Kenali Tanda dan Gejala Long COVID, Bisa Berdampak di Multi-Organ

Berandasehat.id – Pada sebagian besar orang yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan, isolasi mandiri selama 10-13 hari mungkin cukup. Anosmia atau hilang penciuman kembali pulih, dan kehidupan kembali berjalan normal. Namun tidak demikian pada sebagian lain.

Meskipun kebanyakan orang yang terinfeksi COVID sembuh sepenuhnya dalam beberapa minggu, tidak lama setelah pandemi dimulai, dokter mulai melihat pasien yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membaik atau tampaknya tidak membaik sama sekali. Orang-orang ini disebut “long haulers’ atau mengalami Long COVID. Beberapa nama lain telah digunakan untuk menggambarkan fenomena ini, termasuk: gejala sisa pasca-akut SARS-CoV2 (PASC), atau sindrom pasca-COVID.

Dr Mark Kortepeter, seorang dokter penyakit menular dan kesehatan masyarakat dan ahli biodefense membahas tanda dan gejala umum yang dialami beberapa korban COVID pasca mereka sakit dalam tulisan yang dimuat di Forbes.

Butuh beberapa waktu, tetapi Long COVID kini  diakui sebagai masalah nyata. Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) melacak fenomena yang tidak menguntungkan ini. Untuk kasus ini, CDC menggunakan “kondisi pasca-COVID” guna menjabarkan “berbagai konsekuensi kesehatan yang muncul empat minggu atau lebih” setelah dinyatakan pulih COVID-19.

Kenali Gejala Khas Long COVID

Kortepeter mengakui bahwa konstelasi gejala Long COVID sangat luas, dapat sangat bervariasi antar individu dan bisa mempengaruhi beberapa bagian tubuh yang berbeda. Ini membuatnya sulit untuk didiagnosis, terutama karena tidak ada tes diagnostik sederhana, dan COVID-19 dapat mempengaruhi sebagian besar sistem di tubuh. 

Long COVIDjuga  dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh, seperti yang ditunjukkan oleh gambaran jenis gejala di bawah ini, berdasarkan sistem organ utama:

1. Gejala umum

Kelelahan, sulit tidur, perubahan suasana hati

2. Paru

Sesak napas, batuk, nyeri dada

3. Jantung

Jantung berdebar, detak jantung cepat, pusing setelah berdiri

4. Sistem saraf

Kabut otak (brain fog), yaitu kesulitan berpikir atau berkonsentrasi, sakit kepala, perasaan tertusuk jarum, perubahan bau atau rasa

5. Gastrointestinal/saluran cerna

Diare, sakit perut

Individu yang memiliki penyakit parah atau rawat inap dalam durasi lama juga dapat mengalami gangguan stres pascatrauma.

Long COVID Tidak Unik, Ebola Juga Ada Gejala Sisa

Long COVID adalah fenomena nyata. Dari sudut pandang ilmiah, ini adalah teka-teki. Sejauh ini ahli kesehatan tidak tahu apa penyebabnya atau mengapa virus spesifik ini menyebabkannya. Namun, ini bukan satu-satunya virus yang dapat menyebabkan gejala sisa jangka panjang pada sebagian orang yang terinfeksi. 

Baru-baru ini, kita juga telah melihat efek samping pasca-infeksi kronis dengan virus Ebola. Sebelum wabah Ebola 2014-16 di Afrika Barat, kasus Ebola terjadi di daerah terpencil di Afrika dan tidak banyak yang selamat, jadi para ahli tidak mengenali masalahnya. 

Tetapi wabah Afrika Barat begitu besar sehingga sekarang ada ribuan orang yang selamat, dan banyak dari mereka menderita efek sakit kronis yang memiliki kesamaan dengan efek samping COVID, termasuk nyeri otot dan sendi, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, ruam kulit, dan gangguan penglihatan. Beberapa korban ditemukan menyimpan virus hidup yang bersembunyi di bagian tubuh tertentu (otak, mata, testis). Sejauh ini para ahli tidak mengerti mengapa beberapa memiliki masalah dan yang lain tidak.

Menurut Kortepeter, masalah pasca-infeksi ini tidak terbatas pada virus saja. Perdebatan tentang penyebab dan pengobatan yang tepat untuk individu yang menderita gejala kronis setelah penyakit Lyme (disebabkan oleh bakteri) telah berlangsung selama beberapa dekade. Beberapa infeksi lain dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang setelah seseorang tampaknya pulih dari penyakit akut.

“Jelas semua ini adalah fenomena nyata, tetapi yang membuat frustrasi adalah kita tidak tahu penyebabnya,” ujar Kortepeter. 

Sisi positifnya, lembaga medis sekarang menyadari masalah ini. Upaya penelitian telah dimulai untuk mempelajari individu-individu ini guna mencoba memahami etiologi dan bagaimana mikroba (virus, bakteri) itu melakukannya dari waktu ke waktu. “Jika dapat mengetahui yang satu ini, mungkin kita dapat mengetahui beberapa sindrom pasca infeksi lain yang telah membingungkan,” ujar Kortepeter.

Long COVID Mendorong Perlunya Vaksinasi

Dengan infeksi COVID, kita tahu bahwa faktor-faktor mendasar tertentu mempengaruhi penyakit yang lebih parah (hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes, masalah kekebalan). Tapi ini tidak berlaku untuk Long COVID. Bahkan, seseorang dengan infeksi ringan pun masih bisa mengalami kejadian ini: Memiliki gejala yang tak kunjung hilang. 

Ini seperti fenomena sedotan: Kita tak pernah tahu siapa yang akan mengambil sedotan pendek. Saat pandemi memasuki gelombang baru, terutama di daerah dengan tingkat vaksinasi rendah, Long COVID menjadi alasan kuat untuk segera mendapatkan vaksin COVID.

Jika Anda atau seseorang yang dikenal telah terinfeksi COVID dan mengalami gejala yang berkelanjutan atau belum kembali ke kondisi kesehatan normal, pertimbangkan bahwa itu mungkin gangguan Long COVID. Tanyakan kepada dokter tentang hal itu. 

Kelompok pendukung mereka yang mengalami Long COVID sedang terbentuk. Bergabunglah dengan mereka. Dengan demikian satu sama lain penyandang Long COVID dapat berbagi sumber daya, informasi tentang uji klinis, atau tantangan yang dialami dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s