 6 ton per hari, namun dalam kondisi sekarang, jumlah itu berlipat menjadi 3 ribu ton per hari,” ujarnya. 

Nadia menekankan, dalam waktu 2-3 minggu tidak mudah antisipasi kenaikan itu. Namun tetap ditempuh upaya perbaikan untuk memenuhi permintaan, salah satunya dengan konversi gas mencapai 50% untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam 3-4 minggu ke depan. Selain itu sejumlah perusahaan BUMN seperti Krakatau Steel, Pusri dan Petrogas didorong untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen medis. “Selain dari dalam negeri, kebutuhan oksigen medis akan dipasok dari pasar impor (Cina dan Singapura),” bebernya.

Pemerintah juga akan melakukan penguatan distribusi tabung oksigen. Jika biasanya distribusi dalam 2-3 har, kini setiap 12 jam akan disuplai ke daerah yang membutuhkan tabung oksigen medis. Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak menimbun tabung oksigen di luar kebutuhan. Selain itu, terapi oksigen pasien COVID-19 tidak dianjurkan di rumah. “Jika pasien positif COVID-19 merasa sesak saat melakukan isolasi mandiri, maka harus selekasnya  datang ke faskes terdekat agar bisa segera ditolong. Datang ke fasyankes dalam kondisi sesak ringan jauh lebih baik daripada saat sesaknya lebih berat,” tandasnya.

Lonjakan Kasus di Rusia dan Inggris

Rusia, yang juga berjuang melawan lonjakan kasus, pada Selasa (6/7) melaporkan rekor nasional baru 737 kematian selama 24 jam terakhir. Dan wilayah Catalonia Spanyol mengatakan akan memberlakukan kembali pembatasan untuk mengendalikan virus seperti menutup klub malam, dan menjinakkan lonjakan infeksi, terutama di kalangan anak muda yang tidak divaksinasi.

Inggris juga melihat lonjakan kasus baru dan telah memperingatkan bahwa infeksi bisa lebih dari tiga kali lipat menjadi 100.000 per hari. Tetapi meskipun varian Delta sekarang menyumbang hampir semua kasus COVID-19 baru di Inggris, vaksinasi massal telah menghentikan lonjakan yang dihasilkan dalam penerimaan atau kematian di rumah sakit.

Perdana Menteri Boris Johnson mengumumkan berakhirnya sebagian besar pembatasan untuk kendalikan virus di Inggris. Mulai 19 Juli, orang tidak lagi harus memakai masker atau menjaga jarak sosial di dalam ruangan.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti bahwa negara-negara yang membuka kembali kuncian memiliki sumber daya untuk vaksinasi massal guna mengurangi lonjakan infeksi. “Sementara itu, negara-negara tanpa akses ke pasokan vaksin yang cukup menghadapi gelombang rawat inap dan kematian,” tambahnya.

Secara terpisah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan penggunaan inhibitor IL-6 selain kortikosteroid di antara pasien dengan COVID parah atau kritis, didorong oleh temuan studi baru. Diterbitkan Selasa di Journal of American Medical Association, ditemukan bahwa obat radang sendi tocilizumab dan sarilumab mengurangi risiko kematian dan kebutuhan akan ventilator di antara pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Hal itu didasarkan pada analisis terhadap hampir 11.000 pasien. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s